Berteologi tak Mudah tentang Penyelenggaraan Tuhan

SELAMA berlangsungnya IYD 2016  di Manado,  saya sering menulis betapa indah ‘penyelenggaraan Tuhan’  yang telah membuat acara IYD itu begitu lancar, khususnya dari segi cuaca yang sangat baik, tidak hujan dan tidak panas. Juga harus disebutkan, selama sepekan  itu tidak pernah mati lampu.

Soal lampu, tentu bisa diatur oleh panitia dengan PLN supaya tidak ada pemadaman selama IYD. Setelah IYD selesai, Manado hampir setiap hari hujan dan mati lampu juga. Maka selama sepekan IYD itu,  saya merasa kagum dan bersyukur bahwa cuaca sangat mendukung. Cuaca itu adalah faktor alam yang di luar kontrol manusia, sehingga lebih mudah untuk dihayati sebagai ‘penyelenggaraan Tuhan.

Sungguhkah penyelenggaran Tuhan?

Kemarin petang, saya menemani Pastor Jan van Paassen MSC  dan Pastor Jacobus Wagey MSC makan malam sambil menonton TV berisi berita tentang perang di Suriah, khususnya liputan tentang kota Aleppo yang sudah hancur. Pastor Jan yang dalam usia 85 tahun dan masih sehat, berfikiran jernih, pendengaran masih normal dan mata belum katarak, bisa membaca tanpa kacamata, menunjuk pada berita itu dan mengatakan kepada saya: “Sulit memahami  ‘penyeleggaraan Tuhan’ di Aleppo itu”.

Saya diam dan tidak bisa menjawab. Karena di dalam hati saya juga bertanya: Mengapa hal itu diizinkan oleh Tuhan untuk terjadi? Mengapa Tuhan tidak mencegah supaya hal-hal buruk itu tidak terjadi?

Kalau malapetaka akibat perang masih bisa dimengerti karena sebagian besar peristiwa itu disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri. Perang-perang di Suriah, Afganistan, Irak dan gerakan ISIS itu terjadi karena perbuatan manusia sendiri yang dengan kebebasannya melakukan tindakan itu.

Yang lebih sulit dimengerti adalah badai dan taufan yang setiap kali terbentuk di lautan kemudian menyerang daratan dan menewaskan ribuan orang di Haiti dan banjir bandang di Amerika. Setelah bencana taufan selesai, Haiti diserang wabah kolera karena keadaan yang porak-poranda tanpa makanan dan kebersihan. Mengapa Tuhan mengizinkan taufan dan badai itu selalu terjadi? Dalam hal ini, sulit mengerti ‘penyelenggaraan Tuhan’.

Jawaban

Saya mempunyai jawaban kepada pastor Jan van Paassen tadi. Namun jawaban saya itu juga mengandung resiko keliru atau tersesat.

Jawaban saya ialah:  “Mengapa Tuhan tidak menciptakan saya dan Pastor Jan van Paassen sebagai penduduk di Aleppo itu dan sudah menjadi korban perang dan kini sudah meninggal. Atau juga menjadi penduduk Haiti dan sudah hilang tersapu oleh badai itu. Mengapa Tuhan menempatkan kami bukan sebagai bagian dari para korban yang ada di dalam berita TV itu, melainkan sebagai penonton berita TV itu?”

Hal ini juga sulit diterangkan dan sulit dimengerti. Namun kami lebih mudah merasakan kebaikan Tuhan dan penyelenggaraan Tuhan, karena kami dalam posisi yang diuntungkan.

Atau saya bisa mencoba untuk berteologi begini. Belum tentu siapa yang lebih diuntungkan. Siapa tahu para korban itu, baik korban perang maupun korban bencana alam, dalam sekejap telah berpindah dari dunia yang fana ini dan masuk dalam kehidupan abadi yang penuh kedamaian dan kebahagiaan tanpa takut lagi ada bahaya kematian. Tuhan berbelas kasih kepada para hamba-Nya yang menderita sengsara akibat perang yang dilakukan oleh manusia atau oleh badai yang terbentuk karena fenomena alam.

