Being an Encourager (1)

Ayat bacaan: Roma 1:11-12
========================
“Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.”

“Betapa melegakan saat mengetahui bahwa ternyata ada yang peduli terhadap kesusahan yang tengah saya alami.” demikian kata seorang teman yang terharu saat penghiburan dan pertolongan hadir lewat teman-teman yang peduli. Kita manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Dan kita akan sangat senang apabila ada orang yang peduli disaat kita tengah butuh sesuatu, apakah kata-kata yang menghibur, bantuan dalam berbagai bentuk atau setidaknya kehadiran mereka di samping kita.

Sayangnya manusia semakin lama semakin egois dan berubah menjadi indiidu-individu yang dingin. Orang semakin terbiasa berhitung untung rugi dan menjauh dari bentuk kasih yang sebenarnya. Hanya mau kenal kalau ada perlu, akan segera menjauh kalau dibutuhkan. Kalau memang harus menolong lihat-lihat dulu apakah menguntungkan atau tidak. Take and give, atau kalau bisa sih take and take, tidak perlu give. Orang makin sulit memuji, mengeluarkan kata-kata yang bisa membesarkan hati tapi sangat ringan mengkritik bahkan menghina. Tabu menunjukkan kepedulian kecuali ada modus di balik itu. Sebuah tatanan kehidupan sosial semakin bergeser menjauh dari bentuk ideal seperti yang diinginkan Tuhan saat menciptakan mahluk-mahluk istimewa sesuai gambar dan rupaNya sendiri.

Kita harus kembali kepada hakekat seorang manusia yang tidak mampu bertahan hidup sendirian. Tuhan pun tahu itu semenjak awal. “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18). Ketika Yesus hadir di dunia, Dia pun paham betul akan hal tersebut. Lihatlah apa yang diputuskan Yesus ketika Dia mengutus kedua belas murid untuk melakukan pekerjaan mereka. “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua..” (Markus 6:7). Tidak hanya itu, Dia pun memberikan Penolong, Roh Kudus untuk menyertai, membimbing, mengingatkan dan membantu kita dalam setiap langkah yang kita jalani. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16).

Ketika kita sadar bahwa kita tidak akan pernah sanggup hidup sendirian, sudahkah kita tergerak untuk menjadi penghibur atau penyemangat orang lain, atau kita masih terlalu sibuk mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain? Maukah kita meluangkan waktu sejenak untuk membantu mereka? Tidak tahu harus bilang apa, tidak mampu memberikan apa-apa, itu tidak menjadi soal, karena seringkali sekedar menjadi pendengar yang baik atau sekedar ada disamping mereka pun sudah sangat berarti buat mereka.

Ada hal menarik yang bisa kita lihat lewat salah satu bagian kisah Paulus. Suatu kali Paulus menulis kepada jemaat Roma. “Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” (Roma 1:11-12). Di ayat sebelumnya kita melihat bahwa Paulus terus berdoa agar ia diijinkan untuk bisa mengunjungi mereka. Kita tahu betapa berharganya kepedulian Paulus bagi mereka. Sama seperti kita, jemaat di Roma pun tentu sangat senang ketika melihat bahwa ternyata ada orang yang peduli dengan mereka.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.