Berlari Menuju Yesus Kristus Yang Bangkit

Minggu Paskah, 27 Maret 2016
Hari Raya Paskah
Kis 10:34a.37-43; Mzm 118:1-2.16ab-17.22-23; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur Yesus, dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maka ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus. … Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus, sehingga lebih dahulu sampai di kubur. … Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu; ia melihatnya dan percaya. …

HARI ini adalah Hari Raya Paskah. Kita merayakan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dari maut. Ia adalah sumber kehidupan sebab Ia sendiri adalah Sang Kehidupan itu sendiri seperti disabdakan-Nya, “Akulah jalan, dan kebenaran dan kehidupan” (Yoh 14:6).

Ia mengasihi kita sampai pada kesudahannya. Kebangkitan-Nya adalah tanda kemenangan paling sempurna, kasih yang paling ekstrem dan kehadiran yang paling penuh daya. Kebangkitan-Nya memberi kita pengharapan akan dibangkitkan pula dari maut untuk bersukacita dan memuliakan Allah bersama-Nya di surga.

Dalam Injil hari ini kita membaca, Maria Magdalena, Petrus dan Yohanes semua melihat makan kosong. Sayangnya, keterbatasan iman mereka membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan menerima secara utuh anugerah besar yang telah ditawarkan kepada mereka.

Dalam memahami misteri kebangkitan-Nya, kita harus memiliki iman yang tulus dan murni dalam Kristus  yang memampukan kita mengalami semua pengalaman hidup kita dalam pengharapan, keyakinan dan kenyamanan. Kita harus berlari pada pengalaman iman itu.

Berlari merupakan bagian integral yang disebut dalam Injil hari ini. Maria Magdalena berlari. Petrus berlari dan Yohanes berlari lebih cepat dari Petrus. Apa artinya bagi kita?

Kasih kepada Tuhan menciptakan rasa kemendesakan. Yang mereka lihat pada makan dapat dilihat tanpa lari sama sekali. Namun kemendesakan dengan berlari menandakan kasih kepada Tuhan. Jika kita ingin mengalami Yesus Kristus yang bangkit dan daya kuasa kebangkitan-Nya, kita perlu memiliki rasa kemendasakan ini dalam membangun relasi dengan Dia.

Kita harus berusaha menjumpai Dia dan memberikan diri kita kepada-Nya di sini dan saat ini. Kita tidak dapat menunggu saat ideal. Yohanes, Petrus, Maria Magdalena sesungguhnya memiliki iman yang tak tegoncangkan akan kebangkitan, dan mereka menjadi pewarta kebangkitan kepada kita pada hari ini. Kita pun harus “berlari” mewartakan kasih dan kerahiman-Nya.

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan cara terbaik bagi kita untuk berlari pada Yesus Kristus yang telah bangkit bagi kita. Di sana kita mengalami daya kebangkitan-Nya dengan menyembah-Nya dan mempersembahkan diri kita di sini dan saat ini. Kita tidak bisa menunggu untuk saat ideal.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengetahui bagaimana mempersiapkan para murid-Mu untuk mengalami kehadiran-Mu yang mendalam dan mengenal-Mu secara secara intim. Kami mohon pada-Mu iman yang mendalam akan kebangkitan-M. Biarkanlah semua peristiwa dalam hidup kami membawa kami sampai pada kebenaran bahwa Engkau hidup, terutama melalui Adorasi Ekaristi Abadi kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.