Belas Kasih itu Penting

Ayat bacaan: Matius 9:13
====================
“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Saya termasuk orang yang tidak suka menutup pintu depan. Hampir setiap saat sampai lewat tengah malam, pintu rumah saya biarkan dalam keadaan terbuka sembari saya melakukan berbagai pekerjaan dengan menggunakan laptop ditemani musik dengan speaker biasa. Karena kebiasaan saya ini, saya terbiasa menerima tamu baik tetangga maupun teman-teman lainnya yang bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu meski mungkin saya tengah sangat sibuk menyelesaikan deadline. Mengapa saya mau tetap melayani mereka meski sedang tertimbun banyak pekerjaan? Selain saya memang sangat suka bergaul, saya juga tidak mau menutup diri dan merasa urusan saya yang paling penting. Bagaimana kalau mereka memang sedang terdesak dan memerlukan seseorang dengan segera? Betapa seringnya kita berhadapan dengan orang yang membutuhkan bantuan dengan segera justru di saat yang kurang tepat. Situasi-situasi mendadak ini membutuhkan perhatian segera pula, dan sering membuat rencana harus disesuaikan atau malah berubah di tengah jalan. Kita bisa berkata bahwa urusan kita sangat penting, tapi bagaimana jika apa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih mendesak? Bagaimana jika penolakan, atau penundaan kita ternyata bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal di kemudian hari? Saya belum pernah mengalami sampai seperti itu, tetapi alangkah bahagia rasanya apabila mereka bisa lebih tenang setelah berbincang-bincang. Dan yang paling sering bukanlah meminta bantuan apa-apa tetapi sekedar punya teman berbagi. Mereka tidak mencari solusi, bukan meminta advis, tapi hanya butuh telinga yang mau mendengar.

Melayani memang tidak mudah, namun jika kita melakukannya dengan disertai kasih, maka sukacita ada disana. Ada kebahagiaan yang sulit dilakukan dengan kata-kata bahkan mungkin karenanya waktu bekerja harus menjadi lebih lama. Itu merupakan bentuk panggilan saya. Itu kesempatan bagi saya untuk membagikan firman Tuhan, dan rasa bahagia menjadi lebih saat saya secara langsung banyak orang dipulihkan, dimana kuasa dan kasih Tuhan dinyatakan dalam diri mereka. Seandainya saya menutup diri dan hanya berpusat pada kesibukan sendiri, tentu semua itu tidak akan bisa saya saksikan dan rasa bahagia atau sukacita melihat orang-orang yang dijamah Tuhan pun tidak akan pernah saya rasakan.

Mengacu kepada perjalanan pelayanan Tuhan Yesus saat turun ke dunia, kita menyaksikan bahwa Yesus pun menghadapi hal-hal seperti ini dalam banyak kesempatan. Lihatlah salah satu contoh waktu Yairus, seorang kepala rumah ibadat tiba-tiba datang tersungkur di kaki Yesus, memohon agar Yesus menyembuhkan putrinya. (Markus 5:22-23). Yesus tidak mengatakan “maaf, saya sedang sibuk, lain waktu saja ya..” Yesus sama sekali tidak menolak dan segera mengikuti Yairus untuk melihat putrinya. Dalam perjalanannya ke rumah Yairus, langkah Yesus kembali dihentikan oleh seorang wanita yang menjamah jubahNya. Wanita ini ternyata sudah 12 tahun mengalami pendarahan dan kondisinya semakin memburuk, meski ia sudah berusaha diobati oleh banyak tabib. (ay 25-28). Yesus tidak mengibaskan jubahnya dan mengabaikan si wanita. Dia tidak berkata, “maaf kamu terlambat, saya sudah keburu melayani Yairus.” Atau Yesus tidak berkata: “maaf, Yairus itu kepala rumah ibadat, sedang kamu entah siapa.. jadi jelas dia lebih penting dong..” Tidak. Yesus tidak bersikap seperti itu. Dia menghentikan langkahnya dan melayani sehingga wanita yang menderita penyakit ini menjadi sembuh. (ay 29-34). Seperti inilah keteladanan Kristus yang bagi saya sangat patut untuk diteladani.

Perhatikan apa kata Yesus berikut. “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Matius 9:13). Dalam kesempatan lain kata-kata ini kembali diulang. “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.” (12:7). Tuhan Yesus menghendaki belas kasihan yang dikatakan lebih dari korban persembahan. Ini sejalan pula dengan firman Tuhan dalam Hosea 6:6 yang berkata “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Dua kali Yesus mengatakan hal tersebut, menunjukkan bahwa ajaran ini sangatlah penting.

Mengapa belas kasihan lebih dikehendaki lebih dari persembahan? Karena persembahan bisa jadi didasarkan pada motivasi-motivasi lain di luar rasa belas kasih. Kita bisa memberikan persembahan karena sekedar kewajiban, sekedar syarat, atau agar kita diberkati, atau bahkan agar terlihat baik di mata manusia. Tapi persembahan yang diberikan dari hati yang memiliki belas kasihan tentu berbeda.

Hal ini bisa pula kita lihat lewat kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan di bait Allah. Ada banyak orang kaya memberi dalam jumlah yang besar, namun ibu janda yang miskin hanya memberi dua peser. Tapi si ibu dinilai Yesus memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Sebab apa? “Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (ay 44). Ibu janda memberikan dari kekurangannya, dan itu hanya mungkin dilakukan ketika seseorang memiliki kasih dalam hidupnya. Ibu ini tentu sadar bahwa ia bukanlah orang yang mampu, tetapi kalau dia masih memberi, itu artinya ia merasa bahagia kalau sumbangsih kecilnya bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia tentu menyadari apa yang ia miliki semuanya berasal dari Tuhan juga, dan dengan itu ia pun bisa membagi berkat dan kasih kepada sesamanya. Kembali kepada apa yang dikatakan Kristus di atas, Dia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan, sebenarnya apa yang dilihat Tuhan bukanlah apa yang tampak dari luar, tapi apa yang berasal dari dalam. Apa yang ada dalam hati kita ketika memberi akan membuat perbedaan nyata.

Yesus mengingatkan kita untuk murah hati. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6:36). Seperti halnya Bapa yang begitu murah hati dan melimpah kasihNya, demikian pula seharusnya perbuatan kita kepada sesama. Kepada yang murah hati, yang memiliki hati berbelas kasihan, Tuhan Yesus menjanjikan seperti ini: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Matius 5:7). Mungkin mereka yang butuh bantuan datang di saat-saat yang kurang tepat, saat kita sedang sibuk-sibuknya. Tapi apakah itu berarti kita boleh mengabaikan dan menunda melayani mereka? Seperti halnya Tuhan Yesus, hendaklah kita pun memiliki rasa belas kasihan untuk rela menyisihkan waktu-waktu dan apa yang kita miliki untuk menolong orang yang sedang putus asa dan sangat membutuhkan bantuan. Siapkah anda untuk mengorbankan sebagian dari waktu dan tenaga untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan pertolongan hari ini?

Be compassionate as God is compassionate

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.