Berawal dari Keputusan

Ayat bacaan: Keluaran 4:11-12
======================
“Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.”

Menulis renungan setiap hari untuk teman-teman berawal dari sebuah keputusan yang mulanya saya anggap cukup nekad. Pada saat itu saya bukanlah orang yang paham mengenai berita kebenaran di dalam buku tebal yang disebut alkitab. Saya baru bertobat beberapa tahun sebelumnya dan masih sering ketiduran ketika mencoba membaca Alkitab. Mungkin anda pun pernah mengalami masa-masa seperti itu. Pada suatu hari sepulang gereja, tiba-tiba saja di dalam hati saya terdengar panggilan untuk menulis renungan untuk kalangan peselancar internet, yang kebetulan memang menjadi dunia yang saya geluti. Renungan harian, ditulis oleh saya? Saya waktu itu belum pernah menulis, berdoa masih bolong-bolong dan membaca Alkitab pun masih malas. Apa yang mau ditulis jika seperti itu? Sebulan sekali saja susah dibayangkan, apalagi setiap hari. Itu yang saya jawab dalam hati, tapi kembali suara tertanam di dalam hati saya yang masih saya ingat sampai sekarang: “Aku bukan menanyakan kemampuanmu, tapi kemauanmu.” Saya tidak tahu apakah itu sanggup saya lakukan atau tidak, tapi saya segera memutuskan untuk patuh. “Saya mau, Tuhan. Pakai saya.” itu jawaban saya selanjutnya. Sesampainya di kosan (saya masih nge-kos pada saat itu), saya langsung membuka blog ini dan mulai menulis. Hari ini saya sudah menulis hari perhari di tahun ke 7. Betapa luar biasa rasanya mendapat pengetahuan singkapan setiap hari untuk kebutuhan menulis tanpa jeda. Pertumbuhan luar biasa, feedback-feedback yang terasa membahagiakan, bukan untuk kepuasan saya melainkan ketika melihat orang bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan lewat firmanNya. Ada banyak kesaksian yang datang. Dan buat saya pribadi,  saya mengalami banyak keajaiban Tuhan yang sebelumnya belum pernah saya alami. Sebuah rumah yang tidak pernah terbayangkan bisa saya miliki kemudian menjadi milik saya tanpa kredit, seorang istri cantik yang sangat sempurna buat saya, pintar dan takut akan Tuhan, dan yang terpenting, penyertaanNya begitu kuat terasa setiap harinya. Tidak sekalipun Dia membiarkan kami terjatuh dan kekurangan. Masalah memang tetap ada, tapi penyertaanNya membuat kami bisa melewatinya tanpa kehilangan sukacita. Dan pada saatnya ketika tangan Tuhan turun, kami bisa menjadi saksi langsung bagaimana Tuhan mampu melakukan hal yang diluar logika. Itu bukan hanya sekali dua kali terjadi, tapi sudah terlalu sering untuk disebut sebagai kebetulan. All glory to God, saya bersyukur dan bangga telah Dia pilih untuk menjadi salah satu pekerjaNya di dunia internet.

Melanjutkan renungan terdahulu mengenai making decision atau mengambil keputusan, hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab, maka anda akan mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil.

Adalah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan (bahasa sekarangnya ngeles), berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.

Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. “Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat dengan mengubah tongkatnya menjadi ular. Patuhkah Musa? Ternyata belum. Ia kembali mengeluarkan alasan. “Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (ay 10). Tuhan kemudian mengingatkan Musa bahwa semua yang ada pada Musa itu Dia sendiri yang menciptakan. “Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” (ay 11). Ayat ini jelas mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai dan mengajar kita dalam melakukan tugas-tugas Kerajaan. Bukan kehebatan dan kekuatan kita yang Tuhan minta, tetapi kepatuhan kita. Tapi Musa masih ragu dan berkelit lagi. “Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (ay 13). Ketika Tuhan marah melihat reaksi Musa,  Musa kemudian takut, dan memutuskan untuk ikut perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita bisa melihat keputusan Musa untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan. Kita tahu bagaimana Tuhan kemudian memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap dikenang orang hingga hari ini dan menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah dunia.

Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia terlalu muda untuk menjalani tugas berat dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Kepada Yeremia Tuhan mengatakan: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.” (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (ay 8). Atau Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Dari contoh-contoh ini jelas terlihat bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan boleh mengutus, namun jika orang yang bersangkutan tidak mengambil keputusan maka tidak akan bisa membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan. Dampaknya seringkali bukan hanya untuk diri sendiri melainkan menyangkut kehidupan banyak orang dalam skala berbeda tapi sangat mungkin untuk meningkat atau bertumbuh.

Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Apa yang menjadi kendala bagi anda untuk masih belum bekerja untuk Tuhan? Percayalah bahwa ketika anda menjalaninya, anda akan melihat sendiri bahwa yang diinginkan Tuhan hanyalah kerelaan kita untuk membagi sedikit waktu. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Bukankah adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

Tuhan tidak memerlukan kuat dan hebat kita, yang Dia inginkan hanyalah kemauan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.