Bencana Lingkungan dan Kesehatan di Balik Lahan Perkebunan Kelapa Sawit (1)

Kelapa Sawit by Sawit Watch

PERKEBUNAN kelapa sawit, pada hemat saya, membuat masyarakat menderita.

Untuk kesekian kalinya,  saya menyediakan waktu khusus untuk menulis sesuatu tentang topik ini. Secara lebih khusus tentang masalah kelapa sawit, agar  orang menjadi ngeh atas masalah besar di balik luasnya lahan perkebunan kelapa sawit.

Bisa jadi, ketidakacuan ini disebabkan oleh ketidaktahuan mereka atas dampak lebih luas bahkan lebih serius dari projek raksasa kelapa sawit bagi rakyat Indonesia.

Mudah-mudahan lumbung gagasan ini bisa lebih serius diangkat dalam proyek socio-ekonomi JPIC dari para tarekat religius Indonesia.

Saya beri judul proyek kelapa sawit (palm oil) sebagai “bom waktu” terhadap environment and health terhadap rakyat Indonesia.

Fenomena umum

Selama ini, keprihatian akan projek kelapa sawit berkisar pada fenomena umum ini. Yakni, terjadinya penggusuran tanah-tanah adat di wilayah-wilayah hutan Indonesia di Papua, Kalimantan dan Sulawesi, dll. Alhasil, masyarakat lokal pemilik tanah-tanah ulayat menjerit terhimpit karena menjadi subjek tergusur dan tercabut dari hak-hak asasi mereka atas tanah-tanah ulayat sebagai lahan daily livelihood mereka.

Dan itulah, yang dengan gigih tengah diperjuangkan oleh JPIC MSC Indonesia yang dimotori Brur Wempi dalam rangkaian advokasi paralegal bagi indigenous communities.

Mega-problem di belakang sawit

Tapi, perjuangan Brur Wempi dan JPIC hendaknya ditempatkan dalam suatu problematika yang kini menjadi mega-problem Indonesia yang entah mengapa belum mau disadari oleh para pihak tentang dampak yang amat serius dari proyek kelapa sawit.

Ada dua  masalah serius, selain penggusuran tanah ulayat, yang tengah menjadi bom waktu bagi Indonesia sendiri bila tak mau diambil serius.

  1. Dampak Lingkungan
  2. Dampak Kesehatan rakyat Indonesia.

Dampak lingkungan
Dari studi-studi sosial yang kugeluti dari lingkup ilmu dan kesertaanku dalam forum-forum dialog indigenous people dunia perihal tanah-tanah layat yang diprakarsai World Bank, projek raksasa kelapa sawit punya syarat-syarat operasional seperti ini:

  • Sawit sangat membutuhkan lahan tanah amat luas di wilayah berupa continental — bukan wilayah pulau yang tanggung keluasannya.
  • Harus di daerah tropis dengan rainfalls (curah hujan) cukup memadai dan tinggi.
  • Kondisi tanah tidak rentan mengering, yang di Indonesia banyak dialami oleh pulau-pulau tertenu semisal wilayah Nusa Tenggara dan sebagian terbesar tanah Papua, yang pori-pori tanah untuk rembesan air lebih lebar dari pori-pori tanah di pulau lain yang menyebabkan pengeringan air lebih cepat dan lebih rentan.
  • Sawit tidak dianjurkan berdekatan dengan kawasan penduduk, karena penggunaan air tanah dari kelapa sawit amat tinggi, lebih tinggi dari rata-rata tanaman-tanaman crops lainnya. Dan ini menjadi masalah amat serius bila projek sawit ada di tanah-tanah yang pori-pori rembesan airnya agak lebar semisal tanah Papua dan Nusa Tenggara.

Catatan: Untuk poin ini badan dunia dari the Center for Global Development menganjurkan agar kelapa sawit harus ditempatkan only in “degraded” lands and areas outside Carbon-rich forests and peatlands agar jangan sampai menyerap air yang dibutuhkan oleh hutan-hutan sekitar dan lahan-lahan gambut yang kaya karbon. Artinya, keberadaan sawit akan mengancam kesuburan tanah-tanah di sekitarnya, karena menyerap air yang luar biasa besarnya. Sawit naturalnya harus tergantung dari air hasil curah-hujan yang tinggi, dan bukan tergantung dari kesuburan tanah belaka.

