Benteng Portugis Jepara, Memori Kejayaan Maritim Nusantara (2)

Jepara Benteng Portugis objek wisata ok

BAGI pencinta sejarah maritim, ada baiknya melongok situs bangunan kuno yakni Benteng Portugis di pinggir Pantai Donorojo, Jepara. Memang tidak ada bangunan yang kokoh, tembok raksasa, menara pengawas, meriam besar apalagi galangan kapal. Tidak ada kisah petualangan heroik di laut seperti wiracarita La Galigo di Bugis atau Hikayat Hang Tuah di Melayu.

Bukankah dalam kesusastraan Jawa memang jarang sekali ditemukan pujian mengenai petualangan di laut? Namun berdiri di Benteng Portugis itu siapa tahu bisa menghidupkan imagi kejayaan maritim Nusantara ini.

Kini di lokasi yang konon dibangun bangsa Portugis ini, memang tinggal reruntuhan tembok berbentuk persegi empat yang terletak di atas bukit. Di tengahnya ada lahan kosong dibiarkan tumbuh beberapa pohon peneduh. Di area dalam sebelah utara terdapat satu bangunan agak kusam yang juga digunakan sebagai tempat berteduh pengunjung. Selain itu terdapat beberapa replika meriam yang ditempatkan di sisi utara dan timur benteng yang langsung berbatasan dengan laut lepas.

Pemerintah Daerah Jepara menyadari potesi wisata ini dan membangun beberapa bangunan baru di bawah bukit. Selain bangunan pintu gerbang besar yang sekaligus berfungsi sebagai perkantoran, ada pula fasilitas lain seperti panggung hiburan, kantin, penginapan, serta parkir yang luas.

Misteri nama Portugis
Letak benteng yang tepat di bibir Pantura ini cukup menawan. Ombaknya tidak begitu deras, batu-besar, juga pasir putih dan pepohonan yang masih alami. Yang menawan lagi dari objek wisata ini, pengunjung bisa menikmati matahari terbit dan sekaligus matahari terbenam. Seorang warga menuturkan tempat ini pernah menjadi lokasi syuting film “Siti Nurbaya”.

Di sebelah utara beteng, terdapat sebuah pulau kecil. Mondolika namanya. Pulau ini terlepas dari Pulau Jawa dan hanya dihuni oleh karyawan Pemda Jepara yang bertugas menyalakan dan mematikan lampu mercusuar.

Selain keindahan alam itu, salah satu nilai tambah destinasi wisata yang terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo ini adalah misteri nama Portugis itu sendiri. Kalau benteng itu betul dibangun bangsa Portugis itu berarti menunjukkan adanya persinggungan kepentingan, budaya, jaringan perdagangan maupun militer Nusantara dengan Portugis di Jawa.

Jepara Benteng Portugis objek wisata tugu ok

Tugu Benteng Portugis: Sebuah bangunan baru berdiri sebagai petunjuk arah Benteng Portugis di Jepara, Jateng (Balai Budaya Rejosari/Romo YB Haryono MSF).

Pengintaian
Dalam sebuah wawancara dengan seorang tokoh lokal, kami diyakinkan bahwa benteng ini sungguh merupakan peninggalan bangsa Portugis. Benteng itu dibangun sebagai tempat pengintaian. Untuk menjamin keamanan perdagangan bangsa Portugis dari saingan seperti Inggris dan Belanda serta untuk mengawasi para perompak yang melintasi daerah Jepara, maka benteng ini dibangun.

Sumber yang lain mengkaitkan keberadaan benteng ini dengan sejarah Raja Mataram Sultan Agung yang menyerang Belanda di tahun 1628 dan 1629. Merasa terusik bahaya yang mengancam dari situasi jatuhnya kota Jayakarta ke tangan Belanda, Sultan Agung mempersiapkan angkatan perangnya guna mengusir penjajah Belanda.

Ia berpikir bahwa VOC Belanda hanya bisa dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan. Karena Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, ia meminta bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC yaitu Bangsa Portugis.

