Berbelaskasih seperti Bapa di Surga, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ Sapa 1.000-an Peserta Rekoleksi

SAYA berterima kasih sudah mampu duduk di hadapan saudara-saudari sekalian, pada rekoleksi Tahun Belas Kasih hari ini, Minggu (28/2). Pada kesempatan ini, saya berterima kasih atas doa dan perhatian untuk saya. Pada pembukaan Tahun Belas Kasih saya, Minggu (13/12/2015), tidak bisa memimpin pembukaan Pintu Suci.

Pada awal Desember yang lalu saya mengalami sakit, sehingga saya harus beristirahat beberapa waktu.

Saya juga merupakan orang yang membutuhkan belas kasih yang saya rasakan melalui perhatian dari saudara-saudari, dukungan untuk pengobatan dan perawatan dari para perawat. Inilah belas kasih Tuhan yang diberikan kepada saya dalam kelemahan saya.

Melalui perhatian dan doa yang luar biasa itu, saya boleh menyapa Anda sekalian. Doa memberikan keberanian. Paus Fransiskus mengatakan bahwa doa memberikan keberanian, kekuatan dan ketabahan. Doa menjadi ciri khas bagi orang beriman Katolik yang baik dan cara menjadi suster, imam yang baik. Berdoa memberikan kekuatan yang luar biasa untuk melayani dan memberikan kasih.

Allah tidak dapat mengingkari diriNya yang adalah kasih. Karena itu, Allah tidak dapat membenci dan mendendam. Dia mengambil inisiatif dengan berlari lebih cepat mendahului dan menyongsong siapa pun yang datang kepadaNya.

Mengapa Paus Fransiskus begitu dicintai dan memberi harapan akan dunia ini? Karena dia melihat fenomena belas kasih yang semain berkurang. Kok di dunia manusia tidak saling mencintai, bumi ini dihancurkan?

Uskup Sudarso2Uskup Agung Keuskupan Palembang menyapa umatnya saat berlangsung rekoleksi sehari bersama 1.000-an umat di sebuah paroki di Palembang. (Ist)

Kita tahu bumi kita sudah rusak, panas luar biasa, tidak bisa menanam apa pun pada musim tertentu. Hal ini menyebabkan banyak orang menderita. Bumi dimonopoli oleh sebagian orang, maka ia menyerukan bahwa bumi ini rumah kita bersama. Bumi seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang?

“Coba kalau kamu yang menyelenggarakan dunia ini memperhatikan dunia ini! Dunia mulai hancur. Rumah kita bersama hancur karena kelakukan manusia,” kata Paus Fransiskus di hadapan para pemimpin dunia pada Sidang PBB tahun lalu.

Kehadiran terorisme menghancurkan manusia. Mengapa orang tidak menghargai manusia? Padahal Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Tuhan? Dalam diri saudara-saudara kita ada Tuhan.

Gambaran Tuhan adalah Kristus Tuhan yang menjadi manusia, menderita, wafat dan bangkit. Dengan demikian, ada jaminan bahwa sesudah kematian ada kebangkitan. Kristus yang bangkit itu hadir dan hidup dalam Gereja. Kita menjadi tempat Tuhan hadir terus-menerus dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman kristiani.

Syukur atas anugerah Tuhan yang turun menjadi manusia. Kalau Dia tidak menjadi manusia, kita tidak tahu mau ke mana? Maka sebetulnya puncak belas kasih terletak dalam Yesus Kristus. Allah lari mengejar kita dalam Yesus yang menjadi manusia. Ini gambaran Allah yang paling jelas dalam Kristus.

Bapa Suci mengharapkan Gereja menampakkan belas kasih Allah, agar dunia mulai menghentikan teror, saling membunuh, membenci dan menguasai. Melalui Gereja, Allah menampilkan belas kasihNya. Allah itu rahim, sehingga manusia berada dalam belas kasihNya. Seperti saat berada di dalam rahim, kita hidup melalui ibu. Setiap orang mesti menjadi rahimnya Allah, tempat Allah yang menjadi besar.

Bunda Maria melahirkan Yesus, orang Kristiani menjadi rahim melalui pembaptisan. Karena itu, Allah tidak pernah membenci manusia, karena dia melihat diriNya sendiri dalam diri ciptaanNya. Tidak mungkin ia membenci.

Gereja (umat) diharapkan menampilkan belas kasih Allah itu. Ia mengingatkan pada belas kasih Allah yang mengampuni. Tetapi untuk mengalami belas kasih, kita harus hidup sederhana. Dalam kesederhanaan, hal-hal besar bisa tumbuh. Kita dapat berdedikasi dengan baik, kalau kita dapat hidup sederhana. Sederhana menjadi tanah-tanah yang subur, tempat tumbuhnya biji-biji kebaikan. Bahkan Tuhan menjadi manusia yang sederhana.

