Berkat Imamat Terakhir Alm. Romo Herman Kaawoan Pr Sebelum Meninggal

< ![endif]-->

KISAH “proses” meninggalnya alm. Romo Herman Kaawoan Pr- seorang ahli hukum gereja dari Keuskupan Manado—di Ambon, Maluku, Kamis (19/9) petang menyentuh perasaan kita semua. Almarhum sempat memberikan berkat imamatnya kepada para dokter dan suster yang berdiri mengelilinginya saat terhadap almahum dilakukan tindakan medis untuk pertolongan pertama di sebuah unit UGD di sebuah RS di Ambon.

Berikut ini, kami rangkuman beberapa kisah di sejumlah media sosial mengenai “proses” kematian tiba-tiba yang menjemput alm. Romo Herman Kaawoan Pr. Sebagian besar kisah menyentuh ini muncul di Buletin Kusuma terbitan Diosis Manado.

Kotoran hitam

Sudah setahun belakangan ini –jauh hari sebelum meninggal dunia—almarhum Romo Herman Kaawoan Pr pernah mengeluhkan adanya keanehan dalam sistem metabolisme pencernakan dan pembuangan sisa makanan dalam tubuhnya. Keluhannya sama, selama setahun terakhir ini sering BAB dengan kondisi kotoran serba hitam.

Seorang dokter KBKK yang tahu dunia medic dengan jelas mengatakan, warna hitam BAB jelas menandakan ada yang tidak beres dalam usus pasien. Lambungnya luka dan mengeluarkan darah dan darah itulah yang keluar dalam bentuk warna hitam BAB.

Kemudian, keluhan lainnya adalah penyakit gula (diabetes).

Namun, kedua penyakit ini terkesan tidak diobati dengan baik, karena almarhum terkesan tidak mau merepotkan orang lain. Baru ketahuan, setelah beliau akhirnya mau “curhat” tentang penyakitnya kepada dokter.

Kamis sore, almarhum Romo Herman Kaawoan Pr terbang dari Manado menuju Ambon untuk mengikuti perayaan misa lustrum tahbisan Uskup Diosis Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC. Beliau datang di Bandara Pattimura Ambon dijemput oleh beberapa frater praja Amboina.

Tidak sempat makan

Ternyata, sebelum berangkat ke Ambon, alm. Romo Herman Kaawoan belum sempat makan siang. Dan anehnya, ketika mau diajak makan dulu oleh para frater penjemputnya, beliau lagi-lagi menolak makan dulu. “Katanya, saya sudah kenyang,” jawabnya kepada Fr. Diakon Yani Maturbongs Pr yang mengajaknya makan di sekitaran Bandara.

Perjalanan darat dari Bandara Pattimura di luar kota Ambon menuju Wisma Keuskupan biasa ditempuh dalam waktu 30-45 menit.

Setibanya di Wisma Keuskupan Amboina, alm. Romo Herman mengeluh kepalanya pusing sekali. Sebelum berhasil memasuki kamarnya di lantai 3, tiba-tiba almarhum ambruk dan tidak kuat lagi naik tangga menuju kamar. “Pusing sekali,” kata dia kepada rekan-rekan imam dan frater di situ.

Alm. Romo Herman terpaksa dipapah agar bisa masuk ke kamarnya. Namun, kondisinya dengan cepat berubah menjadi lemas. Segera untuk beliau dibuatkan bubur. Namun beliau hanya bisa makan sedikit saja.

Ketika diajak pergi periksa ke RS, almarhum menolak.

Alih-alih pergi berobat, alm. Romo Herman bertanya kepada Frater Diakon Ferry Renwarin jam berapa misa lustrum tahbisan Uskup Amboina akan dimulai. Dijawab pukul setengah enam petang WIT.

Dia lalu menyetel weker pada jam nya.

dying

Berkat terakhir

Frater Renwarin menyarankan almarhum tidak perlu ikut dalam misa konselebrasi karena kondisinya lemah dan menawarkan diri menjaga romo. Tapi usulan ini ditolak almarhum.

Almarhum lalu meminta frater agar bisa mengompres badannya dan menyeka derasnya keringat dingin dari sekujur tubuhnya.  Almarhum lalu ganti baju dan memilih baju hitam dan kesulitan memakai baju hitam ganti itu, seakan-akan kekuatan tubuhnya sudah tidak mampu lagi mengangkat tangannya.

Dengan mobil ambulans, almarhum segera dibawa ke RS terdekat didampingi seorang dokter lengkap dengan semua peralatan medic bantuan pertama.

Almarhum Romo Herman hanya mengalami waktu selama  30 menit di UGD untuk menerima tindakan pertolongan medic. Sebelumnya telah datang menyusul ke RS Romo Agus Ulahayanan Pr –Vikjen Keuskupan Amboina—dan memutuskan segera memberikan sakramen perminyakan terakhir.

Ketika semua proses ritual perminyakan suci berakhir, almarhum Romo Herman Kaawoan Pr melambungkan doa pribadi dan kemudian membuat tanda salib. Lalu dia mulai memberikan berkat imamatnya yang terakhir dalam bahasa Latin: In nomine Patris, et Filii et Spiritus Sanctii. Amen.

Ia memberikan berkat terakhir itu kepada para dokter, suster perawat dan teman romo. Lalu, sedetik kemudian, almarhum menyambung dengan kata-kata ini: Ke dalam tanganMu, kuserahkan nyawaku.

Lalu beliau meninggal dengan tenang pada usia 46 tahun.

Requiescat in pace.

Tautan:  RIP Romo Herman Kaawoan Pr dari Keuskupan Manado Meninggal di Ambon

Credit photo: Saat kritis (ilustrasi)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.