Balai Budaya Rejosari: Gereja dari Altar ke Pasar di KAS Wilayah Pantura Timur (3)

< ![endif]-->

DINAMIKA hidup menggereja antara lain bisa terbaca dari sejauhmana Gereja mau peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kehidupan iman tidak melulu berpusat pada altar, melainkan –seperti kata seorang romo diosesan di Keuskupan Agung Semarang beberapa waktu lalu— sudah semestinya harus   bergerak ke pusaran sosial yang lain.

Gereja Karolik –kata romo ini dengan visi missioner yang bagus ini —harus bergerak “dari altar ke pasar”.

Begitulah yang terjadi. Ini benar-benar mengikuti proses ‘penyelenggaraan ilahi’ sebagaimana tersaji dalam filosofi “tinuntun jumbuh” sebagaimana dilansir oleh Romo R. Haryono MSF dari Balai Budaya Rejosari. Dan inilah yang kemudian terjadi –seperti judul sebuah film lawas dari Perancis: Et Dieu crea (la femme)– maka Tuhan pun akhirnya ‘mencipta’ prakondisi bagi terjadinya proses “tinuntun jumbuh” tersebut. Ujungnya adalah 26 orang penggerak komsos (komunikasi sosial) –tua, muda, remaja–  dari enam paroki Keuskupan Agung Semarang (KAS) wilayah Pantura Timur berkumpul untuk menyatukan langkah bersama membangun Balai Budaya Rejosari.

Bersama Romo Yohanes Berchmans  Haryono MSF –selaku pemangku Balai Budaya Rejosari— ke-26 penggerak komsos dari Paroki Gubug, Paroki Pati, Paroki Kudus, Paroki Jepara, Paroki Purwodadi, dan Paroki Juwana akhirnya kesampaian mendapat peluang bagus untuk kemudian bersinergi bersama tim Sesawi.Net.

Komunitas beda bertemu

Komunitas-komunitas iman dari wilayah-wilayah administratif gerejani yang berbeda itu akhirnya bertemu untuk sebuah perhelatan bareng. Lokasinya terjadi di sebuah wisma hunian di Colo, kawasan indah dan adem di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 18-19 Januari 2014.

Mereka bertemu, berkenalan, dan mengusung sebuah semangat bersama untuk membesarkan Balai Budaya Rejosari yang hari-hari ini masih dalam tahapan penyempurnaan bangunan dan pemantapan merancang program. Ke-26 penggerak komsos dari enam paroki KAS di jalur Pantura Timur ini sepakat untuk mengasah ‘pisau analisis sosial’ mereka berikut ketrampilan menulis dan memotret untuk sebuah misi bersama: pewartaan iman.

Et Dieu crea …sebuah workshop (lokakarya) menulis dan pelatihan jurnalistik bagi ke-26 penggerak komsos dari Paroki Gubug, Kudus, Pati, Juwana, Purwodadi, dan Jepara bersama tim Sesawi.Net.

Balai Budaya Rejosari writing workshop program 2


Gereja yang berdayaguna

Ide bagus untuk mengasah ‘pisau analisis sosial’ di antara para penggerak komsos paroki ini  muncul, ketika Direktur Balai Budaya Rejosari Romo YB Haryono MSF berkeinginan menghidupkan dinamika Gereja yang berdayagunaa serta pewartaan iman di tlatah paroki-paroki Keuskupan Agung Semarang di jalur Pantura Timur ini.

Tentunya, mengikuti analogi “Gereja: Dari Altar ke Pasar” itu harus dilakukan melalui berbagai program acaraa yang tidak hanya melulu berupa kegiatan parokial, layanan pastoral, dan kegiatan liturgis semata. Lebih dari itu, upaya menghidupkan dinamika Gereja yang berdayaguna justru bisa dicapai dengan lebih efektif melalui kegiatan dan program yang sifatnya katergorial non pastoral.

Itu bisa terjadi melalui program-program kebudayaan, kegiatan seni, ekspose kekayaan kultural lokal, pertemuan-pertemuan lintas budaya dan iman untuk sebuah cita-cita bersama: tumbuhnya peradaban iman dan persaudaraan sejati antarsesama anak bangsa.

Paus memeluk anak cacat di Lapangan Santo Petrus Vatikan by DailyMail

Nah, dalam konteks mengasah alam pikir dan ketrampilan ‘mendokumentasikan’ berbagai program acara dan kegiatan Balai Budaya Rejosari inilah, maka digagaslah sebuah program awal namun sangat strategis: workshop menulis (mendokumentasikan peristiwa) dan pelatihan jurnalistik untuk para penggerak komsos dari enam paroki KAS di jalur Pantura Timur.

Bersinergi dengan Sesawi.Net

Tim Sesawi.Net bersinergi dengan Balai Budaya Rejosari menggarap program penting ini.

