Belas Kasih kepada Sesama dan Semesta

belas kasih kepada sesama by Psychology Today

Jumat, 04 Juli 2014
Hari Biasa Pekan XIII
Jumat Pertama Juli
Amos 8:4-6.9-12; Mzm 119:2.10.20.30.40.131; Matius 9:9-13

Yesus bersabda, “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9:13)

DUA hal yang bisa kita renungkan dari kutipan ayat ini sebagai bekal perjalanan hidup kita, sekurang-kurangnya hari ini. Pertama, Yesus mengajak kita untuk lebih mengutamakan belas kasihan daripada persembahan. Kedua, Yesus datang untuk menyatakan belas kasih-Nya bukan bagi orang benar tatapi orang berdosa.

Bagaimana keduanya bisa kita renungkan dalam konteks hidup kita saat ini? Kita menyadari betapa kata belas kasih amat penting bagi kita. Di satu pihak, belas kasih merupakan hal yang kita butuhkan dari Allah. Di lain pihak, kita juga musti mengembangkan sikap belas kasih dalam hidup bersama.

Kata belas kasih sepadan dengan bela rasa atau “compassion” (dalam bahasa Latin cum + patire = turut merasakan keadaan orang lain, terutama mereka yang menderita). Pertama-tama, belas kasih merupakan sifat Allah yang selalu tertuju kepada kita. Justru karena kita ini rapuh, lemah, ringkih dan berdosa; maka Allah berbelas kasih kepada kita.

Dalam tradisi iman Kristiani, Yesus adalah sosok pribadi yang menjadi tanda belas kasih Allah kepada kita manusia yang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa. Itulah sebabnya Yesus bersabda, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Betapa hidup kita bersama sering tanpa belas kasih. Itulah sebabnya aksi brutal dan kekerasan sering kita dengar, lihat dan alami. Aksi brutal dan kekerasan tak hanya berupa tindakan, tetapi juga yang bersifat verbal. Orangtua terhadap anak. Anak terhadap pembantu. Sesama orangtua di antara suami-istri. Sesama anak dalam keluarga. Juga antara orang dewasa yang berbeda paham, ideologi dan agama bisa muncul kebrutalan dan kekerasan verbal. Simaklah misalnya cara-cara kampanye hitam belakangan ini yang kian brutal. Semua tanpa belas kasih.

Dunia membutuhkan belas kasih. Kita pun diundang untuk berbelas kasih. Untuk itu perlulah kita bertobat secara personal agar bisa mengalami belas kasih Allah dan menjadi pelaku belas kasih kepada sesama dan semesta. Belas kasih kepada sesama kita upayakan melalui perhatian kita kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Belas kasih kepada semesta kita upayakan melalui gerakan ekologis pelestarian keutuhan ciptaan.

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan salah cara kita memperoleh dan mengalami belas kasih Allah. Dengan demikian kita pun tergerak untuk berbelas kasih kepada sesama dan semesta.

Tuhan Yesus Kristus, syukur bagi-Mu sebab Engkau datang untuk memanggil kami orang berdosa. Semoga kami selalu terbuka menyambut kehadiran-Mu agar kami pun berbelas kasih kepada sesama kami, kini dan selamanya. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.