Bau Romo Hery Bratasudarma SJ di St. John’s Catholic Church Siem Reap, Kamboja (5)

< ![endif]-->

BANGUNAN Gereja Katolik St. John’s Siem Reap hanya selemparan batu dari lokasi hotel sederhana tempat rombongan Sesawi.Net menginap selama kurang lebih 4 hari tinggal menelisik keindahan Angkor Wat di Kamboja Utara, September 2011 lalu. Terletak di tepi jalan lumayan lebar –meski bukan di jalur utama–, Gereja Katolik St. John’s di Siem Reap menjadi paroki satu-satunya di kota di belahan utara Kamboja yang terkenal dengan situs purbakala kompleks ‘perkampungan’ Candi Angkhor Wat yang sangat fenomenal dan mendunia ini.

Saya dan tiga rekan saya berhasil sampai di Siem Reap menjelang tengah malam. Naik bus sederhana dari Phnom Pehn –Ibukota Kamboja menjelang lengsernya matahari—dan menempuh perjalanan panjang selama 6 jam sebelum akhirnya menjejak kaki di Siem Reap. Pastur Gereja Paroki St. John’s Siem Reap Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ berkenan menjemput kami di terminal akhir pemberhentian bus antarkota antarprovinsi di Kamboja ini.

Sejenak kemudian, dengan kendaraan Toyota Hilux Romo Panus mengantar kami ke hotel seberang gereja. Ternyata, kami mendapat diskon lumayan dari pengelola hotel lantaran tamu-tamu asing Paroki St. Siem Reap seringkali bertandang ke Gereja dan kemudian menginap di hotel ini.

Gereja Kamboja di Siem Reap

Gereja Katolik Paroki St. John’s Church, Siem Reap, North Cambodia. Inilah paroki dimana almarhum Father “Hery” Heribertus Pardjijo Bratasudarsma SJ pernah berkarta selama kurang lebih 7 tahun yang kemudian tugasnya diambil oper oleh Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ (Mathias Hariyadi)

Pagi harinya, kami menyempatkan diri mengikuti misa harian bersama Romo Panus SJ di Gereja St. John’s Siem Reap. Kalau tak salah ingat, jumlah umat katolik di Paroki Siem Reap ini –termasuk Stasi Taom dan Stasi Perkampungan di atas Laut yang tak sempat kami kunjungi—tidak lebih dari 1.000-an orang. “Sangat sedikit, namun toh tetap harus dilakukan reksa pastoral sosial kepada umat katolik ini,” kata Romo Panus SJ waktu itu.

Kami misa di Gereja Siem Reap di lantai dua. Lantai satu dipakai untuk pastoran.

Kala itu yang datang mengikuti misa tidak lebih dari 12 orang. Empat orang ‘turis asing’ dari Tanah Jawa dan satu lagi yakni Romo Panus SJ. Dua lainnya datang dari Jepang dan kebetulan tengah menjalani kerja relawan di Jesuit Refugee Service (JRS) di Siem Reap, dan beberapa lainnya dari negara lain. Barangkali Korea dan negara Eropa lainnya. Beberapa orang suster biarawati Kongregasi Cinta Kasih pengikut Beata Ibu Teresa Kalkuta.

Misa di gereja siem reap kamboja ok

Hening sejenak sebelum berlangsung misa pagi harian di Gereja Katolik St. John’s di Siem Reap, Kamboja Utara. Foto ini diambil kurun waktu bulan Oktober 2011. (Mathias Hariyadi)

Misa berlangsung dalam bahasa Khmer. Romo Panus SJ sudah mahir berkotbah dalam bahasa Khmer. Kami mengikutinya dengan bahasa Tarzan.

Gereja Katolik Siem Reap

Di Gereja St. John’s di Siem Reap inilah selama bertahun-tahun lamanya almarhum Romo “Hery” Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ pernah merenda kasih bersama umat katolik Kamboja dan komunitas internasional. “Bau” karya almarhum Romo Bratasudarma masih terasa kental di sini.

Di kala rezim komunis Khmer Merah masih berkuasa di semua sudut Kamboja –dan tak terkecuali Siem Reap—sudah barang tentu Gereja St. John’s di Siem Reap ini juga ikut ‘dijarah’ dan dikuasai oleh pasukan berkalung syal merah arahan Pol Pot ini.

Gereja Katolik Siem Reap Kamboja latar depan

St. John’s Catholic Church of Siem Reap, North Cambodia dimana almarhum Romo Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ pernah tinggal berkarya dan sekarang diteruskan oleh Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ, keduanya Jesuit putra asli Indonesia yang menjadi misionaris di Negeri Kamboja. (Mathias Hariyadi)

Sekarang ini, Gereja St. John’s Siem Reap sudah berhias diri. Di bagian ‘teras’ depan sudah ada semacam toko dimana dipamerkan benda-benda seni hasil kreasi anak-anak Kamboja yang cacat karena menjadi korban perang terkena ledakan bom atau granat. Waktu kami di sana bulan Oktober 2011, toko rohani dan ekspo benda-benda seni khas Kamboja itu dijaga oleh cewek Jepang. Ia menjadi tenaga sukarelawan dari Jepang untuk sebuah karya kemanusiaan di Kamboja dan menggandeng Jesuit Refugee Service sebagai mitranya.

Dia tinggal ngekos di permukiman penduduk lokal yang berlokasi tak jauh dari Gereja St. John’s Siem Reap.

Di bagian sayap ada beberapa ruangan dimana OMK (orang muda katolik) Paroki yang jumlahnya tidak banyak sering kali berkumpul. Sekali waktu, begitu Romo Panus SJ bersuit-suit, maka ‘kawanan’ domba rohani ini segera merapat ke pastoran: mereka tahu akan diajak romo turba ke Stasi Taom atau Stasi di atas Laut yang sayangnya tidak pernah saya saksikan karena jadwal saya harus segera kembali ke Vietnam melalui jalur darat.

Bayonne Angkor Wat Kamboja latar depan ok

Gugusan bangunan kompleks Candi Bayonne di Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja Utara yang jaraknya hanya sekitar 7 km dari Gereja Paroki St. John’s Catholic Church yang dikelola oleh romo Jesuit asli Indonesia. (Mathias Hariyadi)

Dinamika hidup gerejani di Gereja Katolik Paroki St. John’s di Siem Reap, Kamboja Utara yang pada tahun-tahun ini sudah berderap maju tentu saja tak bisa dipisahkan dari karya pastoral yang digalakkan oleh alm. Romo ‘Hery” Heribertus Pardjijo Bratasudarma SJ yang kini sudah dalam perjalanan panjang menuju Surga.

Selain di Gereja Stasi St. Mary di Taom, maka ‘bau’ semerbak mewangi warisan rohani alm. Romo Hery Bratasudarma SJ juga tercium kental di Gereja Paroki St. John’s Siem Reap, Kamboja Utara.

Misa pagi di Gereja Siem Reap Kamboja

Misa pagi harian bersama Romo Stephanus “Panus” Winarta SJ, misionaris Jesuit Indonesia yang kini berkarya di Gereja Katolik Paroki St. John’s Catholic Church di Siem Reap, Kamboja Utara. (Mathias Hariyadi)

Tautan:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. romo jesuit indonesiayang terkenal
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.