Namun peneliti seperti Denys Lombard lebih hati-hati mengatakan bangunan seperti Benteng Portugis di Donorojo ini sebagai pengaruh bangsa Portugis. Dalam buku Nusa Jawa, dia mengatakan bahwa di Jawa muncul suatu kenangan akan bangsa Portugis. Pada tataran utama kenangan itu muncul dalam bentuk historiografi rakyat; meriam tua atau pun reruntuhan benteng yang menurut tradisi setempat berasal dari zaman Portugis sebenarnya hampir selalu berasal dari zaman Belanda.

Ini merupakan gema dari historiografi kolonial yang membesar-besarkan wiracerita Portugis.

Siapa pun pembangunnya, benteng yang terletak 45 km di sebelah timur laut Kota Jepara ini secara geografis, nampaknya strategis untuk kepentingan militer. Benteng ini dibangun di atas sebuah bukit batu di pinggir laut dan persis di depannya terhampar Pulau Mondoliko. Bila di zaman itu, kemampuan tembakan meriamnya cukup untuk 2 hingga 3 km, praktis selat yang ada di depan benteng ini berada di bawah kendali Meriam Benteng sehingga akan berpengaruh pada pelayaran kapal dari Jepara ke Indonesia bagian timur atau sebaliknya.

Kapal tempur Pati Unus
Selain wiracarita Portugis, kita sebetulnya perlu mengangkat wiracarita bangsa sendiri. Bangsa kita ini perlu menarik perhatian lagi pada kejayaan maritim sendiri. Kisah-kisah heroik dan inovasi bangsa sendiri jarang sekali digali, diangkat serta dicintai bangsanya sendiri.

Jepara sebetulnya memiliki nama yang harum dalam dunia maritim. Sebagaimana ditelusuri Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa, bangsa Portugis sendiri mengakui armada istimewa buatan Jawa ini. Portugis yang kita kenal sebagai bangsa penakluk lautan ini pun mengakui bahwa armada yang dibuat di Jepara itu merupakan armada paling besar yang mereka kenal.

Mereka mengetahui kapal hebat Jawa itu karena dalam bulan Januari 1513 Pati Unus dari Jepara mengirim pasukan ke Malaka. Entah benar atau tidak, namun ada catatan bahwa kira-kira seratus kapal, empat puluh jung dan enam puluh lancara, yang paling kecil berkapasitas 200 ton. Pati Unus dikatakan memerlukan waktu lima tahun untuk membangunnya di galangan-galangannya di pesisir.

Joao de Barros pun mengakui bahwa kapal-kapal Jawa waktu itu sungguh luar biasa. “Kapal itu merupakan kapal tempur yang amat besar dengan papan-papannya berlapisan di semua sisi yang terbentuk dari papan tujuh lapis yang direkat satu sama lain dengan turap beraspal, bagaikan dinding benteng yang tebal. Pati Unus mengandalkannya sebagai benteng apung yang sesungguhnya (“en modo de fortaleza”) guna memblokir daerah sekeliling Malaka”.

Jepara Pantai ok

Pantura Timur: Wilayah kawasan Pantai Utara Jawa atau yang populer disebut Pantura merupakan garis pantai memanjang dari Jakarta-Cirebon-Tegal-Pekalongan-Semarang-Kudus-Pati-Tuban-Gresik, Surabaya. Belum banyak digali kawasan potensi wisata dan sejarah terutama di kawasan sepanjang Pantura Timur mulai Semarang hingga Surabaya. (Balai Budaya Rejosari/Romo YB Haryono MSF)

Segera sesudah bentrokan senjata, Kapten Ferenao Peres de Andrade yang harus bertahan terhadap penyerbuan Pati Unus itu menulis surat kepada Albuquerque. Dia mengisahkan bahwa jung besar itu mengangkut kira-kira seribu pejuang dan dibandingkan dengan kapal Anunciada, salah satu kapal Portugis, kapal mereka itu tidak pantas lagi disebut kapal. “Peluru meriam kita yang paling besar pun tidak berhasil menerobos badan kapal itu” tulisnya.

