Bilamana Pokemon Go Masuk Altar dan Tabernakel

Demam permainan Pokemon Go kini mewabah dimana-mana di seluruh dunia. (Ist)

HARI-hari ini, semua orang di hampir seantero dunia baru kena ‘wabah’ gandrung dengan jenis mainan baru yang lagi ngetren: Pokemon Go. Jenis mainan baru besutan Niantic Labs di AS ini menyuguhkan game play dengan suguhan beberapa adegan battle super seru. Menjadi lebih heboh nian,  karena Pokemon Go ini juga dilengkapi dengan tampilan beberapa monster lucu.  Taruhlah itu Pikachu.

Masalahnya, bagaimana kalau demam Pokemon Go yang kini juga merasuki orang-orang Indonesia ini mulai masuk ke wilayah yang kita anggap sakral? Taruhlah itu gereja.

Pokemon Go Pikachu by istPokemon Go Pikachu by ist

Beberapa netizen sudah menggulirkan pertanyaan penting ini. Setidaknya sikap miris sudah mengemuka, ketika demam Pokemon Go sekali waktu juga akan ‘menguasai’ orang katolik. Kalau disimak dari respons masyarakat dunia terhadap munculnya jenis mainan baru yang memaksa orang harus ‘berburu’ memindai keberadaan mahkluk jelmaan teknologi ini, maka sudah pastilah Pokemon Go juga akan merebut hati orang-orang katolik Indonesia.

Masuk altar dan tabernakel

Nah, bagaimana kalau ‘lokasi’ Pokemon Go ini –misalnya saja—kemudian ditemukan di bagian paling sakral di dalam gedung gereja yakni altar dan terutama dimana hosti suci disimpan di dalam tabernakel?

Ini belum terjadi. Namun juga tidak mustahil, permainan menarik ini akan menyasar lokasi-lokasi dimana kita sendiri bisa jadi tidak pernah sekalipun membayangkan bahwa hal itu memang bisa terjadi demikian. Bagaimana misalnya kalau monster-monster itu “ditaruh” di dalam tabernakel?

Rekan saya Simon Widodo, aktivis Komsos dari Paroki Kristus Raja di Pejompongan, Jakarta Pusat, sudah melontarkan sikap kritisnya. Ia misalnya ingin merespon fenomena mondial yang sedemikian tiba-tiba, namun mampu melahirkan keterkejutan-keterkejutan hebat justru karena mungkin kita tidak “siap”.

Pokemon Go 2Asyik bermain Pokemon Go hingga bisa lupa diri, lupa waktu, dan lupa lokasi. (Ist)

Simon bertanya, apakah Gereja Katolik Indonesia sudah ‘siap’ mengatakan “tidak” kepada para penggemar Pokemon Go agar jangan menginjak-injak altar dan mengorek-orek ‘isi’ tabernakel, kalau pun di sana –misalnya saja—ditaruh monster-monster kecil nan lucu itu.

Ia juga bertanya, mungkinkah permainan Pokemon Go ini bisa menjadi sarana untuk semakin memuliakan Tuhan?

Gereja “diserang” Pokemon Go

Simon lalu menunjukkan sebuah artikel menarik besutan Mary Rezak yang menggambarkan bagaimana permainan Pokemon Go ini bisa ‘merusak’ tatanan sosial yang sudah mapan. Gereja dan pastoran pun tidak ‘imun’  terhadap ‘serangan’ Pokemon Go.

Pastor Ryan Kaup sekali waktu terbangun dari tidur lelapnya, ketika seorang anggota umat parokinya tiba-tiba membuat kegaduhan di luar tembok pastoran. Di tengah malam itu, tiba-tiba saja Cristo Ray, demikian nama umat paroki itu, berteriak kencang dengan nada hepi menandakan bahwa perburuannya ‘menangkap’ monster kecil itu sudah berhasil: “Gotcha!”

Mengapa Ray sampai berteriak sangat keras dan hepi? Itu karena keberhasilannya memindai keberadaan ‘buruannya’ dan berhasil menangkapnya, maka ia akan mendapatkan hadiah yang disediakan oleh Pokestop.

Pokemon-Go-screen-1-650-80Tampilan layar permainan Pokemon Go (Ist.)

Teriakan keras  Ray di luar tembok kamar tidur pastoran di kawasan Lincoln, Nebraska, AS, itulah yang akhirnya membangunkan Pastor Kaup dari tidur lelapnya. Tentu saja, ia bereaksi terkejut dan marah, karena ritme tidurnya menjadi kacau dan terganggu hingga susah tidur lagi.

Keadaannya akan menjadi lebih runyam lagi, misalnya, kalau lokasi buruan berikut Pokestop itu kemudian berada di dalam kompleks gereja, khususnya di dalam bangunan gereja namun khususnya di altar.

Namun, seperti kata Simon yang mencoba bertanya apakah Pokemon Go bisa membawa semakin banyak orang kepada Tuhan, maka itulah yang dicoba Pastor Raup dengan umatnya di Lincoln, Nebraska, AS. Karena banyak orang kemudian memperlambat laju kendaraannya dan kemudian memarkirnya tak jauh dari lokasi gereja, maka kepada umatnya Pastor Raup mengatakan agar sebaiknya para ‘tamu tak diundang’ itu sekalian diundang masuk gedung gereja dan diajak berdoa memuliakan Tuhan.

Pokemon Go dan Pokestop dalam konteks ini mengantar orang menuju dan menghadap Tuhan.

Jangan terlambat tentukan sikap

Namun, netizen lain yakni Pius Nugraha bicara lebih “kencang” lagi.

Tahun-tahun terakhir ini saja, kekhusukan perayaan ekaristi senantiasa ‘diganggu’ oleh dering nada bunyi WA masuk atau berisiknya umat ngobrol dan tangan orang ‘berkomat-kamit’ memencet tombol gadget untuk chatting. Pertanyaannya,  bagaimana nanti kita harus menyikapi mainan Pokemon Go ini, kalau akhirnya berhasil menjebol kesakralan gedung gereja dan mengobrak-abrik sakralnya altar dan tabernakel berisi hosti suci?

Pius lalu mengajukan usulannya. Menurut dia, Gereja Katolik Indonesia dalam hal ini para pastor paroki harus berani mengatakan jelas dan tegas bahwa kawasan gereja bukan tempatnya untuk bermain Pokemon Go. Intinya, kawasan suci di gereja –terutama altar dan tabernakel—harus steril dari intipan monster-monster besutan Pokemon Go ini.

“Jangan menunggu sampai orang sudah ramai main, baru kemudian ditindak dan Gereja beraksi,” kata Pius.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.