Bergembira dalam Pekerjaan

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=======================
“Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?”

Saya mengenal seorang supir angkot yang usianya ada di kisaran 40 an tahun. Ia bergelar sarjana dan sempat bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan baik. Suatu hari perusahaannya bangkrut dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Tidak gampang untuk melamar kerja lagi ke mana-mana sementara anak dan istri harus dicukupi kebutuhannya. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi supir angkot, mengambil trayek yang kebetulan sering saya lalui. Satu hal yang menarik adalah perilakunya saat bekerja. Kalau sebagian besar supir angkot ugal-ugalan kejar setoran, tidak banyak bicara dan hanya fokus mencari sewa di pinggir jalan, supir yang satu ini secara kasat mata tampak menikmati betul profesinya. Ia terus bercanda dengan penumpangnya baik yang duduk di sebelahnya maupun yang di belakang. Ia terlihat sangat gembira sehingga siapapun yang naik dalam angkotnya serasa piknik ramai-ramai. Menjadi supir angkot bukanlah pekerjaan yang membanggakan bagi kebanyakan orang. Kita jarang melihat anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi supir angkot. Tapi yang satu ini terlihat bangga. Kenapa bangga? Karena setidaknya ia masih bekerja dengan halal di tengah kondisi ekonomi sulit seperti ini. Ia masih bisa menyekolahkan anaknya, membiayai keluarga, itu merupakan sebuah kebanggaan baginya. Punya gelar tapi nyupir? Kenapa tidak, selama itu halal. Toh rejeki ada ditangan Yang Diatas, katanya.

Hari ini ada banyak orang yang bekerja hanya semata karena harus mencukupi hidup. Mereka merasa terpaksa melakukan itu karena tuntutan kebutuhan. Bagaimana mungkin orang bisa bergembira melakukan sesuatu kalau judulnya terpaksa? Dan bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan hasil terbaik kalau mindsetnya seperti itu.

Alkitab mengingatkan kita untuk mencintai pekerjaan, yang artinya melakukan bagian dari pekerjaan masing-masing dengan hati yang gembira. Itulah yang diingatkan Pengkotbah yang tampaknya didasari perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. Demikian bunyi ayatnya. “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?” (Pengkotbah 3:22). Apakah mencintai profesi atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Mengapa? Karena itu adalah bagian atau panggilan kita. Apa yang kita kerjakan hari ini bukan suatu kebetulan. Ada sesuatu yang menanti disana apabila kita melakukannya dengan hati lapang dan dengan sungguh-sungguh. Kalau kita tidak bahagia dalam bekerja, kalau terpaksa atau melakukannya dengan hati yang berat, apa sih keuntungan yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan, emosi, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera, adakah itu membawa manfaat? Yang ada malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain, membuat kita tidak berkembang dan kehilangan kesempatan untuk maju karena hasil pekerjaan yang tidak istimewa, bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri. Apakah baik apabila kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut tidak pernah merasa puas? Akankah itu baik bagi diri kita, keluarga kita, dan apakah itu menyenangkan hati Tuhan? Semua ini penting untuk kita renungkan terlepas dari apapun pekerjaan yang sedang kita geluti saat ini.

Satu hal yang harus kita ingat, soal bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan sejati berasal dari Tuhan dan bukan dari keadaan. “Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.” (Mazmur 33:21). Selanjutnya Amsal mengatakan bahwa “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap sehat, awet muda dan memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Dan rasa syukur kita dalam menikmati anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, itu semua tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi seindah atau seberharga emas. Tidak ada satupun orang yang bisa tahu apa yang akan terjadi di depan bukan? Saya tidak berbicara mengenai kekayaan materi saja karena itu sangatlah sempit, tetapi mengenai hasil atau pencapaian yang bisa kita peroleh lewat hati yang gembira dalam bekerja. Itulah yang akan membuat kita mampu menghasilkan karya-karya yang ‘monumental’.

Pekerjaan yang tampaknya rendah atau sepele hari ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa pada suatu hari nanti. Tapi itu tidak akan bisa terjadi kalau kita mengerjakannya secara terpaksa, dengan berat hati dan asal-asalan. Apa yang tampaknya biasa saja kalau dikerjakan dengan baik bisa menjadi sumber melimpahnya berkat Tuhan kepada kita. Kalau Tuhan berkenan dan senang kepada usaha serius kita, kenapa tidak? Itu saya tahu pasti, dan pernah pula mengalaminya sendiri sekian tahun lalu. Bayangkan, dari gaji awal yang hanya 30.000 rupiah sebagai asisten, saya akhirnya bisa mencukupi kebutuhan hidup lebih dari sekedar pas-pasan. Pekerjaan yang kata orang biasa belum tentu sama di mata Tuhan. Tidak ada pekerjaan rendah dan tidak ada pekerjaan yang tidak bisa diberkati Tuhan secara luar biasa.

Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaan, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, hanya dikerjakan karena terpaksa untuk mencari nafkah. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Akan sangat sulit untuk bisa sampai ke tahapan seperti itu apabila kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya.

Tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak. Saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang dalam pandangan dunia dianggap melakukan pekerjaan kasar atau dinilai rendah, tapi mereka tetap saja bisa bersukacita dalam melakukannya dan itu mendatangkan hasil yang baik. Akibatnya merekapun terus meningkat dalam pekerjannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Kalau begitu, kenapa kita tidak mencoba meneteskan setitik cinta pada pekerjaan kita? Apapun itu pekerjaannya, selama itu halal, mengucap syukurlah atas pekerjaan tersebut kepada Tuhan dan lakukanlah dengan hati gembira segala yang menjadi bagian kita masing-masing. Kalau itu sudah dilakukan, lihatlah nanti bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan. Mari belajar untuk  bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan dengan hati yang gembira.

Syukuri pekerjaan yang diberikan Tuhan, lakukan dengan gembira

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.