(sambungan)

kasih yang sejati

Kasih yang sejati itu baik adanya dan mengacu kepada kebenaran serta pengharapan.
Seperti yang kita baca dalam 1 Korintus 13:4-7,“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Adalah mudah bagi kita untuk berkata bahwa kita mengasihi, namun elemen-elemen yang terdapat di dalam kata kasih sesungguhnya tidaklah sederhana. Semua itu apabila kita aplikasikan dalam kehidupan kita akan mampu membuat kita tampil berbeda di sekitar kita. Menjadi terang dan garam tidak akan bisa kita jalankan tanpa mengaplikasikan kasih sejati dengan segala elemennya dalam kehidupan kita.

Kasih yang sejati peduli kepada kepentingan orang lain
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak hanya mementingkan kebutuhan kita, tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain. “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4). Dalam 1 Yohanes 3 dikatakan “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (ay 17). Mengenai hal ini kita bisa melihat contoh yang baik dari cara hidup jemaat mula-mula. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,sambil memuji Allah.” (Kisah Para Rasul 2:44-47a). saling memperhatikan, saling membantu, saling mendukung, saling mengingatkan dan saling mendorong, itu adalah salah satu wujud nyata dari sebuah kasih sejati seperti yang diinginkan Tuhan untuk kita miliki.

Kasih yang sejati adalah kasih yang mampu menjangkau musuh sekalipun
Yesus berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Itulah sebuah panggilan yang akan mampu membuat kita menjadi anak-anak Tuhan, seperti yang dikatakan Yesus pada ayat berikutnya. Mudahkah? Tentu saja tidak. Tetapi Yesus sendiri telah menunjukkan besar kasih seperti itu dengan tetap mendoakan dan meminta pengampunan atas orang-orang yang menganiayaNya tanpa rasa perikemanusiaan sedikitpun.

Kasih yang sejati siap berkorban
Yesus menyatakan “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13). Tidak hanya mengatakan, tetapi Yesus sendiri telah membuktikan secara langsung diriNya sebagai seorang Sahabat sejati yang rela memberikan nyawaNya demi keselamatan umat manusia tanpa terkecuali. Para rasul kemudian mengikuti jejak Yesus pula dengan menyerahkan nyawa mereka demi mewartakan Injil seluas-luasnya ke seluruh penjuru. Jika kita sebenarnya harus siap hingga sampai pada tingkatan ini, mengapa kita masih saja sulit untuk sekedar mengampuni? Ini sebuah tingkatan kasih yang mungkin sulit untuk kita jangkau, tetapi seperti itulah tingginya nilai kasih dalam Kekristenan.

Sudahkah kita melakukan hal-hal yang menggambarkan nilai-nilai kasih sejati seperti itu di lingkungan kita sehari-hari? Jika kita belum sanggup melakukan poin terakhir, setidaknya sudahkah kita menyatakan kasih kita lewat tindakan nyata, kepedulian terhadap sesama, mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang mereka? Atau dalam contoh sederhana di dalam rumah tangga, sudahkah kita menyatakan cinta kepada pasangan dan anak-anak kita, atau kita masih terlalu sibuk beraktivitas tanpa hadir secara cukup bagi mereka? Sebuah kasih memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi, yang bahkan mampu menggerakkan Tuhan untuk merelakan Kristus mati demi kita. Ketika dunia cenderung fokus kepada kebencian, menghalalkan kekerasan karena merasa paling benar dan berhak menghakimi, kasih yang sejati mengajarkan kita untuk bertindak sebaliknya. Kasih mencakup segala perilaku yang baik yang akan mampu menunjukkan sebuah perbedaan nyata di dunia yang berpikir sebaliknya. Seperti apa yang diinginkan Tuhan kepada kita, marilah kita mulai membagikan kepada dunia kasih yang telah dibagikan Tuhan kepada kita.

Kasih bukan cuma dirasakan, tetapi harus tertuang dalam perkataan dan perbuatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.