Bhikkhu Saddhaviro Tegaskan Kasus Rohingya bukan Isu Agama

Bhikkhu Saddhaviro Mahatera

MENANGGAPI pemberitaan di salah satu media lokal di Banjarmasin, Senin, 25 Mei 2015 dengan judul “Teror Biksu”, Kepala Vihara Dhammasoka Banjarmasin Bhikkhu Saddhaviro Mahāthera melakukan konfirmasi pers sehari sesudahnya.

Berita dimaksud berkisah tentang salah satu tokoh di Myanmar bernama Biksu Ashin Wirathu. Dia disebut sebagai biksu Buddha paling radikal yang gemar menyebarkan kebencian pada kaum minoritas muslim dengan mengatakan kelompok minoritas Islam akan menguasai negara. Wirathu pernah dihukum penjara 25 tahun pada 2003. Namun, pada 2010, dia dibebaskan bersama tahanan politik lain.

Kepada awak media televisi dan cetak yang hadir, Bhikkhu Saddaviro memberikan penjelasan sekaligus menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan. Menurutnya, seorang bhikkhu itu dianjurkan dan mempunyai prinsip-prinsip yang sangat mendasar yaitu cinta kasih dan kasih sayang.

“Jangankan untuk menyakiti manusia. Menyakiti makhluk hidup itu pun tidak boleh. Bukan hanya sekedar untuk melatih diri, tapi memang tidak diperbolehkan,” ucap Bhikkhu yang pada tanggal 12 Maret lalu genap berusia 51 tahun.

Menurut Bhikkhu Saddhaviro, tindakan menyakiti siapa pun bertentangan dengan prinsip dasar seorang bhikkhu, karena hal itu sama dengan menyakiti diri sendiri. “Hal itu sesuai dengan asas, ‘siapa yang membuat sebab sakit, dirinya sendiri akan menerima akibat sakit itu.’ Maka, sebenarnya seorang bhikkhu tidak mungkin melakukan seperti apa yang ditulis dalam pemberitaan tersebut.”

Bhikkhu Saddhaviro mengungkapkan bila realitas di lapangan ternyata memang demikian, maka bisa jadi oknum itu hanya mengatasnamakan dirinya sebagai seorang bhikkhu. Bhikkhu Saddhaviro merasa perlu memberikan klarifikasi agar masyarakat secara luas mempunyai gambaran yang benar dan jelas, dimana seorang bhikkhu itu sudah pasti akan melakukan hal-hal yang bersifat baik, penuh cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk, apalagi kepada sesama manusia.

Jaga kerukunan antar umat beragama

Menurut Bhikkhu Saddhaviro, pemberitaan seperti itu dapat mengakibatkan dampak negatif di masyarakat karena dapat menciptakan opini yang kurang baik. Bhikkhu Saddhaviro tidak mempermasalahkan bilamana ada pihak yang memberitakan dirinya jelek, meskipun pada kenyataannya dirinya tidak berbuat jelek. Hanya saja Bhikkhu Saddhaviro mengingatkan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang bersifat global dewasa ini, terkadang bila pemberitaan tentang seseorang menyangkut sebuah komunitas, maka akan melahirkan dampak terhadap komunitas itu sendiri.

Konferensi Pers
Suasana konferensi pers di Banjarmasin. (Puguh)

Bagi Bhikkhu Saddhaviro, konferensi pers siang itu bertujuan untuk menjernihkan suasana demi menjaga kerukunan antar umat beragama yang telah terbina baik, khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan. “Kita perlu menjaga kebersamaan, kekompakan, suasana kondusif dalam kehidupan ini,” ujarnya arif.

Meskipun ada banyak sekte dalam agama Buddha, yang dipengaruhi oleh unsur budaya, politik dan sosial setempat, namun semua umat Buddha di belahan dunia mana pun memegang prinsip yang sama, yaitu: “Cintakasih kepada semua makhluk hidup.”

Bhikkhu Saddhaviro berharap ketika kita mengatasi sebuah permasalahan, jangan sampai kemudian malah berpotensi menciptakan permasalahan baru. Terkait pemberitaan mengenai kasus Rohingnya, ia mewanti-wanti agar jangan sampai menimbulkan masalah baru, yang dikhawatirkan dapat melebar kemana-mana dan berimbas pada masyarakat setempat.

Pasca konflik antara warga minoritas Muslim Rohingya dengan mayoritas Budhis di negara bagian Rakhine di Myanmar pada tahun 2012 yang lalu, Bhikkhu Saddhaviro pernah berkunjung langsung ke Myanmar untuk melakukan studi banding. Sesampainya di sana, Bhikkhu Saddhaviro melihat dan mengamati langsung situasi yang terjadi. “Setelah ditunjukkan oleh orang setempat, saya berkesimpulan bahwa permasalahan tersebut sebenarnya bukan konflik keagamaan. Karena saya perhatikan aktivitas di masjid maupun vihara di sana berlangsung seperti biasa.”

Sementara itu Pembimas Buddha Kantor Kementrian Agama Provinsi Kalimantan Selatan I Gede Astana, S.Sos, yang juga hadir siang itu mengimbau agar semua pihak menanggapi kasus Rohingnya dengan arif dan bijaksana. “Permasalahan Rohingnya saat ini memang telah menjadi permasalahan internasional, namun kita yang berada di daerah ini harus tetap menjaga kerukunan bersama antar warga negara dan umat beragama.” pungkasnya seraya tersenyum.

Konferensi pers siang itu difasilitasi oleh LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan) Banjarmasin. Juru bicara LK3 Noorhalis Majid berpendapat bahwa permasalahan Rohingnya sebenarnya merupakan masalah sosial yang terlambat ditangani, yang kemudian hari berpotensi menciptakan isu-isu lain yang bersifat keagamaan.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.