Bartimeus dan Imannya (1)

Ayat bacaan: Markus 10:52
=====================
“Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”

When the world goes against you, when all the circumstances aren’t like what you expected, when you feel like giving up because there seems to be no hope anymore, where would you go? Ini akan menjadi pertanyaan banyak orang yang mentalnya meredup akibat banyak hal. Ada kalanya kita berhadapan dengan situasi sulit yang bisa membuat kita down. Seringkali masalah datang bukan satu persatu tapi sekaligus sehingga semangat juang dan rasa percaya diri kita pun merosot drastis. Ada seorang teman yang mengambil keputusan yang salah dalam pekerjaannya. Kesalahannya terbilang fatal sehingga tidak saja ia terancam kehilangan pekerjaan, tapi ia pun harus menghadapi teguran, kemarahan bahkan hujatan dari banyak orang. Ia menjadi tertuduh dan menjadi sasaran tembak baik dari pimpinan, rekan kerja dan orang-orang lain yang dirugikan. Dalam kesempatan lain, ada pula teman lainnya yang pernah salah langkah dan harus rela kehilangan hampir seluruh harta bendanya plus hutang yang tidak tanggung-tanggung besarnya. Ia diancam akan dibunuh, dijauhi banyak orang, membuatnya kehilangan harapan dan hampir bunuh diri. Untunglah kesalahan fatal itu tidak sampai ia lakukan. Hari ini ia sudah kembali menata hidup baru yang diberkati. Kasih Tuhan tak terbatas mampu memberikan sebuah kesempatan akan hari baru yang penuh harapan dengan masa depan yang cerah.

Ada banyak orang yang kehilangan arah ketika tengah kalut ditimpa masalah. Kita semua tentu setuju bahwa itu tidaklah mudah untuk bisa tetap tegar, apalagi jika tidak ada yang peduli, malah memilih untuk menjauh meninggalkan kita. Perasaan bersalah, tertuduh, tertolak, terhakimi, tanpa ada yang mau mendengar, mengampuni dan merangkul. Sudah jatuh masih juga harus tertimpa tangga. Dalam keadaan lemah, kita bisa tergoda untuk mengambil jalan-jalan keliru yang bukannya menyelesaikan masalah tapi hanya akan menambah banyak masalah baru dan dengan sendirinya semakin jauh pula dari Tuhan. Sulit bagi kita untuk tetap berpikir jernih dan terus menaruh pengharapan kepada Tuhan. Banyak orang ingin buru-buru keluar dari masalah tanpa melihat benar tidaknya jalan yang diambil. Kita terlalu sering meletakkan harapan pada berat ringannya masalah, dana cadangan, pada koneksi atau sesama manusia yang dianggap punya pengaruh, atau pada kondisi atau situasi yang dinilai hanya lewat kacamata logika manusia yang terbatas lantas lupa kepada kuasa Tuhan yang justru tidak terbatas. Iman akan teruji kekuatannya bukan ketika hidup sedang baik-baik saja tetapi justru ketika kita berhadapan dengan masalah.

Hari ini saya ingin mengajak melihat perjumpaan pengemis tuna netra bernama Bartimeus dengan Tuhan Yesus yang membawa pemulihan besar bagi hidupnya seperti yang dicatat dalam Markus 10:46-52. Karena kondisinya yang tidak bisa melihat alias buta, ia tidak bisa bekerja. Maka untuk bertahan hidup ia menjadi pengemis di pinggiran jalan. Pada suatu hari Yesus lewat tidak jauh dari letaknya mengemis. Beginilah reaksinya. “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Markus 10:47). Bartimeus hanyalah seorang pengemis buta. Bagi orang disana, ia dianggap terlalu hina sehingga ia dianggap tidak sopan dan tidak layak untuk berteriak-teriak memanggil Yesus. Maka ia pun dimarahi orang. “Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun ia tidak mempedulikan orang, ia malah semakin keras berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” (ay 48). Bukannya berhenti, Bartimeus malah mengencangkan suaranya. Ia sadar bahwa itu adalah sebuah kesempatan besar. Logika, pendapat orang lain, itu tidak ia pedulikan. Imannya mendorongnya untuk terus mengencangkan harapan ketika kesempatan ada. Ia terus memanggil Yesus. Teriakannya itu ternyata menggetarkan dan menggerakkan Yesus untuk bereaksi. Yesus pun lalu memanggilnya. Ia segera menanggalkan jubahnya dan bergegas menuju Yesus. “Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (ay 51).

Menarik jika kita melihat jawaban Bartimeus. Ia tidak meminta kekayaan, status yang tidak hina dimata masyarakat, diberkati melimpah dan sebagainya. Ia tidak mengatakan “Tuhan pulihkan seluruh hidupku sehingga aku bisa hidup layak saat ini juga.” Ia tidak mengutuk orang-orang yang menghinanya. Ia tidak meminta pemulihan menyeluruh yang instan. Tidak. Ia tahu pangkal masalahnya adalah kebutaan. Jika ia bisa melihat, tentu ia tidak perlu jadi pengemis lagi dan bisa bekerja dengan normal untuk hidup. Dengan mata yang bisa berfungsi baik untuk melihat, ia bisa kembali menata hidupnya, menapak sedikit demi sedikit untuk mendapat kehidupan yang baik. Ia bisa berusaha mempergunakan talenta-talenta yang ia miliki untuk hidup layak. Yesus kemudian menyembuhkannya dengan sebuah perkataan. “Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” (ay 52).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.