Mutu bangunan-bangunan kapal itu dikagumi oleh orang Portugis. Tak mengherankan mereka bahkan mengirim kira-kira enam puluh ahli Jawa ke Kocin bersama dengan keluara mereka supaya bisa dipekerjakan untuk orang Portugis itu.

Selain membuat decak kagum bangsa Portugis, kapal-kapal dagang Jawa juga menarik perhatian bangsa lain. Duarte Barbosa mengisahkannya saat kapal dagang Jawa sampai di India. “Banyak kapal yang sampai di sini dari Jawa, tiang layarnya empat buah; kapal-kapal itu berbeda sekali dengan kapal-kapal kita. Buatannya dari kayu tebal dan bila sudah mulai menua, lapisan badan kapal diperkuat dengan menambahkan di atasnya selapis papan baru, dan demikian seterusnya sampai tiga empat kali. Layar-layarnya dibuat dari rotan, begitu juga tambang-tambangnya”.

Pohon jati

Kayu jati by Prasetyo Utomo

Tumpukan kayu jati: Inilah koleksi kayu jati produksi hutan kawasan Jati di sekitar Rembang, Jepara dan sekitarnya (Ilustrasi/Courtesy of Prasetyo Utomo)

Kehebatan kapal dan galangan-galangannya di Pesisir ini dimungkinkan karena adanya hutan-hutan jati yang membentang sepanjang pantai utara khususnya Jepara dan Rembang. Jati memang tidak hanya terdapat di pesisir Jawa. Di Nusantara, hampir selalu ada pohon jati, dan umumnya hutan jati itu tidak jauh dari pesisir dan namanya selalu sama, jati.

VOC pun tertarik pada hutan jati pesisir ini sehingga sejak awal keberadaannya di Nusantara ini sudah mendekati dengan mendirikan lojinya yang pertama di Jepara. Pemesanan kayu jati ini akan menjadi masalah pertama yang terus menerus harus diselesaikan oleh utusan-utusan VOC dengan penguasa kraton Mataram.

Waktu Inggris datang ke bumi Nusantara, industri galangan kapal pun telah mendapat perhatian mereka. Pembantu Raffles di Jawa, John Crawfurd membuat catatan tentang keadaan ini di tahun 1856. “Pembuatan kapal merupakan seni yang telah dipraktikkan di sepanjang pantai utara Jawa. Ada beragam kapal….segala ukuran dan bentuknya, dari sekedar kano untuk memancing hingga kapal yang berberat 50 ton yang melayari sungai-sungai besar. Di Jawa tidak lebih dari empat nama kapal; prau, jong, baita dan palwa, semuanya adalah nama-nama asli pribumi. Pembangunan kapal sekarang memang dibawah arahan orang Eropa namun semua tukang ahlinya adalah orang Jawa”.

Dari reruntuhan Benteng Portugis kita justru diingatkan akan kejayaan bangsa kita sendiri. Bangsa lain mengagumi kita lantaran kehebatan tehnologi perkapalan kita. Bangsa lain datang ke Nusantara ini lantaran kekayaan dan keunikan kita. Kalau bangsa kita merindu wiracarita tentang kehebatan bangsa, kita perlu semakin banyak menggali. Kiranya kita akan menemukan banyak kisah kepahlawanan, penemuan serba mengagumkan yang membuat bangga sebagai bangsa.

Kekayaan tidak hanya datang dari bangsa lain tapi dari kekayaan negeri sendiri.

Jepara Benteng Portugis ok

Benteng Portugis di Donorojo, Jepara, Jawa Tengah (Balai Budaya Rejosari/Romo YB Haryono MSF)

Gereja tua berarsitektur Belanda

Gereja tua berarsitektur Belanda (Balai Budaya Rejosari/Romo YB Haryono MSF)

Kredit foto: Benteng Portugis di Jepara, Jawa Tengah (Balai Budaya Rejosari/Romo YB Haryono MSF).

Tautan: Misteri Benteng Portugis di Jepara, Jateng (1)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.