Behind the Stage

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:58
============================
“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Ketika anda menikmati sebuah sajian pertunjukan panggung musik, pernahkah anda memikirkan peran orang-orang yang berada di belakang panggung? Seringkali kita terfokus pada apa yang tampak di atas panggung dan lupa terhadap mereka yang berperan baik dalam persiapan menjelang acara, soundmen, lighting men dan lain-lain. Artis yang tampil di panggung memang menjadi daya tarik tersendiri, tetapi mereka yang dibelakang pangggung pun punya peran yang tidak kalah pentingnya. Tanpa mereka, sehebat apapun artis yang tampil, hasilnya tidak akan bisa maksimal. Bayangkan band tanpa sound memadai, tanpa sorot lampu dan tata panggung yang baik, itu bisa membuat sebuah konser kehilangan daya tarik. Atau bayangkan apabila tidak ada yang menyapu dan membersihkan area penonton atau sekedar menggulung kabel-kabel yang berseliweran di belakang panggung, itu tentu akan membuat kualitas konser menurun.

Dalam hidup pun kita seringkali bertindak seperti itu. Kita lebih mementingkan penampakan luar ketimbang pembenahan dalam. Kita terlalu lelah mematut diri agar terlihat indah di mata orang dan tidak lagi punya waktu untuk mengurus bagian dalam diri kita. Kita membiarkan dosa-dosa berada dalam diri kita dan tidak segera diselesaikan, masih menyimpan dendam, iri, dengki, atau pikiran-pikiran jahat. Di luar kita tampak sempurna, tapi dibalik itu semua, hati kita masih kotor penuh debu. Kita hanya mementingkan bagian-bagian tertentu saja dan merasa tidak penting untuk membenahi seluruhnya secara total. Contoh lain misalnya dalam bekerja. Kita merasa tidak perlu total melakukannya karena mungkin merasa bahwa tidak ada gunanya melakukan sebaik-baiknya, toh tidak ada yang memperhatikan, imbalan yang kita anggap kecil dan sebagainya. Padahal selalu ada perbedaan signifikan dari hasil sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dibandingkan melakukan ala kadarnya, seadanya saja.

Mungkin saja bahwa apa yang kita lakukan tidak mendapat perhatian dari manusia, tapi ingatlah bahwa tidak ada satupun yang luput dari pandangan Tuhan. Dia tahu bagaimana sikap hati kita. Bagi sesama manusia mungkin saja apa yang kita lakukan mungkin dipandang tidak istimewa sebagai sesuatu yang layak dipuji, tapi sesuatu yang kita lakukan dengan tulus, serius dan sungguh-sungguh akan selalu istimewa di mata Tuhan. Sekecil apapun yang kita lakukan, jika disertai dengan kerinduan memuliakan Tuhan didalamnya, itu akan merupakan hadiah besar yang sangat bermakna bagiNya. Tidak mudah memang untuk bekerja sungguh-sungguh, karena pasti waktu, tenaga atau mungkin biaya akan terpakai lebih banyak. Dalam hal membereskan masalah-masalah di dalam diri kita pun seringkali tidak gampang. Sulit sekali melepaskan pengampunan kepada orang yang telah begitu menyakiti kita, sulit sekali untuk senang melihat orang lain sukses ketika kita masih pas-pasan dan sebagainya. Tapi semua usaha itu tidak akan pernah sia-sia. Dan Paulus pun mengingatkan: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:58).

Sepanjang Alkitab Tuhan selalu mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu, baik itu membenahi diri kita sendiri, dalam membina keluarga, menjalankan pekerjaan atau pelayanan dengan sebaik-baiknya. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Mengapa harus demikian? Karena sesungguhnya upah yang terutama kita terima bukanlah berasal dari manusia tetapi justru dari Tuhan sendiri. “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (ay 24). Artinya, kita selayaknya melakukan segala sesuatu dengan serius dan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk mencari upah atau penghargaan dari orang lain. Jika itu yang menjadi fokus pikiran kita, maka kita akan melakukan segalanya secara total dan tidak akan menyisakan bagian-bagian tertentu untuk diabaikan. Apa yang kita lakukan mungkin tidak mendapat apresiasi di mata orang, tapi jika itu yang Tuhan tugaskan bagi kita, kita perlu melakukannya dengan segenap hati sebagai bagian dari panggilan Tuhan untuk saling mengasihi dengan sungguh-sungguh (1 Petrus 4:8). Kita bisa menawarkan bantuan kepada yang memerlukan dengan tulus (ay 9) dan melayani orang lain sesuai karunia yang telah kita peroleh (ay 10). Kita bisa melakukan itu semua sebagai persembahan dari diri kita untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk diri kita sendiri. Tuhan telah memperlengkapi kita semua untuk itu, dan tugas kita adalah mempergunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka jerih payah kita tidak akan pernah sia-sia.

Apapun yang anda lakukan hari ini, meski itu mungkin tidak mendapat penghargaan dari orang lain, tetaplah lakukan dengan sebaik-baiknya karena mengasihi Tuhan. Tuhan selalu menghargai jerih payah yang kita lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dan Tuhan bisa memberkati anda berkelimpahan meskipun pekerjaan anda saat ini mungkin kecil dalam penilaian manusia. Lakukan pula pembenahan diri secara total, bersihkan segala noda yang masih menempel. Jangan sisa-sisakan ruang yang masih bisa dimanfaatkan iblis untuk me dosa ke dalam diri anda. Apa yang penting bukanlah menurut pandangan manusia, tetapi pandangan Tuhan. Yang penting adalah Tuhan berkenan atas apa yang Dia lihat dan dapati dari diri kita. Biarkan Tuhan bersukacita lewat segala sesuatu yang kita lakukan.

Tidak satupun usaha kita yang luput dari mata Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.