Bagaimana Pastor Keluar dari Kenyamanan?

Agar bisa keluar dari zona nyaman, Yesuit harus mendapat perutusan. Perutusan tidak selalu sesuai dengan keinginan pribadi. Kendati  memang ada yang pilih-pilih.

Demikian disampaikan Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ pada sebuah seminar atas pernyataan peserta tentang pentingnya keluar dari zona nyaman bagi Yesuit dan para imam dalam Gereja Katolik. Adapun bagi para awam yang membentuk hidup keluarga, justru  wajib berusaha hidup nyaman. “Keluarga harus berusaha mencukupi kebutuhan hidup, makan cukup, pendidikan yang baik,terjamin  kesehatannya, dan sebagainya,” tegas Romo Magnis. Namun juga diingatkan bahwa jalan hidup umat Gereja adalah jalan salib. Rajin berdoa dan rajin ke Gereja tidak otomatis membuat umat hidup berkelimpahan.

 

Pembicaraan di atas mengemuka dalam Seminar terbuka Latihan Rohani yang berlangsung di Kolese Kanisius, 23 Juni 2012. Seminar yang dihadiri sekitar 80 peserta dari berbagai kalangan umat ini  diadakan atas inisiatif PERHATI (Perkumpulan Harapan Tunas Indonesia) dan menghadirkan Romo Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ dan Dr. Deshi Ramadhani, SJ, sebagai pembicara. Keduanya dosen STF Driyarkara Jakarta. Sumber ketiga dari kalangan awam, yakni Boen Kosasih, yang pernah retret Latihan Rohani selama sebulan. Acara ini dimoderatori oleh Romo In Nugroho, SJ dari Kolese Kanisius Jakarta.

 

Seminar ini menjadi salah satu mata rantai gerakan Yesuit provinsi Indonesia untuk membentuk jaringan, yang diharapkan ikut memikirkan dukungan bagi karya-karya Serikat Yesus di Indonesia. Selanjutnya, PERHATI akan mengadakan acara retret/rekoleksi dengan tema “Memberikan diri untuk Misi Rekonsiliasi” pada hari Sabtu, 28 Juli 2012 dan “Fund Raising is about restoring the web of relationships” pada hari Sabtu 17 November 2012 di Jakarta. Sedangkan di Yogyakarta juga akan diadakan acara yang sama masing-masing pada hari Minggu, 29 Juli dan Sabtu, 24 November.

 

Diutus di Tengah Dunia Yang Terpecah

Baik Romo Magnis maupun Romo Deshi  menekankan pentingnya Yesuit hidup dan berjuang di tengah-tengah dunia yang penuh ketegangan dan terpecah. Serikat Yesus adalah kumpulan para sahabat yang merasa terpanggil untuk melakukan tugas perutusan kendati merasa sebagai pendosa.

“Api yang menggerakkan Yesuit dalam melakukan karyanya di tengah dunia adalah Latihan Rohani Santo Ignatius,” jelas Boen Kosasih, seorang awam yang pernah mendapat kesempatan retret ala Latihan Rohani Santo Ignatius selama sebulan pada bulan Desember 1973. Dalam retret itu, selain diberikan latihan berdoa dan pemeriksaan batin, juga diberikan berbagai “ilmu dunia” seperti manajemen, debat, dsb. Turut serta dalam kaderisasi itu berbagai tokoh seperti Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, dan Anton Mulyono. “Yesuit berada di balik berbagai kebijakan jaman Orde Baru seperti Repelita, Undang-Undang Perkawinan, dan Asas Tunggal,” jelas Boen.

 

Boen menjelaskan berbagai karya Yesuit di Indonesia, antara lain karya pendidikan, sosial, dan media. Karya bagi orang muda juga disebut, di antaranya YCS (Young Catholic Student) dan Magis. Karya yang tergolong baru bernama Bentara (Beriman dan Bhakti pada Bangsa dan Negara), yakni semacam retret dan kaderisasi bagi kaum muda selama sebulan. Kegiatan ini rencananya diadakan dua kali dalam setahun, yakni bulan Juli dan Desember. Para Yesuit yang terlibat dalam karya ini antara lain Romo BS. Mardiatmadja, SJ, Romo Herry Priyono, SJ, dan Romo Heri Wijayanto, SJ.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.