Belajar dari Petani (1)

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:6
=====================
“Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”

Di negara yang katanya agraris, pelaku utamanya justru tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Itulah yang terjadi saat ini. Negara saat ini hanya berpikir dagang, untung rugi dan hasil-hasil instan tanpa memikirkan pembangunan jangka panjang. Seandainya para petani difasilitasi baik dari segi modal maupun penyuluhan, tentu mereka bisa lebih maksimal dalam panennya. Tapi pemerintah tidak melihat itu sama sekali. Kalau kurang, ya impor saja, toh dibuka atau ditutupnya pintu impor tergantung mereka, dan itu bisa membawa kucuran ‘uang lelah’ kepada mereka. Lantas lihat bagaimana tengkulak, pengijon, rentenir, mafia, kartel importir dan ‘lintah-lintah’ lainnya menggerogoti para petani. Harga beli hasil tani sangat murah, tapi sampai ke pasar jadi sangat mahal. Yang berpesta? Ya para lintah. Kasus lainnya, ada banyak investor asing yang bermain di pertanian kita, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan perbatasan atau yang berada diluar pendeknya radar negara ini. Mereka memakai tanah, mengeruk keuntungan dan menjadikan petani hanya sebagai buruh kasar di buminya sendiri. Petani tidak dilindungi dari produk impor, petani tidak dibangun dan dibekali agar bisa mengembangkan teknologi pertaniannya. Nasib petani sangatlah memperihatinkan.

Banyak orang yang membayangkan petani hanya sebagai sosok hitam, kurus, memakai baju lusuh dan topi segitiga di kepalanya. Tapi bayangkan apa jadinya negara tanpa kehadiran para petani. Kita seharusnya memberi penghormatan tinggi kepada mereka, karena sulit membayangkan apa jadinya nasib kita tanpa mereka. Selain itu, kita juga justru bisa belajar banyak lewat etos kerja petani yang baik, yang akan sangat berguna dengan relevansinya kepada peningkatan kerohanian ke arah yang lebih baik.

1. Tidak ada hasil panen tanpa ada yang ditanam

Mungkinkah ada panen jika tidak ada benih yang ditanam? Tentu tidak. Petani bisa memiliki sawah berukuran besar, tapi tidak akan ada yang tumbuh tanpa benih. Maka jelas, petani harus memulai dengan menanam. Dalam menanam, petani harus tahu terlebih dahulu kondisi tanahnya. Mereka harus menggemburkan tanah agar benih yang ditanam bisa tumbuh baik.

Yesus sendiri mempergunakan perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13:1-23. Yesus menceritakan bahwa ada seorang penabur yang pergi keluar untuk menabur. Ada yang jatuh di pinggir jalan, lalu habis dimakan burung (ay 4), ada yang jatuh di tanah berbatu sehingga tumbuh tapi buruk dan akhirnya mati (ay 5-6), ada pula yang jatuh di tengah semak duri, dimana benih sempat tumbuh tapi kemudian terhimpit semak berduri lalu mati (ay 7). Benih-benih yang dijadikan perumpamaan akan firman tentang Kerajaan Surga oleh Yesus ini harus jatuh ke atas tanah yang baik, subur, gembur agar bisa menghasilkan. “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 8).

Apa yang dimaksud Yesus dengan pinggir jalan, semak duri, tanah berbatu dan tanah yang baik? Ayat 19-23 berisi penjelasan Yesus.

“Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.” (ay 19).

“Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” (ay 20-21)

“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” (ay 22)

Sedang “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (ay 23).

Firman-firman Tuhan merupakan benih yang hidup, berkuasa dan kekal. Masalahnya adalah apakah kita mau mulai menanam benih itu, dan kemana benih itu akan mendarat. Jika tidak ada yang ditanam tentu tidak akan ada yang tumbuh. Jika kita mau menabur benih tapi tidak memperhatikan tanahnya, maka benih mungkin tumbuh tapi akan segera mati. Hanya benih yang kita taburkan di tempat baiklah yang akan mampu menghasilkan buah berlipat ganda. Semua tergantung bagaimana keputusan kita. Satu hal yang pasti, Tuhan Yesus mengatakan: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Bukan hanya bekerja keras, bersosialisasi dan sebagainya yang penting, tetapi lebih daripada semua itu kita harus sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa adanya firman yang keluar dari Allah sendiri.

Jadi kita harus memperhatikan betul pentingnya tanah yang baik agar benih firman yang ditabur bisa bertumbuh subur dan menghasilkan buah berlipat ganda.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.