Beribadah Tapi Memungkiri Kekuatannya (1)

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”

Ke gereja tapi tetap takut hantu. Rutin berdoa tapi masih percaya mistis. Beribadah ya, ke paranormal juga ya. Katanya percaya Tuhan, tapi kuatir tetap Ada banyak sekali orang percaya yang masih seperti itu. Mengakunya mengandalkan Tuhan, tapi mamon tetap nomor satu. Uanglah yang terus menjadi prioritas utama hidup. Bukankah semua kebutuhan membutuhkan uang? Tahu bahwa Tuhan bisa melakukan mukjizat, tapi hidup masih saja tergantung jimat. Katanya warga negara Kerajaan Surga, tapi masih saja ikut cara-cara sesat dunia. Perhatikanlah, ada banyak orang peraya yang masih memiliki cara pandang dan pola hidup seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Itu karena mereka menjalankan ibadah tapi meragukan kekuatannya.

Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai “masa yang sukar”. (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan, instabilitas politik, keonaran yang ditimbulkan para pengacau keamanan dan sebagainya. Benar, itu memang masih terus terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan, ketidakstabilan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut Paulus terletak pada kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Intinya, secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya meragukan atau bahkan menolak kekuatannya. Although they pray constantly, they refuse to believe the power of it. They are still strangers to God. Ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja, rajin persekutuan dan rutin berdoa tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya.

Apakah saya mengatakan bahwa beribadah itu berarti tidak penting? Sama sekali tidak. Beribadah itu sangat penting. Tapi adalah penting juga bagi kita untuk memastikan bahwa setiap ibadah yang kita lakukan disertai iman yang penuh dan bulat, tidak setengah-setengah, tidak hanya sekedar menjalankan apa yang kata orang tua wajib untuk dilakukan. Beribadah itu perlu latihan. Itu dikatakan langsung oleh Paulus. “Latihlah dirimu beribadah”. (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (ay 8). Anda pergi ke pusat kebugaran, bangun pagi dan lari pagi, itu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti.

Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, mengerti kegunaannya dan sadar sepenuhnya akan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Itu perlu kita ketahui dan camkan benar-benar agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.