Ayat bacaan: Yeremia 18:4
====================
“Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”

Bagaikan bejana siap dibentuk
Demikian hidupku ditanganMu
Dengan urapan kuasa Roh-Mu
Ku dibaharui selalu

Jadikan ku alat dalam rumahMu
Inilah hidupku ditanganMu
Bentuklah sturut kehendakMu
Pakailah sesuai rencanaMu

Ku mau sepertiMu Yesus
Disempurnakan selalu
Dalam setiap jalanku
Memuliakan namaMu

Anda ingat lagu itu? Rasanya semua orang tahu lagu lama yang berjudul “Bagai Bejana” ini. Lagu ini mudah untuk dihafalkan dan dinyanyikan. Tapi kalau kita mau mengambil waktu sejenak merenungkannya baik-baik, apakah kita sadar bahwa memberikan diri untuk dibentuk itu tidak mudah? Mungkin mudah bagi kita berkata bahwa kita siap untuk dibentuk seturut kehendak Tuhan, menyebutkan bahwa kita adalah bejana-bejana yang siap dibentuk. Tapi ketika kita mengalami proses pembentukan itu, ternyata saat menjalaninya seringkali sungguh menyakitkan yang bisa jadi tidak sebentar karena seringkali memakan waktu yang sangat lama.

Mari kita lihat seperti apa proses pembuatan bejana tanah liat. Proses dimulai dengan mengambil gumpalan tanah liat. Tanah liat tersebut lalu dibersihkan dari batu-batu, kerikil dan kotoran-kotoran lain yang melekat di tanah liat tersebut. Lalu tanah liat biasanya direndam agar menjadi lebih lembek dan bisa dibentuk. Langkah selanjutnya, tanah liat itu akan melalui pembentukan di atas sebuah meja berputar, yang biasanya dilengkapi pedal yang dapat mengatur kecepatan putar meja bulat diatasnya. Sambil terus diputar, tanah liat akan terus dibentuk oleh sang pembuatnya. Ditekan, didorong, tanah liat akan terkikis dan perlahan-lahan terbentuk. Setelah bentuknya baik, bejana masih harus melalui sebuah proses pembakaran hingga akhirnya menjadi sebuah bejana tanah liat yang indah.. Bagaimana sekiranya bentuknya kurang baik atau salah? Bejana itu harus dibentuk ulang dari awal lagi hingga menjadi sempurna. Seandainya tanah liat itu memiliki indera perasa dan bisa bicara, saya yakin tanah liat itu akan menjerit-jerit kesakitan. Dibersihkan, direndam, diputar, ditekan, didorong, dibakar, semua harus dilalui. Tetapi pada akhirnya tanah liat itu akan bersyukur saat menyadari dirinya menjadi sebuah bejana yang indah dan berharga yang sangat bermanfaat bagi orang banyak.

Inilah yang dialami oleh Yeremia di masa hidupnya. Pada suatu hari Yeremia mendapatkan hikmat Tuhan untuk belajar dari tukang periuk. (Yeremia 18:1-17). Sesampainya disana, ia bertemu dengan tukang periuk yang sedang bekerja dengan pelarikan (meja beroda/berputar). Dari pengamatannya ia mendapati: “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (ay 4). Tuhan lalu berkata: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (ay 6).

Tuhan seringkali mengambil posisi sebagai tukang periuk/bejana bukan karena ingin menyiksa kita, tapi justru karena kasihNya yang luar biasa dan karena kepedulianNya terhadap keselamatan kita. Dia selalu ingin yang terbaik bagi kita, dan untuk itu Dia mau turun tangan membentuk tanah liat agar menjadi bejana-bejana yang baik. Apabila Dia mendapati bejananya rusak, maka Dia akan membentuk ulang bejana tersebut sehingga menjadi baik dan sempurna. Tuhan tidak akan membiarkan anak-anakNya dalam keadaan rusak menuju kematian kekal. Maka proses pembuatan ulang bejana adalah pilihan terbaik. Itu bukan untuk Tuhan melainkan demi kebaikan kita, semata-mata karena besar kasihNya kepada kita. Bagai bejana, kita pun harus melalui proses pembentukan baik dari awal maupun kalau perlu dibentuk ulang, dan itu akan terasa menyakitkan. Kita dibersihkan, segala ego, kebiasaan buruk, kesombongan, dan sebagainya ditanggalkan, dikikis lepas dari kita, dan proses itu jauh dari nyaman. Saat menjalani mungkin penuh penderitaan, tetapi lihatlah hasil akhirnya, bahwa dengan melewati proses itulah kita akan menjadi anak-anak Tuhan yang bisa Dia banggakan. Kita kemudian bisa dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaanNya di dunia.

Apa yang dirancangkan Tuhan bagi hidup kita adalah segala sesuatu yang terbaik dan sempurna. Sesakit atau seperih apapun prosesnya, ingatlah bahwa semua itu bertujuan mendatangkan kebaikan bagi kita. Paulus mengingatkan demikian: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan–justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan..”(Roma 9:20-23).

Tuhan punya hak penuh atas kita, ciptaanNya, dan hukuman-hukuman yang kita alami tidak lain adalah sebuah proses pembentukan ulang bejana dari yang rusak menjadi sempurna, semata-mata karena Tuhan sangat mengasihi kita dan mempersiapkan kita agar layak menerima kemuliaan bersamaNya. Dia bisa saja membiarkan kita terlena melanggar ketetapan-ketetapanNya lalu binasa dalam siksaan kekal. Tapi Dia tidak ingin satupun dari kita berakhir seperti itu. Bukankah lebih baik apabila kita saat ini dibentuk lewat proses yang menyakitkan tapi kemudian menjadi layak untuk menerima keselamatan penuh sukacita bersamaNya ketimbang sebaliknya, dibiarkan saja dan luput dari itu? Setelah kita menjadi sebuah bejana yang indah, Tuhan pun mempersiapkan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mulia. “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (2 Timotius 2:21). Kita tidak akan mampu melakukan itu semua jika kita masih berupa tanah liat tak berbentuk atau bejana rusak.

Apabila diantara teman-teman ada yang sedang mengalami proses pembentukan ulang ini, bersabar dan bersyukurlah, karena itu artinya Tuhan begitu mengasihi anda dan tidak ingin anda binasa. Jangan keras hati saat menjalani proses agar Tuhan mudah membentuk kita dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Proses pembentukan bejana menyakitkan tapi kelak menghasilkan bentuk indah yang bernilai tinggi dan bermanfaat bagi banyak orang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. bejana kehidupan kristen
Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.