Beriman tanpa Beban

DUH, bisa merinding kala membaca. Inilah hebat, dan sesungguhnya inilah “Injil kelima” dari dan ditulis berdasarkan kesaksian umat. Terus terang inilah yang hilang dalam komunitas katolik, dimana seolah hanya keadaan masa sekarang ini yang ada. Dimana ketakutan atau tak berani tampil, seakan menjadi katolik adalah gaya Nikodemus yang hanya berani datang pada Tuhan Yesus pada malam hari. 

Padahal ada sejarah panjang. Ada tradisi yang membesarkan hati, dan membanggakan. Dan otentik. 

Saya pernah bertanya ke mertua saya: Kenapa dulu bapak katolik? Beliau lahir di Gombong. Seluruh keluarga tak ada yang katolik. Jawabnya sangat sederhana: dulu melihat  romo, pakai sepeda, senyum, menyapa bila bertemu.  Begitulah riwayat mertua saya, dan anak perempuan pun katolik sejak lahir, dan menular ke saya. 

Roh Kudus bekerja dengan cara biasa banget. Melalui senyum, melalui perempuan. 

Saya pernah bertanya ke kakek saya. Dia dia keren. Satu-satunya yang dokter– profesi tertinggi dalam keluarga kami, pernah ke luar negeri, karena foto-fotonya diberikan ke kami– dan katolik. Sementara semua saudaranya, termasuk kakek saya langsung, bukan katolik. 

Pertanyaan yang sama, dijawab dengan: kagum melihat romo, sekolah katolik bersih dan anak-anaknya pinter. Sangat sederhana, manusiawi, tidak melalui ayat dan filosofi. Itu belakangan, ketika penghayatan dalam diri kita menemukan pijakan. 

Apakah dari keluarga tak ada masalah? Tidak juga. 

Saya sendiri ketika mau menerima sakramen di Gereja– dengan dispensasi, karena saya belum lulus, baru terjadi 18 tahun kemudian– minta izin Ibu, yang janda.”Bu saya mau menikah di Gereja, nderek Gusti Yesus.” 

Mungkin bagi Ibu, Gusti Yesus seperti nama Gusti di Kasunanan atau Mangkunegaran, raja di Solo. (Kakek langsung saya adalah abdi dalem Keraton Kasunanan). 

Jawaban Ibu sama sederhana: “Ya nek nderek Gusti Yesus, sing tenanan. Aja dolanan.” (Kalau ingin hidup mengikuti Tuhan Yesus, ya harus serius dan jangan dibuat main-main). 

Alangkah indah. Beriman tanpa tambahan beban, tanpa harus terasingkan, tanpa malu, atau takut, atau menyembunyikan. 

Bahwa kita ini minoritas, ya perlu waspada dan hati-hati secara ekstra. Tapi bukan mengingkari. 

Bukankah Nikodemus pun akhirnya tampil di saat-saat terakhir penyaliban?

Saya kisahkan ini di Seminari Tinggi Fermentum Bandung pekan lalu,  ketika merayakan 25 tahun, bahwa beriman dan menyatakan kesaksian dengan mengucap dan mengungkap bukan suatu kekeliruan. 

Ini berlaku untuk romo, sebagai imam, sebagai gembala, maupun umat. 

Bukankah Tuhan Yesus juga “memberi kesempatan” Simon dari Kirene untuk turut memanggul salib? 

Umat diberanikan. 

Tulisan mengenai Barnabas Sariman Saridikrama adalah bagian yang menguatkan, membuat refleksi, dan menumbuhkan keberanian untuk memberi kesaksian. 

Saya senang membacanya, terharu, dan mari kita lanjutkan dengan kisah-kisah yang kita alami, karena Kasih-Nya tidak hanya untuk mereka, melainkan untuk kita semua. Dan masih berlaku. 

Come on Bro, time is up.

 Photo credit: Berdoa di depan makam Santo Fransiskus Xaverius di Del Gesu, Roma (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.