This picture taken 02 November 2007 show

Luasnya lahan perkebunan kelapa sawit: Dimana-mana tak ada ceritanya kalau perkebunan kelapa sawit itu hanya menggunakan lahan kecil. Sebaliknya lahan sawit selalu sangat luas dan makan konsumsi air berlebihan hingga merusak tatanan sistem air setempat. (Ilustrasi/Raptor)

Ancaman-ancaman kelapa sawit terhadap lingkungan

Berdasarkan profil-operasi kelapa sawit tadi, maka dampak dari pemaksaan projek-projek kelapa sawit adalah sebagai berikut:

  1. Penyerapan air amat tinggi membuat lahan-lahan sekitar perkebunanan kelapa sawit kekurangan air, dan akan mati karena tidak subur akibat airnya tersedot oleh kelapa sawit.
  2. Lahan di pulau-pulau yang curah hujan dipandang kurang, mengakibatkan para pengusaha kelapa sawit cednderung membuka lahan-lahan baru dengan akibat flora dan fauna terbasmi, termasuk habitat-habitat hewan tergusur, dan matinya spesies tumbuh-tumbuhan khas Indonesia, termasuk aneka spesies tumbuhan langka dan tanaman herbal yang amat kaya di Indonesia.
  3. Kegoblokan pengusaha-pengusaha kelapa sawit amat kelihatan dalam pengembangan lahan-lahan baru kelapa sawit, karena para pengusaha goblok ini tidak menyadari bahwa persyaratan paling utama dari proyek kelapa sawit bukanlah tanah-tanah subur, tetapi jumlah curah hujan yang seharusnya tinggi untuk mensuplai air ke sawit. Akibatnya, tanah-tanah baru yang suburlah yang dikorbankan dengan pembukaan tanah-tanah baru, yang pada gilirannya membuat matinya flora-fauna yang kaya oksigen yang memproteksi efek rumah kaca dan pembocoran ozon langit. Efek rumah kaca dan pembocoran ozon ini semakin tinggi, karena penggundulan hutan semakin besar-besaran sekarang ini (deforestation) untuk kepentingan kelapa sawit, yang mengakibatkan lahan-lahan carbon yang kaya menguap.

Saran untuk JPIC

Brur Wempi yang baik,

  1. Bila tidak keberatan, poin-poin krusial inilah yang tidak kalah penting untuk dimasukkan dalam upaya-upaya advokasi bagi masyarakat akar rumput, selain masalah-masalah hak asasi manusia dan penggusuran tanah ulayat. Yakni bahwa mereka sudah kehilangan tanah-tanah ulayat, kini mereka terancam keitdaksuburan tanah dan kekeringan air ditambah dengan kehancuran hutan-hutan luas yang berakibat pada kerusakan ozon dan efek rumah kaca.
  2. Penyumbang efek rumah kaca tidak hanya akibat gas-gas dari aneka polusi industri dan cairan-cairan polusi gas dari mobil dan kendaraan bermotor, tapi juga penipisan hutan-hutan kaya oksigen yang diobok-obok sekarang ini karena ngotot projek Kelapa Sawit.
  3. Mumpung Brur ada di Kalimantan, coba tanyakan dan buat studi pendek dampak dari projek kelapa sawit atas kekeringan tanah dan pengurangan kesuburan tanah, yang banyak dialamai rakyat Kalimantan, yang kerap diangkat dalam forum-forum World Bank dimana saya hadir berkali-kali.
  4. Kemendesakan ini amat perlu disosialisasikan, karena pemerintah SBY telah mengatakan bahwa Indonesia akan memproduksi dua kali lipat (men-double) produksi-produksi yang berbasis kelapa sawit hingga pada tahun 2020. Artinya, peranggasan hutan dan pencemaran ozon akan berlangsung dua kali lipat hingga tahun 2020. Dan ini telah nyata dalam perubahan-perubahan cuaca yang amat dahsyat akhir-akhir ini di belahan Asia yang kaya hutan. Ingat 80% dari lahan-lahan kelapa sawit di dunia ada di Indonesia dan Malaysia dalam catatan Bank Dunia. Artinya, Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang kerusakan lingkungan alam dunia dan perusak ozon-ozon pelindung hajat hidup manusia.

Kredit foto: Panen kelapa sawit (Courtesy of Sawit Watch)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.