Itulah kisah filosofi  “tinuntun jumbuh” yang  kembali lagi disitir oleh Romo Yohanes Berchmans  Haryono MSF ketika membuka program workshop menulis dan pelatihan jurnalistik di Colo, Kudus, 18-19 Januari 2014. “Sesawi.Net berhasil dipertemukan dengan manajemen Balai Budaya Rejosari  melalui sebuah jaringan pertemanan yang tidak pernah dirancang.  Namun dari sini pula akhirnya  berhasillah dijaring para  peserta dan kemudian juga berhasil menyusun sebuah  program kegiatan bersama tim Sesawi.Net untuk memberi bekal-bekal dasar  kemampuan menulis dan membuat reportase kepada para penggerak komsos di paroki-paroki KAS jalur Pantura Timur,” tandas Romo YB Haryono MSF.

Sungguh, kebenaran filosofi “tinuntun jumbuh” belum selesai di situ.

Lagi-lagi, berkat jaringan pertemanan maka ditemukanlah vila bagus di Colo dimana tim Sesawi.Net bisa menginap dengan enak dan nyaman. Sekaligus juga tim penggerak komsos dari enam paroki di jalur Pantura Timur juga menemukan lokasi enak sebagai venue perhelatan lokakarya menulis dan pelatihan jurnalistik ini.

“Benar-benar seperti ‘tumbu oleh tutup’,” kata anggota tim Sesawi.Net mengomentari perjalanan iman ini.

Balai Budaya Rejosari Kudus foto bersama di tangga 2 OK

Gereja dari altar ke pasar

Balai Budaya Rejosari yang digagas Keuskupan Agung Semarang  nantinya tidak hanya akan menjadi semacam pusat layanan pastoral untuk umat katolik di Jalur Pantura Timur. Melainkan juga dirancang akan menjadi semacam semacam venue dimana  semua kekayaan budaya, seni, iman dari berbagai lintas komunitas bisa berkumpul dan bersinergi.

Gereja Katolik yang hidup dan berdinamika tidak hanya memusatkan diri pada perayaan-perayaan iman melalui ritual liturgis di altar, melainkan seharusnya mulai bergerak ke ‘pasar’ karena di situlah pusat terjadinya interaksi antarmanusia lintas iman di alam dunia yang paling nyata.

“Pasar adalah dunia kita semua,”  demikian kata Romo YB Haryono MSF.

Maka Balai Budaya Rejosari harus menjadi semacam ‘pasar’ dimana bisa terjadi komunikasi-komunikasi lintas iman, lintas budaya, lintas komunitas yang akhirnya menghadirkan persaudaraan sejati di antara sesama manusia.

Ibaratnya begini. Kalau ada komunitas-komunitas membutuhkan tempat untuk mengadakan pentas seni atau lokasi untuk sebuah program paparan budaya atau ekspose (pameran) nilai-nilai budaya dan seni lokal, maka Balai Budaya Rejosari inilah menjadi tempatnya.Pelatihan jurnalistik Balai Budaya Rejosari Kudus Romo R. Haryono MSF dan RYI

Tampilnya 26 penggerak komsos dari enam paroki di Pantura Timur adalah perwujudan dari dinamika Gereja yang ingin berbagi iman, nilai sosial kepada masyarakat umum dengan memanfaatkan wahana media online. Menulis atau membuat reportase ringan atas apa yang terjadi di sekitarnya  bisa menjadi semacam  ikatan yang membuat umat merasakan terhubung satu sama lain, sekalipun bisa jadi sebelumnya tidak pernah saling kenal.

Tim Sesawi.Net sebelumnya juga tidak kenal dengan Romo YB Haryono MSF. Namun, berkat jejaring pertemanan melalui media sosial, maka Sesawi.Net pun mulai kenal dan akhirnya bertemu muka dengan Romo R. Haryono MSF. Pun begitu pula, Sesawi.Net akhirnya bisa berkenalan dan bertemu wajah dengan para penggerak komsos dari enam paroki di Pantura Timur.

Melalui Romo YB Haryono MSF dan senantiasa mengikuti alur perjalanan waktu sesuai arahan filosofi “tinuntun jumbuh” itu, maka profil Balai Budaya Rejosari mulai mengemuka. Hadirnya para penggerak komsos dari enam paroki di tlatah KAS wilayah Pantura Timur diharapkan akan menjadi motor utama penggerak Balai Budaya Rejosari.

Tim Sesawi.Net ikut menjadi motor pendukung gerakan dinamika hidup menggereja dari altar ke pasar ini.

Meski jalan panjang masih harus lama ditempuh dan dicapai, namun kiranya harapan besar bahwa sekali waktu Gereja akan bergerak ‘dari altar ke pasar’ itu akan bisa terwujudkan.

Balai Budaya Rejosari writing workshop program with Sesawi.Net ok

Photo credit:

  • Suasana lokakarya menulis dan pelatihan jurnalistik bersama tim Sesawi.Net untuk para penggerak komsos dari enam paroki di Pantura Timur di Colo, Kudus, Jawa Tengah, 18-19 Januari 2014. (AYP)
  • Bapa Suci Paus Fransiskus memeluk mesra seorang anak cacat fisik dan mental di Lapangan Santo Petrus Vatikan usai misa Paska tahun 2013 (DailyMail).
  • Direktur Balai Budaya Rejosari Romo YB Haryono MSF bersama perwakilan tim Sesawi.Net di akhir acara lokakarya (AYP).

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.