Bermegah Diri

19 Juni - RmT

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” (2 Kor 11, 30)

PURWOKERTO merupakan kota kecil, yakni kota kecamatan. Namun demikian, di kota ini sudah mulai nampak beberapa bangunan yang megah, seperti hotel, rumah sakit, sekolahan dan bangunan lain. Sebuah bangunan disebut megah, karena bangunan tersebut tinggi, besar dan indah dibandingkan dengan bangunan yang lain.

Sifat ‘megah’ tersebut rupanya tidak hanya terbatas pada bangunan saja, tetapi juga bisa merasuk ke dalam diri manusia. Selalu saja ada orang yang cenderung untuk memegahkan diri atau membanggakan dirinya. Kebanggaan diri tersebut biasanya berkaitan dengan berbagai macam ‘kelebihan’ yang mereka miliki dan tidak dimiliki oleh orang lain. Seseorang bisa merasa bangga karena asal-usulnya dari kalangan terhormat; karena suku bangsanya yang dikenal ulet atau cerdas; karena berbagai jabatan yang disandangnya; karena jumlah kekayaan yang tidak terhitung banyaknya; karena prestasinya dan berbagai penghargaan yang telah diperolehnya; karena popularitasnya atau karena alasan lain. Seseorang bisa memiliki banyak bakat, kemampuan atau talenta tertentu, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Hal-hal seperti inilah yang sering membuat seseorang merasa bangga dan cenderung memegahkan dirinya.

Terhadap kecenderungan masyarakat yang seperti ini, Santo Paulus pun ikut memegahkan diri. Namun demikian, yang dibanggakan adalah kelemahan dirinya dan kesulitan serta penderitaan yang dia alami sebagai pelayan Tuhan. Setiap orang tentu punya kelemahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Banyak orang sering menutupi atau menyembunyikan kelemahan dirinya, agar tidak diketahui oleh orang lain. Banyak orang sering malu, kalau kelemahan dirinya diketahui orang lain. Banyak orang berusaha dengan berbagai cara, agar kelemahan dirinya tidak tersingkap dan terbuka secara publik. Kalau kelemahan tersebut akhirnya tersingkap, banyak orang sering membuat penyangkalan dan tidak mau mengakuinya.

Mengapa Paulus begitu bangga dan memegahkan diri dalam kelemahannya? Kesadaran bahwa dirinya lemah atau tidak sempurna, merupakan kesempatan untuk mengundang Allah hadir dalam hidupnya; kesempatan agar kuasa Allah lah yang bekerja di dalam diri dan pelayanannya. Di dalam kelemahan manusiawi itulah, Tuhan hadir dan memberikan kekuatan serta kuasa-Nya. Inilah yang harus dibanggakan.

Teman-teman selamat siang dan selamat bekerja. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.