Sr. Edmunda SFIC (88 tahun) saat menerima Sesawi.Net di Biara Antonius Pontianak untuk sebuah wawancara tentang sejarah SFIC. (Mathias Hariyadi)

PAK Bong Shiu Kun mengenalkan keluarga ini kepada seorang suster misionaris Belanda pengelola asrama dan rumah pendidikan untuk anak-anak lokal di Jl. AR Hakim, Pontianak.

Pada umur kira-kira 11-12 tahun waktu itu, remaja puteri yang dikemudian hari bernama biara Sr. Edmunda SFIC ini kemudian meniti hidup baru sebagai ‘anak asrama’ di Pontianak.

“Suster misionaris Belanda itu bernama Sr. Teresia van Miert SFIC. Beliau memboyong saya bersama anak-anak Tionghoa lainnya di Segedong dan tempat lain di Pontianak ini untuk kemudian boleh tinggal di Asrama Susteran SFIC dan dididik di Sekolah Suster,” ungkapnya.

“Di situlah bibit awal perkenalan saya dengan SFIC dan panggilan menjadi suster SFIC mulai bersemi,” tambahnya.

Baru beberapa tahun di situ, pecah Perang Asia Timur Raya (baca: Perang Dunia II di kawasan Asia Tenggara dan Timur)  di mana pasukan tentara Jepang melakukan aksi pengepungan sentra-sentra permukiman orang Belanda, termasuk Susteran dan Asrama Sekolah Suster SFIC di Pontianak.

Biara dan Asrama Suster SFIC ‘dikosongkan’ dari para penghuninya dan anak-anak asrama diungsikan keluar di permukiman-permukiman penduduk di luar kota Pontianak. “Banyak orang Belanda dipaksa meninggalkan Pontianak dan kemudian mereka lalu  dievakuasi ke sebuah titik di Sambas untuk kemudian diseberangkan keluar pulau,” tutur Sr. Edmunda.

Zaman Republik

Jepang menyerah kalah tanpa syarat kepada Sekutu, setelah terjadi pemboman di Hiroshima dan Nagasaki –hari-hari jelang Proklamasi Kemerdekaan RI, Agustus 1945. Ketika kekuasaan politik di Indonesia mulai dipegang oleh anak-anak negeri sendiri, maka kondisi politik ini membawa angin segar dengan mulai beroperasinya kembali pendidikan asrama Sekolah Suster SFIC di Pontianak.

Tiba waktunya, ketika gadir remaja Chin Juan Lian akhirnya merasa diri tertarik menjadi seorang biarawati SFIC yang di tahun-tahun kemudian mengadopsi nama baru sebagai Sr. Edmunda SFIC.

Bersama tiga orang teman sebayanya, pada tahun 1946 Chin Juan Lian lalu menapaki hari-hari penting dalam hidupnya yakni berlayar menuju ke Negeri Belanda.

Bareng Tentara Naik Kapal ke Belanda, Sr. Edmunda SFIC – Si Anak Segedong Mempawah (1)

Naik kapal militer ke Belanda

Perjalanan panjang menuju ke Negeri Belanda itu dimulai dari Pontianak. Bersama tiga orang teman sebayanya, Chin Juan Lian terbang dengan pesawat terbang amfibi yang bisa lepas landas dari aliran Sungai Kapuas dan mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta.

Empat remaja puteri asal Pontianak itu yang menyatakan diri berminat ingin menjadi suster biarawati SFIC itu adalah sebagai berikut:

Chia Sia Kui asal Pontianak  dengan nama Indonesia Francine Cahya. Di kemudian hari, ia mengadopsi nama Sr. Candida SFIC sebagai identitas baru nama biaranya. Kini, ia sudah meninggal dunia sebagai suster biarawati SFIC.Bong Tet Ngo, puteri kandung Pak Bong Shiu Khun –pemilik Hotel Borneo— yang punya nama Indonesia Theresia Embongjaya. Ia kemudian mengadopsi nama Sr. Hermana SFIC dan kini juga telah meninggal dunia.Yustina yang setelah beberapa tahun lamanya sebagai suster lalu mengundurkan diri dan kini masih hidup dan tinggal di Taiwan.Chin Juan Lian alias Lusia Tandinaria yang kemudian mengadopsi nama Sr. Edmunda SFIC dan ketika dilakukan wawacara dengan Sesawi.Net di Biara Antonius Pontianak masih lancar mengingat banyak peristiwa di masa lampau.

Oleh seorang pastor Kapusin berdarah Belanda yang mengurusi kebutuhan Misi di Kalimantan, empat orang calon suster SFIC ini berhasil ‘dititipkan’ masuk ke dalam sebuah rombongan pelayaran kapal angkut militer dari Tanjung Priok menuju Rotterdam, Belanda.

“Jadilah, kami berempat berlayar bersama para prajurit Belanda yang dipulangkan dari Indonesia menuju tanahairnya di Nederland,” kenang Sr. Edmunda SFIC.

Pelayaran dengan kapal angkut militer itu terjadi pada tahun 1948. Perjalanan ke Eropa itu ditempuh dalam kurun waktu satu bulan dua hari dengan melewati Terusan Suez di Mesir.

“Saat melewati Terusan Suez, kapal kami dipandu oleh kapal lain yang lebih kecil agar tidak terjebak oleh ranjau,” kata Sr. Edmunda.

Perjalanan naik kapal angkut militer itu berakhir di Pelabuhan Rotterdam.  Dua orang  suster biarawati SFIC dari Noord Brabant datang menjemput kedatangan mereka. (Berlanjut)

Sumber: Sesawi

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.