Banyak orang mengalami kesulitan karena gampang terluka, gampang marah. Dunia sudah terluka, maka harus disembuhkan oleh belas kasih Allah. Luka itu hadir dalam hidup manusia. Soalnya adalah bagaimana manusia menerima luka itu. Kalau diterima dengan luka, maka manusia terluka, tidak bisa bergerak, tidak bisa mengampuni. Karena itu, kita diharapkan menerima luka dengan hati yang terbuka.

Paus Fransiskus mengimbau umat kristiani berbelaskasih seperti Bapa. Hal ini membutuhkan kesaksian dari Gereja, dari kita sendiri.

Allah itu rahim memberikan diri. Dia baik. Baik itu ditandai dengan selalu memberikan diri. Jadi sifat Allah adalah selalu memberi diriNya, sampai Dia memberikan PuteraNya yang mengalami penderitaan.

Karena itu, Paus Fransiskus menganjurkan agar para imam mengampuni dosa-dosa. Imam bukan orang yang tanpa dosa, tetapi menyadari bahwa dia juga orang yang berdosa. Pengampunan membebaskan orang kristiani. Pengampunan dari orang kristiani memberi kesaksian kepada dunia bahwa Allah selalu berbelaskasih.

Ada sementara orang yang berpendapat bahwa Pengakuan Dosa tidak membutuhkan imam. Orang bisa langsung mengaku dosa kepada Tuhan, beres. Ternyata tidak! Dosa berakibat pada diri orang lain. Sebab itu, Yesus menunjuk orang-orang yang bisa mengampuni dosa. Kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri tanpa peranan Tuhan. Tuhan menggunakan para imam untuk mengampuni dosa-dosa manusia.

Ketika membuka Konsili Vatikan II, Paus Yohanes XXIII mengatakan bahwa belas kasih adalah sikap Allah yang paling tinggi. “Saya mengharapkan Gereja menampakkan itu,” tandas Paus Yohanes XXIII.

Pastoral Gereja mesti mengungkapkan belas kasih itu. Konsili Vatikan II mengharapkan bahwa belas kasih mesti terungkap dalam tindakan-tindakan. Hal ini telah dicontohkan oleh Paus Yohanes Paulus II ketika ditembak oleh Mehmet Ali Agca. Dia memberi kesaksian dalam kesakitannya mengenai belas kasih Allah yang luar biasa. Dia mengampuni sang penembak itu.

Paus Fransiskus mengambil nama Fransiskus Asisi, karena Santo Fransiskus memberi perhatian kepada orang miskin. Ia mencintai ciptaan. Ia merasa diutus oleh Tuhan untuk memperbaiki GerejaNya. Dia anak kaya, tetapi memilih mengikuti Yesus yang menjadi miskin. Dia berdoa di gereja yang rusak di San Damiano. Saat itu, ia diminta oleh Tuhan untuk memperbaiki gerejaNya. Paus Fransiskus ingin memperbaiki Gereja Kristus yang sedang ‘rusak’. Karena itu, bumi ini mesti diperbaiki.

Mengisi Tahun Belas Kasih

Di keuskupan kita, saya sudah membuat surat gembala yang dibacakan di semua paroki. Romo Vikaris Jendral sudah membuka Pintu Suci di gereja Katedral. Ini menjadi simbol keterbukaan kita yang ingin mengungkapkan belas kasih Allah. Gereja harus membuka diri, agar cahaya Allah yang kita imani bersinar dan membimbing kita. Kalau kita memiliki sesuatu yang baik, jangan disimpan sendiri, wartakanlah seperti yang dilakukan Paus Fransiskus.

Banyak hal yang bisa dilakukan. Di sekitar kita banyak orang membutuhkan belas kasih baik dalam karya sosial, karya rohani mendoakan orang yang membutuhkan maupun menasihati orang yang membutuhkan. Kalau kita mau menjadi orang Katolik yang baik, kita mesti rajin berdoa yang bukan sekedar berbicara kepada Tuhan.

Masa Adven, Prapaskah, APP itu kesempatan untuk berbelaskasih. Melalui APP, sekian persen dikumpulkan untuk membantu korban-korban musibah. Inilah persembahan dari umat yang terlibat untuk Tanah Air kita. Hal ini mesti dihayati sebagai kepedulian, seperti Allah yang prihatin kepada hidup manusia. **

avatar Uskup Keuskupan Palembang, Sulsel.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: