Berdoa Secara Tulus, Berderma tanpa Pamrih

Rabu, 18 Juni 2014
Hari Biasa Pekan XI
1Raja 2:1.6-14; Mazmur 31:20.21.24; Matius 6:1-6.16-18

“Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:6)

SUATU  hari saat saya bertugas di Paroki Tanah Mas, seseorang yang sudah sering dan biasa meminta-minta datang kepada saya. Seperti biasa, saya menyambutnya seramah mungkin sambil memberikan apa yang dia minta.

Dia mengaku sebagai seorang peziarah. Itu karena ia tidak punya rumah. Ia lebih banyak hidup di jalanan. Penampilannya selalu rapi dan ia selalu mengkritik para imam, bahkan Uskup dan Gereja Katolik. Orang menyebutnya sebagai orang yang tidak waras. Namun saya tetap menerima dia apa adanya. Saya mengenal dia sejak saya bertugas di Paroki Katedral Semarang, sepulang tugas saya di Tano Batak, Sinaksak, Sumatera Utara.

Siang itu, dia berperilaku agak unik, tidak seperti biasanya. Setelah menerima yang dia minta, tiba-tiba dia berkata, “Romo, mari kita berdoa. Saya akan memimpin doa ini.” “Wow, bagus,” jawab saya, “mari kita berdoa.”

Dia pun mulai berseru dan saya ikuti saja, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin….” Sekitar dua menit dia diam. Saya menunggu doa yang akan dia katakan. Namun setelah dua menit berlalu, dia tidak mengucapkan kata-kata lagi dan langsung berseru lagi, “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.”

Dia menatap saya. Saya menatap dia dan bertanya sambil tersenyum, “Lah, isi doamu apa? Mosok diam saja tanpa kata-kata..” Mengejutkan, dia menjawab, “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Jadi Romo tidak perlu tahu apa isi doa saya. Jelas?!”

Saya pun mengangguk saja sambil tetap menahan senyum dan tawa. Apalagi saat saya melihat ada seseorang yang melihat peristiwa itu dan memandang ke arah saya sambil membuat bahasa isyarat “mencoret dahinya dari arah kiri atas ke kanan bawah dengan jari telunjuknya”. Isyarat itu diberikan setelah dengan jari telunjuk yang sama menunjuk ke arah orang yang sedang berdoa dengan saya itu.

Tentu saja, yang dilakukan sang peziarah tadi barangkali ada benarnya. Begitulah dia menafsirkan teks tersebut? Salah? Ah nggak juga sih, cuma bagiku itu ekstrim dan aneh. Tapi saya juga tidak punya hak untuk menilai dan menghakiminya.

Yesus mengajak kita untuk berdoa secara benar tanpa kemunafikan agar dilihat orang. Yesus juga mengajak kita untuk memberi tanpa pretensi dan bersedekah tanpa pamrih. Kita diajak untuk tidak mengandalkan diri sendiri.

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan gerakan doa sembah sujud yang kita lakukan dalam kerja sama banyak orang. Di sana kita berdoa dalam keheningan suci di hadirat Sakramen Mahakudus secara bergantian non-stop selama 24 jam setiap hari. Dari gerakan ini, kita pun kian dimampukan untuk bersikap rendah hati, lepas bebas, ikhlas dan tanpa pamrih.

Ya Yesus, anugerahkanlah kepada kami kerendahan hati, tulus tanpa pamrih dan selalu mengandalkan Engkau, kini dan selamanya. Amin.

Photo credit: Ilustrasi berdoa (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.