Belajar dari Seorang Atlit (6)

(sambungan)

6. Atlit yang baik bertanding dengan efektif
Coba anda lihat Mike Tyson di masa jayanya. Jika anda melihat statistiknya dalam setiap pertandingan, anda akan melihat jumlah total pukulan yang sedikit. Pukulannya yang seperti palu godam sangat ditakuti lawan sehingga mereka berusaha menjatuhkannya sejak awal dengan mengumbar pukulan. Saat tenaga mereka mulai menurun, satu pukulan telak bisa menjatuhkan mereka ke kanvas dan pertandingan pun selesai.

Ada sebuah istilah “Real power doesn’t hit hard but straight to the point.” Kekuatan sebenarnya bukan tergantung dari kekuatan pukulan tapi tepat sasaran. Firman Tuhan pun menyatakan hal yang mirip: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” (1 Korintus 9:26). Petinju yang baik akan tahu kapan harus mempergunakan tenaga untuk memukul dan kapan harus menyimpannya. Petinju yang baik akan menyimpan tenaganya, tidak mengumbar di depan dengan memukul sembarangan agar staminanya tidak merosot sebelum waktunya. Ia harus menyimpan tenaga supaya pada saat yang tepat tenaga yang ada dalam kepalannya bisa mematikan. Pelari maraton harus menjaga tenaga agar sanggup berlari hingga mencapai garis finish. Peserta lomba lari kelas manapun harus tahu dimana garis finishnya dan tahu kapan ia harus mulai memacu kecepatan untuk menang. Tanyakan kepada atlit-atlit bela diri, maka mereka pun akan mengatakan bahwa sebuah serangan efektif adalah serangan yang ‘on target’ atau tepat sasaran, bukan diumbar sembarangan. Intinya: Efektiflah dalam melakukan sesuatu. Jangan buang tenaga secara sia-sia.

Melayani itu baik, tapi masihkah itu baik jika kita melakukannya berlebihan lalu itu membuat kita kehilangan momen-momen indah untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan, atau membuat kita tidak lagi punya waktu khusus dengan keluarga? Demikian juga dengan orang yang melakukan pekerjaan terus menerus siang dan malam. Selain itu, kondisi tubuh yang tidak dijaga dengan cukup beristirahat dan olahraga pun bisa menimbulkan akibat-akibat yang sama-sama tidak kita inginkan. Seringkali ketika melakukan ini, orang mengorbankan prioritas-prioritas lain yang sebenarnya lebih penting seperti mengambil waktu untuk bersama Tuhan dan waktu-waktu untuk keluarga. Maka kita sering melihat keluarga yang hancur karena kepalanya tidak membagi waktu secara efektif.

Atlit yang baik akan tahu kapan menyimpan tenaga dan kapan memakainya, tanpa itu mereka tidak akan bisa keluar sebagai pemenang. Demikian pula kita dalam perlombaan menuju garis akhir kehidupan kita. Segala sesuatu yang berlebihan tidak akan efektif. Jadi kita harus pintar-pintar mengatur waktu, mengatur strategi, perencanaan maupun prioritas. Semua orang diberikan jumlah dan kecepatan waktu yang sama. Ada yang sukses, ada yang gagal, tergantung seberapa efektifnya kita dalam mengatur hidup kita. Petinju yang baik tidak mengumbar pukulan tanpa rencana dan arah, pelari yang baik tidak akan berlari tanpa tujuan. Kita bisa belajar banyak dari hal ini.

Anda mungkin bukan berprofesi sebagai seorang atlit, tapi sesungguhnya anda tetap bisa meneladani pola kehidupan atlit yang baik untuk bisa menjadi pemenang dalam perlombaan hidup. Life is like a race, we are in the middle of it. Everybody race but there will be only one winner. Semua orang turut berlomba, tapi tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Oleh karena itu Paulus berkata, “larilah begitu rupa sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24b) Sebelum saya menutup renungan yang panjang lewat meneladani sikap atlit yang baik, mari kita lihat bagaimana ayat ini ditulis dalam versi The Message (MSG): “You’ve all been to the stadium and seen the athletes race. Everyone runs; one wins. Run to win. All good athletes train hard. They do it for a gold medal that tarnishes and fades. You’re after one that’s gold eternally. ” (ay 24-25). Since we are all running inside the race, let’s act like one true athlete. Jadilah atlit yang baik. Berjuanglah dengan efektif, lewat latihan sungguh-sungguh, pintar-pintarlah menguasai diri, fokuslah pada tujuan, jangan sombong, tumbuhkan mental juara dan jadilah pemenang. Selamat berjuang!

We are after one crown of eternal blessedness, so run to win!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.