Balai Budaya Rejosari di Balik Filosofi “Tinuntun Jumbuh” (2)

< ![endif]-->

ET Dieu creaBalai Budaya Rejosari di Kudus, Jawa Tengah; khususnya di jalur Pantura Timur di wilayah timur laut Jawa Tengah.  Dan Tuhan pun menciptakan Balai Budaya Rejosari….

Menyimak penuturan Romo R. Haryono MSF tentang filosofi Jawa “tinuntun jumbuh”, maka sejarah berdirinya Balai Budaya Rejosari di wilayah administratif gerejani Paroki Kudus ini sungguh merupakan sebuah perjalanan iman.

Diawali oleh sebuah keprihatinan iman yang mendalam dari Bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo waktu itu tentang sejarah ‘peradaban iman’ di wilayah Pantura Timur Keuskupan Agung Semarang di  jalur Jawa Tengah Timur Laut. Katakanlah, setelah kurang lebih 50 tahun eksis di wilayah Pantura Timur ini, mengapa keberadaan Gereja Katolik di jalur Jawa Tengah Timur Laut ini kurang dirasa greget-nya.

Mana greget-nya?

Kurangnya greget keberadaan Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang di jalur Pantura Timur ini tidak hanya dirasakan oleh umat katolik sendiri, melainkan lebih-lebih oleh masyarakat umum sekitarnya. “Pertanyaannya sederhana, dimanakah Gereja Katolik ketika di sana-sini ada banyak hal yang perlu mendapat sapaan kita?,” tutur Romo R. Haryono MSF pada kesempatan membuka Workshop Menulis dan Pelatihan Jurnalistik untuk para penggerak Komsos dari 7 paroki di wilayah Pantura Timur di Colo, Kudus, 18-19 Januari 2014 lalu.

Keprihatinan Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo ternyata juga menjadi pokok perhatian Kongregasi Imam dan Bruder Misionaris Keluarga Kudus (MSF).

Boy hugs Pope(1)

Menurut penuturan Romo R. Haryono MSF, kehadiran para imam dan bruder MSF di tlatah Pantura Timur di jalur Jawa Tengah Timur Laut itu juga sudah lama. Jejak rekam kehadiran MSF di jalur Pantura Timur ini boleh dikatakan sudah lebih dari 50 tahun.

“Tapi, mengapa para aktivis gerejani selalu datang dari kawasan Jawa Tengah bagian Selatan?,” tutur Romo R. Haryono MSF.

Jawa Tengah Selatan

Yang dimaksudkan dengan  kawasan Jawa Tengah “Selatan” adalah wilayah-wilayah administratif gerejani di bagian selatan  Pantura. “Kalau ditarik garis ke Selatan dari arah Semarang dan Kudus, maka wilayah administratif gerejani Keuskupan Agung Semarang bagian Selatan itu meliputi Ungaran, Girisonta, Ambarawa, Magelang, Muntilan, Boro, Promasan, Klepu, Kalasan, Wedi, Klaten, Delanggu, Solo, Wonosari, Wonogiri dan seterusnya,” papar imam MSF yang merupakan ‘putra daerah’ asli dari Promasan, Boro ini.

Dibandingkan dengan wilayah administratif KAS di jalur Pantura Timur, maka wilayah KAS dari jalur Selatan itu –demikian penegasan Romo R. Haryono MSF–  boleh dikatakan lebih berdaya guna karena sudah menampakkan hasil kesuburan tanah imannya.  “Ada Pusat Pastoral Girisonta di Karangjati Ungaran; ada Seminari Mertoyudan di Magelang; ada Sendangsono di Promosan; ada pusat pendidikan anak-anak khusus di Boro oleh bruder-bruder FIC pun pula di Muntilan juga ada SMA Van Lith; jauh ke selatan maka ada Seminari Tinggi Kentungan, Kolese Ignatius, Pusat Pastoral, Pusat Musik Liturgi; Klaten ada Rumah Retret Sangkal Putung …dan seterusnya,” kata Romo R. Haryono.

Lalu, wilayah Keuskupan Agung Semarang di jalur Pantura Timur ini pernah menghasilkan apa? Begitulah kira-kira keprihatinan bersama yang beberapa tahun lalu pernah mencungul di kalangan para pemerhati iman di KAS  maupun MSF.berdoa

Wilayah Pantura bagian Barat Tengah masuk dalam wilayah administratif gerejani Keuskupan Purwokerto. Ini meliputi Paroki Tegal, Slawi, Brebes, Pekalongan, Mejasem, Weleri. Sementara Pantura bagian paling Barat masuk wilayah Keuskupan Bandung: Paroki Pamanukan, Cirebon, Indramayu.

Sementara wilayah Pantura Bagian Timur yang masuk dalam jurisprudensi Keuskupan Agung Semarang adalah Paroki Demak, Gubug, Kudus, Pati, Jepara, Juwana, Purwodadi.

Melihat topografi wilayah gerejani dan sejarah perkembangan peradaban iman di wilayah Pantura Timur di Keuskupan Agung Semarang itu, maka bolelah dikatakan bahwa mayoritas penggerak iman dan aktivis gerejani itu datang dari wilayah “Selatan” yakni Boro, Muntilan, Promasan, Wonogiri, Wonosari, Klaten, Wedi, DIY, Solo dan sekitarnya.

“Para penggerak dan aktivis itu memang sudah tinggal menetap di Pantura Timur. Namun, kalau ditilik darimana mereka aslinya datang, maka jawabannya bukan dari wilayah Pantura; melainkan datang dari kawasan Jawa Tengah Selatan,” papar Romo R. Haryono.

“Tinuntun Jumbuh”

Keprihatinan besar dicungulkan oleh Bapak Uskup Agung Semarang –waktu itu—yakni Mgr. Ignatius Suharyo. Konggregasi MSF juga menyuarakan hal sama. Satu keprihatinan bersama melahirkan gagasan bersama yakni bagaimana bisa memberdayakan Gereja Katolik di gugus jalur Pantura Timur ini?Penyelenggaraan ilahi In God We Trust

Keuskupan Agung Semarang dan MSF mencoba mengolah bersama keprihatinan dan ide ke depan untuk memberdayakan Gereja Katolik hingga akhirnya Bapak Uskup Agung Semarang –sekarang ini—Mgr. Yohannes Pujasumarto akhirnya ketok palu. Sim…salabim ….akhirnya lahirlah Balai Budaya Rejosari. MSF secara resmi mengangkat Romo R. Haryono MSF sebagai direktur pengelola Balai Budaya Rejosari bersama para aktivis awam yang berasal dari beberapa paroki di Jalur Pantura Timur itu.

“Itulah sejarah iman. Bagaimana kita benar-benar   tinuntun jumbuh hingga akhirnya dari sebuah  keprihatinan besar lalu muncul gagasan ideal dan akhirnya gagasan itu berhasil  diwujudnyatakan dalam perbuatan-perbuatan fisik: membangun lokasi Balai Budaya Rejosari, membuat program, menyediakan fasilitas, dan sebagainya,” pungkas Romo R. Haryono.

Balai Budaya Rejosari pelatihan suasana ok

Photo credit:

  • Suasana workshop menulis dan pelatihan jurnalistik bersama tim Sesawi.Net untuk para penggerak komsos di paroki-paroki di tlatah Keuskupan Agung Semarang wilayah Pantura Timur (AYP)
  • Foto-foto ilustratif (Ist)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.