Belajar Iman disertai Perbuatan lewat Rahab

Ayat bacaan: Yakobus 2:22
=================
“Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”

Saya akan melanjutkan renungan kemarin mengenai iman yang disempurnakan lewat perbuatan-perbuatan baik kita. Bukan perbuatan baik yang menyelamatkan melainkan iman, tetapi perbuatan baik sudah seharusnya mengikuti pertumbuhan iman kita. Artinya, semakin tinggi tingkat keimanan akan Kristus, semakin banyak pula buah-buah perbuatan baik yang lahir dari sana.

Pengajaran yang panjang mengenai iman dan pentingnya bagi kita bisa dibaca dalam kitab Yakobus. Kitab ini ditujukan bukan untuk salah satu jemaat saja melainkan ditulis untuk orang percaya di seluruh dunia, sehingga dengan demikian pesan di dalamnya sangatlah penting untuk membangun setiap orang percaya secara umum kepada hal yang lebih baik.

Apabila anda membaca hingga Yakobus 2:25, anda akan bertemu dengan sesuatu yang menarik disana. Dikatakan “Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?” Tidak aneh jika Abraham yang dijadikan contoh karena iman Abraham memang sangat luar biasa dan sudah teruji sempurna dalam beberapa kesempatan. Tapi selain Abraham, Yakobus juga menyinggung soal Rahab. Mengapa Yakobus merujuk kepada Rahab ketika berbicara tentang iman?

Hari ini mari kita lihat kisah Rahab secara singkat. Kisah Rahab ini muncul dalam perikop “Pengintai-pengintai Yerikho” yang dicatat dalam Yosua 2:1-24. Rahab adalah seorang pelacur yang tinggal di balik tembok tebal menjulang kota Yerikho. Pada suatu hari Yosua melepas dua orang pengintai untuk mengamati-amati kota Yerikho. Kedua pengintai ini kemudian bertemu dengan Rahab. Ketika Raja Yerikho mendengar kabar mengenai masuknya orang Israel untuk memata-matai negerinya.  ia segera mengirimkan utusannya untuk menggeledah rumah Rahab, yang dicurigai sebagai tempat persembunyian para pengintai itu. Apa yang dilakukan Rahab? “Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu.” (ay 6). Rahab memutuskan untuk menyembunyikan kedua pengintai itu di langit-langit rumahnya sehingga akhirnya para pengintai ini selamat dari tangkapan.

Tindakan Rahab ini sangatlah beresiko dan berbahaya. Bayangkan jika ia ketahuan menyembunyikan mata-mata, ia tentu bisa dihukum mati. Tetapi Rahab berani melakukannya. Apakah alasannya? Dalam kitab Yosua alasannya sangat jelas dicatat. “Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh dan berkata kepada orang-orang itu: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” (ay 8-11). Jadi Rahab berani melakukan itu karena ia telah mendengar bagaimana besarnya kuasa Tuhan. Rahab percaya meski ia tidak melihat langsung kuasa Tuhan ketika membelah laut Teberau dan bagaimana penyertaan Tuhan memampukan bangsa Israel untuk terus memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam peperangan. Imannya akan Tuhan yang ia dengar membuatnya berani menyembunyikan kedua pengintai yang tidak ia kenal sebelumnya. Kalau kita perhatikan baik-baik, posisi Rahab saat itu bagaikan maju kena mundur kena. Ia bisa ditangkap dan dihukum berat karena menyembunyikan mata-mata, tapi jika Israel masuk ke wilayah Yerikho pada suatu ketika ia pun bisa saja dibunuh. Tapi Rahab mengambil keputusan. Ia percaya bahwa para pengintai itu, yang masuk dengan penyertaan Tuhan akan mampu menyelamatkan dirinya beserta keluarganya.

Dan seperti itulah tepatnya yang terjadi. Dalam Yosua 6 kita bisa melihat bahwa Rahab dan keluarganya selamat. “Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho.” (Yosua 6:25). Ternyata bukan hanya keselamatan pada saat itu yang dia peroleh, sebab Rahab pun kemudian tertulis dalam silsilah Yesus seperti yang bisa dijumpai dalam Matius 1:5.

Semuanya berawal dari iman Rahab yang membuatnya mengambil keputusan untuk menyelamatkan para pengintai. Apa yang ditunjukkan oleh Rahab adalah iman. Kita sudah tahu bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Seperti itulah yang dimiliki Rahab. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, tetapi ia percaya, beriman kepada Tuhan yang kuasanya sudah ia dengar. Itulah sebuah iman yang dimiliki Rahab. Kelak penulis Ibrani pun mencantumkan Rahab dalam kelompok saksi-saksi iman bersama dengan tokoh-tokoh besar seperti Musa, Abraham, Yusuf, Daud dan lainnya. “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.” (ay 31).

Kalau anda perhatikan lagi kisah Rahab, kita akan melihat bahwa iman Rahab itu menjadi sempurna karena disertai dengan perbuatan. Ia sudah percaya sejak awal, artinya imannya memang sudah terbangun, tetapi imannya menjadi sempurna karena bekerjasama dengan perbuatan. Dan itu kembali disinggung dan dijadikan contoh oleh Yakobus ketika mengajarkan soal iman. 

Iman Rahab bukanlah iman yang kosong, apalagi mati. Yakobus mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan itu bagai tubuh tanpa roh yang artinya mati (Yakobus 2:26), dan Rahab tentu saja tidak tergolong disana. Imannya hidup seperti tubuh yang dilengkapi roh. Menghadapi hari-hari yang sulit hari ini, akankah kita mengaplikasikan iman kita dengan sebentuk perbuatan nyata seperti Rahab? Akankah kita terus percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita meski apa yang sedang kita hadapi hari ini sepertinya belum mendapat solusi? Bisakah kita tetap bersukacita dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan jawaban meski kita belum melihat apa-apa saat ini? Apakah kita masih tetap mengucap syukur dan dengan sungguh hati merasakan kebaikan Tuhan ditengah-tengah pergumulan kita? Rahab mempergunakan imannya yang menjadi sempurna lewat perbuatan. Kita bisa belajar dari Rahab akan hal ini. Jangan biarkan rasa khawatir, cemas atau takut menguasai anda. Pergunakan iman anda sebagai dasar dari pengharapan dan bukti dari apa yang belum anda lihat saat ini, dan sempurnakan itu lewat perbuatan nyata.

Sertai iman dengan bukti nyata lewat perbuatan dan sikap diri kita dalam pergumulan hidup

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.