(sambungan)

Rangkaian ayat-ayat kemarin dalam 1 Yohanes 4:7-21 sesungguhnya jelas. Kita tidak bisa mengatakan mengasihi Allah sambil menyimpan kebencian dari sesama kita. Kita tidak bisa mengasihi dan membenci sekaligus. Itu akan menunjukkan bahwa kita adalah pendusta, demikian kata firman Tuhan. Mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci orang lain tidak akan pernah bisa berjalan bersamaan atas alasan apapun. Dari sini kita bisa melihat bahwa ternyata Tuhan punya bahasa kasih sendiri. Tuhan akan merasakan kasih kita secara penuh lewat seberapa besar kita mengasihi saudara-saudara kita. He will feel our true love to Him by our willingness to love others. Itulah bahasa kasih Tuhan. Alangkah percumanya kita mengaku-ngaku mengasihi Tuhan tapi tidak satupun dari perbuatan kita yang mencerminkan hal itu, dan itu artinya kita tidak peduli sama sekali untuk mengenal pribadi Tuhan secara mendalam.

Selain itu apa lagi? Kita bisa melihat juga apa yang dikatakan firman Tuhan berikut. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Ternyata bukan soal seberapa rajin kita duduk di gereja atau sehebat-hebatnya kita mengikuti tata cara peribadatan atau bahkan sekuat apa kita menyanyikan lagu pujian, tetapi apa yang dikatakan berkenan di hadapan Tuhan adalah seberapa jauh kita bisa mempersembahkan tubuh kita sepenuhnya lengkap dengan kekudusan, ketaatan dan kesetiaan yang total, termasuk didalamnya mengenai bagaimana kita mengalirkan kasih kepada sesama kita, bukan hanya lewat kata-kata tetapi justru lewat sikap hidup kita yang nyata. Dan itulah yang dianggap sebagai ibadah yang sejati. Itulah yang akan berkenan bagi Tuhan dan akan membuatNya tahu bahwa kita sungguh-sungguh mengasihiNya.

Ada banyak orang yang mengaku mengasihi Tuhan. Mereka menyampaikannya lewat begitu banyak cara, gaya dan pola. Ada yang menunjukkannya lewat doa yang panjang-panjang, lewat kerajinan beribadah dan lain-lain. Tetapi perhatikanlah bahwa semua itu tidak akan ada gunanya apabila kita tidak mengasihi saudara-saudara kita dan masih menyimpan kebencian, bahkan terlalu mudah untuk menghakimi. Merasa tata caranya paling benar lalu menghina atau menghujat sesama saudara dalam Kristus yang berbeda gereja, atau bahkan merasa berhak menghakimi orang lain dan menyimpan dendam, itu menunjukkan bahwa kita belumlah mengasihi Tuhan, meski mungkin kita begitu rajin beribadah dan berdoa setiap saat. Kalau itu yang kita lakukan, Alkitab mengatakan bahwa kita adalah pendusta. (1 Yohanes 4:20). When we still hate someone or refuse to give love, everything else would be pointless, useless. Meskipun rajin beribadah dan memuji Tuhan itu sangat baik, tapi tanpa mengasihi sesama maka kita tidak akan pernah berhak mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan. Dua perintah Yesus yang terutama pun mengaitkan antara mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. (Bacalah Matius 12:28-34). Bahkan dengan tegas Tuhan Yesus sendiri berkata: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Kata kuncinya adalah kasih. Itu merupakan esensi yang paling mendasar. Mengapa? Sebab Allah adalah kasih itu sendiri. God is not just full of love or the source of love, but more than that God is the love itself. Mengasihi orang lain dan mempersembahkan hidup kita yang kudus akan jauh lebih berharga di mata Tuhan ketimbang segala tata cara peribadatan, segala yang hanya mementingkan penampilan luar dan sebagainya. Itulah yang akan membuat Tuhan benar-benar merasakan kesungguhan kasih kita kepadaNya. That’s His language of love. Belajarlah mulai sekarang untuk memperbesar aliran kasih untuk menjangkau saudara-saudara kita tanpa memandang siapa diri mereka. Belajarlah untuk memberi pengampunan. Hindari bentuk-bentuk ejekan, hinaan, sindirian atau kebencian terhadap saudara sendiri, karena Tuhan Yesus pun tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Dia justru ingin semua anggota tubuhNya bersatu, tidak tercerai berai. We’re a liar if we say we love Him but still hating each other at the same time. Apakah anda mengasihi Tuhan? Jika ya, kasihilah sesamamu.

Tuhan akan merasakan kasih kita dengan sungguh-sungguh di saat kita mengasihi saudara kita dengan sungguh-sungguh pula

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.