Mereka yang meninggal itu masuk ke dalam surga dan diampuni segala dosanya, mengingat nasibnya yang malang di dunia. Sedangkan kami yang hidup enak-enak sebagai penonton TV, masih harus melanjutkan penderitaan di dunia ini yang disebabkan oleh dosa-dosa da kerapuhan fisik.

Namun teologi semacam ini ada bahaya untuk disalahmengerti sebagai pemikiran yang membenarkan perang dan menganggap badai sebagai hal yang baik. Dan kematian sebagai akibat perang dan badai dianggap lebih baik daripada hidup di dunia ini.

Saya melihat bacaan pertama hari Minggu nanti tentang Musa yang mengangkat tangannya dan pasukan Israel menjadi kuat, ada kaitannya dengan ‘penyelenggaraan Tuhan dan usaha dari manusia’.

Setiap kali Musa mengangkat tangannya pasukan Israel menjadi lebih kuat sehingga orang Amalek kalah. Tetapi kalau Musa menurunkan tangannya, karena sudah lelah, maka orang Amalek lebih kuat dan Israel kalah. Untuk mengatasi masalah itu, Musa duduk di batu dan kedua tangan Musa ditopang oleh Harun dan Hur, sehingga tangan Musa tidak bergerak turun sampai matahari terbenam dan Israel menang perang.

Tangan Musa

Karena orang Israel melihat hubungan antara tangan Musa dan “nasib tentara Israel’ itu, maka Harun dan Hur mencari akal supaya tetap bisa mempertahankan tangan Musa tetap terangkat ke atas. Tangan Musa itu dianggap berhubungan langsung dengan berkat Tuhan. Kalau tangan Musa terangkat, maka berkat Tuhan turun dan Israel kuat dalam perang. Kalau tangan Musa turun, maka berkat Tuhan pergi dan Israel kalah dalam perang.

Dalam cerita itu mungkin mau dikatakan bahwa diperlukan usaha, kreativitas dan ketekunan manusia supaya berkat Allah juga terjadi. Karena Harun dan Hur bertahan sampai petang untuk menopang tangan Musa dan tentu Musa sendiri terus berusaha untuk bisa mengangkat tangannya ke atas dibantu topangan Harun dan Hur, maka tentara Israel berhasil mengalahkan pasukan Amalek. Kisah ini menarik untuk berteologi tentang hal- hal fana di dunia ini dipakai oleh Tuhan sebagai sarana untuk melaksanakan karya keselamatan Allah.

Hal yang sama dikatakan oleh Yesus dalam bacaan Injil tentang perlunya terus beriman dan tetap berdoa. Jangan lelah untuk beriman dan berdoa. Dan Allah akan membenarkan hamba-Nya yang tidak pernah berhenti utuk beriman dan berdoa.

Dan pertanyaanya adalah: siapakah yang mampu untuk tetap beriman dan berdoa terus-menerus? Sedangkan Musa saja tidak mampu dan kelelahan. Musa perlu dibantu oleh Harun dan Hur dengan menopang tangannya supaya ia tetap mampu beriman dan berdoa. Apalagi kita, kita juga lelah untuk beriman dan berdoa terus-menerus. Kita juga butuh ditopang oleh sesama supaya mampu bertahan, seperti Musa.

Dan pertanyaan Yesus pada akhir injil itu membuat kita berefleksi diri: “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia menemukan iman di bumi?”(Luk. 18:8).

Jangan-jangan di seluruh bumi ini, tidak ada iman yang pantas untuk menyambut kedatangan Anak Manusia itu! Janga- jangan semuanya kosong, tidak ada iman dan tidak ada doa yang benar.

Untuk mengecek hal itu, cukuplah setiap orang melihat dirinya sendiri.

Romo Albertus Sujoko MSC berasal dari Paroki Purwosari. Tamat dari Seminari Pineleng (1983-1990), ia memperoleh gelar doktor teologi di Universitas Alfonsiana, Roma. Pernah menjabat Ketua STF Seminari Pineleng (2003-2011) dan sekarang Ketua Program Imamat untuk para frater MSC Seminari Hati Kudus Pineleng.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.