Bagai Biji Mata Tuhan

Ayat bacaan: Ulangan 32:10
=====================
“Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.”

“Kamu harus bersyukur selagi mata masih berfungsi bagus, jaga sebaik-baiknya karena kalau sudah seperti saya kamu bakal kehilangan banyak hal.” Demikian kata seorang bapak yang menderita katarak pada suatu kali. Mata adalah indera penglihatan yang memungkinkan kita melihat segala keindahan penuh warna hasil pekerjaan tangan Tuhan. Dengan mata kita bisa melihat indahnya fajar menyingsing atau ketika matahari terbenam, kerlap kerlip bintang di langit, awan biru tebal dan lain-lain yang bisa membuat kita menyaksikan dengan nyata kasih Tuhan secara visual. Mata jelas merupakan satu dari sekian banyak karunia Tuhan yang luar biasa. Sayangnya kebanyakan dari kita mempergunakan mata bukan untuk hal-hal yang menyukakan hati Tuhan. Ada yang mata keranjang, cepat tergoda untuk melakukan perbuatan buruk lewat mata, atau bahkan sekedar dipakai menyontek saat ulangan di sekolah. Maka mempergunakan mata untuk menyenangkan hati Tuhan menjadi sangat penting. Dalam beberapa renungan terdahulu kita sudah melihat bahwa Daud mempergunakan matanya untuk melihat kemuliaan dan kasih Tuhan yang secara jelas terpancar lewat keindahan alam yang telah Dia ciptakan. Tuhan memberi bukan satu tetapi dua mata, sehingga seharusnya kita sadar bahwa mata merupakan hal yang istimewa tidak saja bagi kita tapi juga bagi Tuhan. 

Apakah ada orang yang dengan sengaja mau merusak matanya sendiri sampai buta? Tentu tidak, kecuali orang yang tidak waras. Tidak ada bagian tubuh kita yang diciptakan secara sia-sia tanpa maksud oleh Tuhan, termasuk di dalamnya mata. Daud mempergunakan mata untuk memuliakan Tuhan lewat Mazmur-mazmurnya. Lihatlah salah satu ayat dimana Daud berkata: “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Jelas, itu muncul dalam hati Daud sebagai sumber inspirasi karena ia mempergunakan organ penglihatannya yaitu mata. Menariknya, ketika Tuhan ingin menunjukkan perhatian, kasih dan kesetiaanNya yang begitu besar kepada kita, Tuhan menyebutkan itu semua adalah sepenting Tuhan memperhatikan biji mataNya sendiri. Ini tertulis di dalam Alkitab, yaitu dalam Ulangan 32:10 sebagai rangkaian dari nyanyian Musa: “Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” Biji mata dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai “Pupil of His Eye”.

Kelak pada kitab Wahyu nyanyian ini kembali disebutkan. “Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” (Wahyu 15:3). Dalam Wahyu pasal ini disebutkan bahwa pada akhir jaman nanti, mereka yang menang atas binatang dan patungnya dan orang-orang yang ditandai dengan angka (bilangan) akan menyanyikan kembali nyanyian Musa, bersama-sama dengan nyanyian Anak Domba dengan diiringi kecapi Allah. (ay 2). Luar biasa bukan? Ini artinya bahwa pernyataan Tuhan bahwa kita akan selalu dijaga seperti Dia menjaga biji mataNya akan terus ada sampai akhir jaman.

Dari Musa, mari kita menuju ke Daud. Ketika Daud dikejar-kejar musuh, Daud mengaitkan biji mata dalam menantikan perlindungan Tuhan. “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu, terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku.” (Mazmur 17:9). Lalu marilah kita lihat bagaimana bunyi Firman Tuhan yang memberi jaminan pemeliharaan atas hidup kita. “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya” (Zakharia 2:8). Siapapun yang berani menjamah kita anak-anakNya itu sama artinya dengan menjamah biji mataNya. Bagi mereka-mereka ini, demikian kata Tuhan: “Sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku.” (ay 9). Ini adalah sebuah jaminan perlindungan luar biasa yang dinyatakan Tuhan sendiri atas kita yang dinyatakan dengan menempatkan kita sama pentingnya seperti pupil atau biji mata Tuhan sendiri.

Jika Tuhan sudah menjanjikan sebuah jaminan pemeliharaan dengan mengumpamakan pupil mataNya sendiri, maka itu artinya kita tidak perlu khawatir, tidak perlu ragu, cemas atau takut dalam menatap hari depan. Meskipun itu semua belum bisa kita lihat, meski mungkin hari ini kita masih berhadapan dengan ketidakpastian atau bahkan himpitan berbagai masalah kehidupan masih terus membebani kita, jangan pernah khawatir karena biar bagaimanapun Tuhan sudah menyatakan bahwa kita merupakan biji mataNya sampai kapanpun. Begitu berharganya kita di mata Tuhan, Dia akan senantiasa ada bersama kita, mengawasi dan melindungi kita dari segala hal agar bisa mendapat hidup yang aman lengkap dengan segala kelimpahannya. Anda tidak perlu ragu, karena sampai kapanpun anda akan selalu seperti biji mataNya

Kita berharga di mata Tuhan seperti biji mataNya sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.