Belajar Lewat Penderitaan

Ayat bacaan: Ulangan 4:30
=====================
“Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya.”

belajar lewat penderitaan

Betapa seringnya kita begitu bandel sehingga harus belajar dari pengalaman pahit terlebih dahulu untuk menapak maju lebih baik. Sudah menjadi sifat manusia untuk terlena dalam kenyamanan, kecenderungan lupa diri akan hadir ketika kita tengah berada di atas, lalu kita akan kembali sadar dan bertobat jika masalah mulai tidak lagi bisa kita tanggulangi dengan kekuatan sendiri. Apakah itu kehancuran, kegagalan, sakit penyakit, bangkrut atau berbagai bentuk penderitaan lainnya biasanya akan membuka mata kita bahwa kita sudah terlalu jauh melenceng dari rel yang seharusnya. Ambil contoh mengenai makanan. Kita bisa terus makan dan makan semau kita tanpa memikirkan akibatnya, lalu ketika kolestrol meningkat, ketika darah tinggi mulai mengganggu, jantung bermasalah dan sebagainya, barulah kita tersadar bahwa pola makan yang tidak dijaga dari dulu itu ternyata sangat beresiko. Seperti itulah kita manusia yang seringkali harus diingatkan, ditegur atau dihukum dengan keras terlebih dahulu oleh Tuhan untuk dapat hidup benar.

Dalam hal mendidikan anak pun demikian. Jika kita terlalu memanjakan anak, maka anak tidak akan pernah bisa belajar bagaimana untuk hidup secara baik. Bayangkan apabila setiap merengek minta permen kita terus memberikannya kepada mereka, maka gigi mereka akan rusak bukan? Ada kalanya kita menuruti, ada kalanya kita harus menolak. Tuhan sebagai Bapa juga bertindak sama. Masalah tidak akan pernah berhenti menerpa kita, dan jelas Tuhan lebih dari sanggup untuk menghapuskan semuanya itu. Tetapi ada kalanya kita harus melewati masa-masa sulit itu. Bukan karena Tuhan senang menyiksa kita, tetapi itu adalah sebuah proses pembelajaran agar kita bisa menjadi lebih baik lagi. Bukankah penderitaan yang kita alami di dunia ini hanya penderitaan atau pencobaan biasa seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 10:13? Mungkin apa yang kita alami sangatlah berat, sehingga kita merasa tidak sanggup lagi menjalaninya, namun semua itu masih tetap tidak sebanding dengan apa yang akan terjadi di depan sana seandainya Tuhan terus memanjakan kita dan membiarkan diri kita terperosok semakin jauh ke dalam kesesatan atau kesalahan kita. Ada kalanya kita harus diajar, ditegur, dibina, bahkan dihukum untuk tujuan yang jauh lebih baik. Tuhan ingin kita bisa belajar untuk bersandar dan menggantungkan hidup sepenuhnya kepadaNya. Dan itu bisa hadir melalui penderitaan atau masalah yang kita alami.

Firman Tuhan berbunyi demikian: “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. (Ibrani 12:5-6). Karena sayanglah maka terkadang kita seolah dibiarkan mengalami masa-masa sulit. Saya sendiri pernah mengalaminya selama bertahun-tahun. Ego, kesombongan, sifat-sifat jelek saya semua dihancurkan, dan proses itu memang menyakitkan. Namun hari ini saya bersyukur pernah melewati masa itu. Saya mengalami proses pembentukan ulang selama bertahun-tahun, baik dari segi mental, moral maupun iman. Jika saya bisa menjadi siapa diri saya hari ini, jika saya bisa menghidupi sebentuk kehidupan yang luar biasa indahnya bersama Kristus, itu tidaklah terlepas dari proses menyakitkan yang saya alami selama beberapa tahun waktu itu.

Bangsa Israel yang tegar tengkuk juga mengalami hal yang sama. Kita tahu bagaimana luar biasanya Tuhan menyertai mereka ketika mereka tengah menuju tanah yang dijanjikan Tuhan. Namun sikap mereka tidak kunjung menunjukkan rasa syukur dan terima kasih. Maka lewat Musa, Tuhan pun berkata: “TUHAN akan menyerakkan kamu di antara bangsa-bangsa dan hanya dengan jumlah yang sedikit kamu akan tinggal di antara bangsa-bangsa, ke mana TUHAN akan menyingkirkan kamu. Maka di sana kamu akan beribadah kepada allah, buatan tangan manusia, dari kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat makan dan tidak dapat mencium.” (Ulangan 4:27-28). Ketika masalah dan penderitaan hadir barulah manusia akan menyadari bahwa mereka sudah terlalu jauh dari Tuhan dan ingin kembali bertobat. Puji Tuhan, Dia adalah Bapa yang penuh pengampunan. Ketika kita menyadari kesalahan kita, Tuhan akan segera menerima kita kembali. Ayat selanjutnya berkata: “Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya.” (ay 29-30). Mengapa demikian? “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu.” (ay 31).

Ini merupakan cerminan diri kita yang seringkali lengah dan terlena dalam kemanjaan ketika hidup selalu aman. Kita melupakan Tuhan, kita mengira bahwa tenaga dan hebatnya kita sematalah yang membuat kita sukses, kita terus mengandalkan orang lain bahkan terjebak ke dalam berbagai bentuk penyesatan. Namun ketika masalah berat hadir dan semua itu tidak lagi mempan, barulah kita sadar dan kembali kepada Allah dalam Yesus. Lewat penderitaan yang kita alami, kita bisa belajar bahwa kita seharusnya mengandalkan Tuhan lebih lagi dalam hidup kita. Asal kita mencari Tuhan dengan segenap hati dan jiwa, mendengarkan suaraNya, maka pada suatu ketika semuanya akan dipulihkan. Janji itu sudah tergenapi dalam perjalanan kehidupan saya.

Ada saat berada dalam kesesakan itu baik. Pemazmur menyadari dan berkata “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mazmur 119:71). Sang Penulis pun belajar dari pengalaman pahitnya. “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” (ay 67). Adalah jauh lebih baik untuk diingatkan atau diajar sekarang daripada menyesal di kemudian hari ketika semua sudah terlambat. Karena itu janganlah bersungut-sungut apalagi menyalahkan Tuhan ketika kita merasa tanganNya terlambat untuk menolong kita. Pakailah masa-masa sulit itu untuk melakukan perenungan total, apakah kita selama ini sudah mendengarkan firmanNya atau masih jauh dariNya. Belajarlah dari masa sulit itu dan kemudian keluarlah menjadi seorang pemenang yang telah diubahkan. Tuhan bisa memakai masalah dan penderitaan sebagai sarana untuk mengoreksi diri kita. Dan seandainya bisa, mulailah dari sekarang sebelum kita harus diajar lewat masa-masa sulit terlebih dahulu. Jangan keraskan hati, lembutkan hati dari sekarang dan biarkan firman Tuhan jatuh di tanah yang subur, lalu biarkan bertumbuh subur dan berbuah. Jangan tunggu sampai Tuhan harus perlu menyesah kita terlebih dahulu untuk membuat kita menjadi pribadi yang baik, taat dan berkenan di hadapanNya.

Pakailah saat sulit untuk introspeksi dan keluarlah sebagai pemenang

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.