Belajar dari Petani (3)

3. Taburan banyak, tuaian banyak

Petani yang berharap panen besar tentulah harus menabur banyak pula. Demikian pula kita, hendaknya kita rajin-rajin menabur, agar kita bisa menuai banyak. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). Orang biasanya menolak menabur banyak karena mereka terus merasa berkekurangan alias tidak pernah puas. Tapi ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah menyediakan segalanya untuk ditabur, Dia pula yang akan memberkati kita lewat apa yang kita tabur. “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.” (ay 11-12).

Bersikap pelit dan hanya menimbun uang kita tidak akan mendatangkan kebaikan, sebaliknya hanyalah akan merugikan. Harta seharusnya dikumpulkan di Surga dan bukan di bumi, dimana ada banyak ngengat dan karat yang bisa menghabiskan semuanya sampai ludes. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19-20).

Satu hal yang kita harus ingat dalam hal menabur, janganlah menabur karena punya motivasi-motivasi ingin kaya. Ada banyak paham kemakmuran (prosperity teaching) yang keliru mengartikan hal ini sehingga bisa menyesatkan kita. Menaburlah karena didasari kerinduan untuk memberkati orang lain, menjadi saluran berkat dan terutama atas dasar kasih kita kepada Tuhan dan bukan karena motivasi pribadi. Kita memberkati bukan untuk diberkati, tapi kita diberkati untuk memberkati. Dengan kata lain, pemberian haruslah tulus, ikhlas dan dilakukan karena mengasihi Tuhan. Sebab Tuhan Yesus sudah berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Dan pada akhirnya, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Dengan terus memberkati orang lain, kita sedang mengumpulkan harta di Surga yang sifatnya kekal, bukan di dunia yang hanya sementara lalu banyak pula ngengat karatnya.

Ingat pula bahwa perbuatan baik tidaklah menjamin keselamatan karena keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, tetapi perbuatan baik adalah merupakan buah-buah yang dihasilkan dari iman kita. “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.” (Titus 3:4-7). Perbuatan baik bukan sumber keselamatan melainkan merupakan buah Roh (Galatia 5:22-23).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.