Bilang Cinta pada Tuhan Tapi Tidak Cinta Sesama, Itu Omong Kosong!

Perumpamaan orang Samaria yang baik, sudah sering kita dengar. Bahkan kita sudah tahu isi pesan itu: cintailah sesamamu. Seperti orang Farisi itu kita dapat bertanya: Siapa sesama saya? Bagi orang Yahudi, sesama ialah orang semarga, sesuku dan sebangsa.

Di luar bangsa Yahudi, yang ada hanya orang kafir yang tidak mengenal Allah, bukan sesama mereka. Siapa sesama kita? Secara sadar kita akan menjawab: semua orang! Secara praktis, biasanya sesama kita adalah orang-orang yang dekat dengan kita. Orang penting, yang kita sayangi, yang kita butuhkan. Orang-orang itu yang biasanya kita perhatikan.

Perumpamaan ini memberi pandangan lain tentang siapa sesama. Imam dan orang Lewi adalah petugas Bait Allah; orang-orang saleh yang sangat paham dalam urusan agama. Tetapi mereka merasa terganggu oleh kurban perampokan itu. Kalau dia mati, maka mereka akan menjadi najis. Maka mereka melewati dia ‘dari seberang jalan’.

Orang Samaria, secara tradisi adalah musuh bebuyutan orang Yahudi. Tetapi orang Samaria itu mau repot-repot menolong kurban perampokan itu. Perumpamaan ini ditutup Yesus dengan pertanyaan: Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?

Siapa sesama bagi si kurban? Bukan siapa sesama bagi imam dan orang Lewi? Juga bukan siapa sesama bagi orang Samaria. Pertanyaan Yesus: Siapa sesama bagi orang yang membutuhkan? Sehingga akhirnya dapat dirumuskan pokok persoalannya: bukan siapa sesama saya; tetapi Saya ini sesamanya siapa?

Hujan deras sudah turun selama dua hari. Seekor ulat kecil yang baru menetas menggigil kedinginan, mencoba mencari tempat berlindung. Selembar daun hijau yang besar menyapanya. “Ulat kecil, kemari lah. Berlindunglah dibalik tubuhku.” Meski sudah mendapat perlindungan dari air hujan, ulat itu tetap gemetar. Dia kelaparan.

“Makan lah tubuhku sedikit, supaya kamu mendapat kekuatan.” Demikian untuk sementara waktu ulat kecil itu berlindung dan mendapat makanan dari daun hijau yang besar itu. Akibatnya tubuh daun hijau itu berlubang-lubang, dimakan ulat itu. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat.

Ketika ulat mengucapkan terima kasih, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana sini namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Daun itu menua, menguning, mengering dan gugur ke tanah. Tetapi sebelum dia gugur, ia sempat melihat ulat itu berubah menjadi kepompong dan akhirnya keluar seekor kupu-kupu yang cantik.

“Ah, aku ternyata memberi makan bidadari,” kenang daun itu dengan puas hati sebelum ia gugur.
Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai hati bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tuli ketika sesamanya berteriak minta tolong.

Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja demi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlubang, Namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita.

Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Itu sebabnya, isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik: kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Dengan menjadi sesama bagi yang membutuhkan, kita mengungkapkan kebaikan Tuhan.

KasihNya melimpah, melampaui kebutuhan kita, sehingga dengan menolong sesama yang membutuhkan, kita tidak kekurangan. Apa lagi jika kita mendapat kurnia seperti daun hijau itu, melihat yang kita tolong tumbuh menjadi lebih baik. Kita boleh bersyukur bahwa kita telah mengasihi Allah dan membantu sesama menemukan Allah.

Dan jika hal itu terjadi, maka kita sudah melaksanakan perintah Yesus: Pergi dan perbuatlah demikian dan kita boleh juga mendengar pesan Yesus kepada kita: Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah. Amin.

MINGGU BIASA 15, C; 14 Juli 2013
Ul. 30:10-14; Kol. 1:15-20; Luk. 10:25-37

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.