Belajar dari Lebah

Ayat bacaan: Mazmur 23:4
======================
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Mempelajari perilaku dan cara hidup hewan selalu menyenangkan bagi saya. Bukan hanya hewan-hewan berukuran buas atau gagah, tapi juga ukuran kecil yang jarang diperhatikan oleh kebanyakan orang. Salah satunya mengenai sikap lebah. Dari apa yang pernah saya baca, seekor lebah yang terjatuh ke dalam segelas kopi tidak akan bisa kembali terbang pula, karena seekor lebah akan sibuk berputar ke sekeliling gelas sampai mati. Alasannya, lebah ternyata tidak pernah melihat jalan keluar pada bagian atasnya, tetapi hanya akan berusaha mencari jalan keluar lewat pinggiran gelas. Padahal jalan keluar tidak ada di sana, semua jalan tertutup. Akibat ketidaksadaran lebah untuk melihat jalan keluar di atas, lebah itu akan menemui ajalnya.

Ilustrasi ini menarik untuk digunakan sebagai analogi dari seringnya kita lupa melibatkan Tuhan dalam aspek-aspek kehidupan kita. Seperti halnya lebah di atas, kita sering lupa bahwa ada Tuhan di atas segalanya yang sanggup memberikan jawaban, jalan keluar atau pertolongan, tidak peduli seberat apapun masalah yang kita hadapi. Tapi sama seperti lebah di atas, kita seringkali hanya berputar-putar mencari cara untuk melepaskan diri kita dari masalah, terus mengandalkan kekuatan sendiri saja, atau berharap pada manusia lain, bahkan terjerumus ke dalam alternatif-alternatif yang padahal dianggap jahat di mata Tuhan, tapi lupa mengarahkan pandangan ke ‘atas’, ke arah dimana Tuhan bertahta. Dengan kata lain, kita sibuk mencari solusi dengan cara-cara duniawi dan lupa memandang Allah, lupa menempatkan Tuhan dan firmanNya yang sesungguhnya sanggup memberi jawaban atas segala permasalahan hidup.

Sebuah kisah terkait ditulis dalam Alkitab, yaitu tentang Yusuf. Seperti ilustrasi lebah di atas, Yusuf pernah dijerumuskan ke dalam sumur yang gelap oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. “Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.” (Kejadian 37:24). Jika anda baca, tidak ada catatan bahwa Yusuf berteriak-teriak ketakutan, memohon belas kasih saudara-saudaranya, atau merasa panik meski ia tidak pernah tahu berapa lama ia akan dibiarkan dalam sumur itu. Apabila kita berada dalam situasi seperti itu, yang paling mungkin terjadi adalah kita akan berpikir bahwa itulah akhir dari hidup kita. Mati pelan-pelan di dalam sumur gelap dan kering, itu mengerikan. Tapi Yusuf tidak berpikir seperti itu. Di dalam sumur sempit seperti itu tidak akan ada gunanya melihat kiri kanan karena semua akan sama saja, dinding pengap dan mungkin berlumut. Satu-satunya yang bisa ia lihat adalah ke atas, dimana sumber cahaya bisa ia peroleh. Saya yakin Yusuf bersyukur karena masih melihat cahaya terang dari atas. Dan selama ia masih melihat ada “Terang” dari atas, itu artinya pengharapannya belumlah habis. Masih ada Tuhan, di atas sana, yang lebih dari sanggup melepaskan dirinya. Mungkin tidak segera, tapi ia percaya pada waktunya Tuhan pasti mengangkatnya dan membawanya ke dalam keberhasilan-keberhasilan yang gemilang.

Apabila hari ini anda tengah terjepit oleh sebuah masalah dan masih terus berputar-putar dengan mengandalkan kekuatan anda sendiri atau orang lain, ini saatnya anda mulai melihat ke atas. Pandanglah Tuhan dan serahkan segala beban anda kepadaNya. Percayalah sepenuh hati bahwa Tuhan jauh lebih dari sekedar sanggup untuk membantu anda keluar dari masalah. Tuhan selalu ada beserta anak-anakNya, bahkan dalam kegelapan yang tergelap sekalipun. Daud juga merupakan orang yang mengalami banyak pergumulan hidup sejak masa kecilnya. Tapi lihatlah bagaimana keteguhan hatinya untuk percaya kepada penyertaan Tuhan. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4). Daripada berfokus pada masalah dan hanya melihat ke sekeliling saja, mengapa tidak mengarahkan pandangan ke atas, mengandalkan Tuhan yang jauh lebih berkuasa dari apapun juga?

Tuhan tidak menginginkan kita menjadi lebah yang terperangkap dalam gelas. Tuhan mengatakan bahwa bersamaNya selalu ada pertolongan, kelepasan dan sebagainya. Dengan penyertaannya Tuhan menjanjikan seperti ini: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31). Firman Tuhan juga berkata: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Bagi orang yang mengandalkan Tuhan, “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (ay 8). Firman yang tepat sama pun hadir lewat Daud. “Berbahagialah orang yang…kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3).

Jangan lupa bahwa di atas ada Tuhan yang peduli dan mengasihi kita dengan sepenuhnya. Tidak ada masalah yang terlalu sulit untuk diatasi olehNya. Selama kita hidup mengandalkan Tuhan, selama kita berjalan bersamaNya, mengapa kita harus kuatir? Kita bisa belajar dari kekeliruan mencari solusi yang dilakukan lebah agar kita tidak harus berakhir dengan cara yang sama. Solusi selalu ada dalam Tuhan, yang akan selalu menyertai kita dengan kasihNya yang luar biasa meski kita berada dalam lembah kekelaman sekalipun.

Ketika sekeliling gelap, pandanglah ke atas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.