Berbahagialah Sang Pembawa Damai

Senin, 09 Juni 2014; Hari Biasa Pekan X; 1Raja 17:1-6; Mzm 121:1-8; Mat 5:1-12
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9)

SETELAH Hari Raya Pentakosta, kembali kita berada dalam masa biasa. Pekan ini adalah masa biasa pekan ke-10 seturut penanggalan liturgi kita. Memasuki masa biasa pekan ke-10, kita dibekali dengan “Delapan Sabda Bahagia” dari Yesus Kristus. Kita bisa merenungkannya sesuai situasi dan keadaan kita masing-masing.

Izinkanlah saya menaruh perhatian pada Sabda Bahagia yang ke-7. Sabda ini menampilkan sumber kebahagiaan yang hari-hari ini sungguh dirindukan oleh banyak orang di seluruh dunia ini, juga di negeri kita ini. Kebahagiaan dihubungkan dengan sikap membawa damai. Orang yang membawa damai akan disebut orang yang berbahagia dan disebut pula sebagai anak-anak Allah.

Dalam hal ini, kita diberi contoh yang baik oleh Paus Fransiskus. Kemarin malam, pukul 19.00 waktu setempat, di Vatikan diselenggarakan doa bersama demi perdamaian di Tanah Suci. Paus Fransiskus berdoa bersama Shimon Peres (Presiden Israel) dan Mahmoud Abbas (Presiden Palestina). Hadir pula dalam doa perdamaian ini Patriarkh Bartholomaios dari Konstantinopel.

Doa dirangkai dengan seni musik dan doa damai. Secara berurutan, sesuai dengan kronologis urutan keberadaannya di dunia, doa dimulai dari tradisi Yahudi, Kristiani (Katolik) dan Islam. Doa seturut tradisi Yahudi dilaksanakan dalam bahasa Ibrani. Doa seturut tradisi Katolik dilantunkan dalam tiga bahasa: Inggris, Italia dan Arab. Doa seturut tradisi Islam dilaksanakan dalam bahasa Arab.

Maka, kemarin malam, Vatikan menjadi ajang doa damai tiga tradisi agama-agama yang mengacu kepada Abraham sebagai leluhur iman (Abrahamic religions). Doa, musik, nyanyian dan meditasi demi perdamaian dilantunkan. Vatikan menjadi ajang kidung damai saat dua pemimpin yang secara politis terlibat dalam konflik dan perang (Shimon Peres dan Mahmoud Abbas) bisa hadir berada bersama dalam ruang suci bernama doa perdamaian.

Sayangnya, selalu tidak muda membawa damai. Akan selalu ada orang-orang yang tidak mencintai damai-sejahtera terwujud di antara kita. Namun kita tidak boleh menyerah dan putus asa.
Santo Johanes Paulus II pernah berkata, “Ada cara menghujankan damai-sejahtera bagi dunia. Itulah yang kita lakukan dalam doa hening dan sembah sujud kita di hadapan Sakramen Mahakudus melalui Adorasi Ekaristi Abadi. Cara terbaik, yang paling meyakinkan dan yang paling efektif untuk menegakkan perdamaian yang tak berkesudahan di muka bumi adalah melalui kekuatan besar Adorasi Ekaristi Abadi.” (Vatikan, 02/12/1981).

Paus Fransiskus Shimon Peres Mahmoud Abbas Bartholomeus by Reuters VOA

Paus Fransiskus berhasil mempertemukan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Israel Shimon Peres dan Patriark Bartholomeus, pemimpin Gereja Katolik Orthodoks. (Photo courtesy VOA)

Marilah berdoa bersama St. Fransiskus Asisi

“Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Ya Tuhan,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.”

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.