Belajar Merasa Disayangi Tuhan

IMG_0318 La Vang menangis1

SALAH satu sharing para suster Claris Singkawang adalah Sr. Maria Magdalena OscCap. Ia adalah suster termuda dari yang sudah kaul kekal. Waktu ia masih berumur 8 bulan, ibunya sudah meninggal. Ayahnya menikah lagi dan ia mengalami dibesarkan oleh ibu tiri sampai umur 10 tahun. Kemudian ia dititipkan kepada budhe-nya (kakak dari bapaknya).

Waktu Sr. Maria sudah masuk biara kontemplatif, belum kaul kekal dan berumur 26 tahun, ayahnya meninggal. Sepertinya Tuhan tidak telalu baik pada Sr. Maria ini. Mungkin Tuhan tidak sayang kepada anak yang malang ini.

Waktu saya kuliah di Roma, saya tinggal di biara bruder-bruder de la Salle. Salah seorang bruder itu adalah ahli psikologi dan pendidikan. Ia ditugaskan di Libanon untuk mengajar anak-anak Sekolah Dasar dan Menengah.

Saya masih ingat bruder itu mengatakan: “Romo, betapa sulitnya mengajarkan kepada anak-anak korban perang bahwa Tuhan mencintai kamu. Mereka tidak bisa membayangkan dan merasakan cinta Tuhan, karena yang mereka alami adalah kejahatan manusia, dan orangtua mereka sudah meninggal akibat perang itu.”

Paus Yohanes Paulus II juga sudah kehilangan ibu – ayah – dan kakak satu-satunya ketika beliau masih muda. Sang Santo ini menjadi frater sampai Paus dalam hidup sebantang kara. Tetapi Paus itu bisa merasakan disayangi oleh Tuhan.

Disayang Tuhan
Sr. Maria Magdalena juga begitu. Saya terkesan dengan cara dan gayanya mengungkapkan pengalamannya tentang penyelenggaraan Tuhan. Juga tentang caranya berkomunikasi dan menyapa Tuhan dalam doa-doa spontan sambil bekerja atau bila ia sedang mengeluh. Di samping doa wajib bersama, banyak kesempatan doa pribadi dan menyapa Tuhan dalam kesibukan setiap hari.

Suster muda itu bahkan menasehati saya.

“Romo, kalau berdoa itu, buatlah seperti berbicara dengan Tuhan. Pendek-pendek. Tidak usah pakai rumusan yang panjang-panjang. Saya belajar itu dari Perjanjian Lama. Musa kalau berbicara dengan Tuhan, bicara langsung. Begitu pula dengan para nabi. Indah sekali. Banyak percakapan dengan Tuhan dalam Perjanjian Lama itu terjadi secara langsung dan sederhana. Tuhan Yesus juga mengajarkan kalau kita berdoa jangan panjang-panjang dan bertele-tele.”

Suatu hari Sr. Maria berdoa kepada Tuhan meminta jalan keluar bagaimana caranya menolong saudaranya yang miskin di kampungnya di pedalaman Kalimantan.

Ia berdoa: “Tuhan, mereka hidup sangat susah. Kasihan Tuhan. Sementara saya di sini hanya bisa berdoa saja. Maka saya mohon, tolonglah saudaraku yang miskin itu supaya hidupnya lebih baik.”

Saya tidak bisa lupa ekspresi kekaguman wajah Sr. Maria karena kemudian ia tahu bahwa ada orang kaya di kota Singkawang yang menolong saudaranya itu, dengan cara memberikan pekerjaan, bahkan memindahkan keluarganya itu dari pedalaman ke kota.
Ia berkata: “Berapa juta uang yang dihabiskan untuk menolong saudaraku itu. Oh Tuhan… terima kasih. Saya sampai sekarang bahkan tidak mengenal orang baik yang menolong saudaraku itu.”

Sr. Maria ini sebenarnya punya banyak alasan untuk marah sama Tuhan, boro-boro merasa disayang Tuhan.

Usianya baru 8 bulan saja, ibunya sudah diambil oleh Tuhan. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari mamanya. Dan ia baru mulai masuk biara kontemplatif dan mau menyerahkan hidupnya seluruhnya kepada Tuhan dan perlu dukungan dari ayahnya, Tuhan juga mengambil ayahnya. Tuhan nampak jahat padanya, Tuhan tidak menyanyanginya!

Tetapi hati Suster Maria ini lain.

Ia merasa disayangi oleh Tuhan. Dan itu yang paling penting baginya. Tuhan menyayangi dia atau tidak, itu tidak penting. Tuhan jahat kerena telah mengambil kedua orangtuanya, itu tidak penting baginya. (Pastilah Tuhan menyayangi Sr. Maria). Yang paling penting adalah Sr. Maria disayangi oleh Tuhan dan perasaan itu membuat ia bahagia dan merasa dekat dengan Tuhan. Ia adalah anak ajaib yang melawan hukum psikologi.

Ia tunjukkan kepada saya buku kumpulan doa pribadinya yang ditulis dengan tulisan tangan yang bagus dan rapi. Itu sepertinya menunjukkan kepribadian dan jiwanya yang damai sehingga tulisannya juga indah. Melihat catatan itu saya ingat buku catatan harian dari St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus.

Sr Maria juga punya penampilan fisik yang menarik, sehingga kalau ia tidak masuk biara, pastilah ia cepat dilamar orang dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Lain lagi pengalaman seorang ibu yang tidak bisa merasakan disayangi. Ia seorang wanita yang cantik dan menikah dua kali dan sudah cerai dua kali. Pertama menikah dan tinggal di Amerika. Kedua menikah dan tinggal di Bali. Terakhir ia pulang kampung di Pekanbaru dan tinggal bersama ibunya yang ia benci juga.

Saya sungguh heran bahwa seorang ibu yang sudah berumur 40-an tahun, tetapi yang ia ceritakan tentang bagaimana ayahnya tidak mencintai dia. Waktu ia masih kecil dan lagi duduk-duduk di sofa, dan mendengar suara mobil ayahnya masuk, ia sudah menunggu ayahnya akan datang dan memeluk dia dan mencium dia.

Tetapi ia tunggu-tunggu ayahnya tidak datang…. ayahnya baca koran dan sibuk dengan hal-hal lain tanpa memperhatikan dia. Pengalaman pahit itu menimbulkan luka batin yang membuat ia tidak bisa merasakan dicintai seumur hidupnya…. hatinya bagaikan lobang menganga yang tidak bisa dipenuhi dengan rasa kasih sayang oleh siapapun… tidak oleh para mantan suaminya, tidak oleh ibunya dan tidak oleh Tuhan juga.

Kasihan sekali dia….!

Seminari Pineleng

Kredit foto: Ilustrasi perempuan menangis di kaki patung Bunda Maria di La Vang, Central Vietnam (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.