Bacaan dan Renungan Senin 31 Agustus 2020 Pekan Biasa XXII

Saudara-saudara,ketika aku datang kepadamu, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk mewartakan kesaksian Allah kepada kalian. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa pun di antaramu selain Yesus Kristus, Dia yang disalibkan. Aku pun telah datang kepadamu dalam kelemahan, dengan sangat takut dan gentar.
Baik ajaran maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia,melainkan pada kekuatan Allah.


Ref:Betapa besar cintaku kepada Hukum-Mu, ya Tuhan.

Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya perintah itu ada padaku. Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan selalu. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua,sebab aku memegang titah-titah-Mu.Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku,supaya aku berpegang pada firman-Mu.Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu,sebab Engkaulah yang mengajar aku.

Roh Tuhan menyertai aku; Aku diutus Tuhan mewartakan kabar baik
kepada orang-orang miskin.


“Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”

Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan.Seperti biasa, pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat.Yesus berdiri hendak membacakan Kitab Suci. Maka diberikan kepada-Nya kitab nabi Yesaya.

Yesus membuka kitab itu dan menemukan ayat-ayat berikut, “Roh Tuhan ada pada-Ku. Sebab Aku diurapi-Nya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Aku diutus-Nya memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, serta membebaskan orang-orang yang tertindas; Aku diutus-Nya memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”Kemudian Yesus menutup kitab itu dan mengembalikannya kepada pejabat; lalu Ia duduk dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.

Kemudian Yesus mulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah ayat-ayat Kitab Suci itu pada saat kalian mendengarnya.” Semua orang membenarkan Yesus. Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya. Lalu kata mereka, “Bukankah Dia anak Yusuf?” Yesus berkata, “Tentu kalian akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku,’Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri.Perbuatlah di sini, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar telah terjadi di Kapernaum!”

Yesus berkata lagi, “Aku berkata kepadamu:Sungguh, tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar, ‘Pada zaman Elia terdapat banyak wanita janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka,melainkan kepada seorang wanita janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel tetapi tiada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria itu.”


Mendengar itu sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit lalu menghalau Yesus ke luar kota, dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
Tetapi Yesus berjalan lewat tengah-tengah mereka, lalu pergi.


Demikianlah Injil Tuhan. 

Bagaimana kesan Anda tentang pernyataan Paulus ini? Tidak mengandalkan kapasitas dan daya apapun yang dia miliki secara kodrati dalam pelayanan! Bahkan tidak mau tahu yang lain kecuali “Dia yang disalibkan!” Sungguh ekstrim! Mengingat konteks kota Korintus sebagai kota pelabuhan dagang, pusat budaya, serta berbagai kegiatan religius, jelas tidak mudah melayani di sana. Jika sekarang kita melayani kaum intelektual, bukankah kita harus memiliki bobot dan mampu tampil meyakinkan secara intelektual juga? Jika pewartaan atau pelayanan kita tidak mengandung argumentasi intelektual, siapa yang mau mendengar kita? Jika kita ingin mencapai orang berpangkat atau para pesohor, tetapi kita tidak selevel mereka, bagaimana kita dapat mengharapkan sambutan?
Begitulah, logika mendorong kita untuk menyesuaikan diri sebisa mungkin setara orang yang ingin kita ajak berelasi. Hal inilah yang disoroti serius oleh kesaksian Paulus dalam pelayanan. Mari amati baik-baik. Firman Allah bukan menuntut kita untuk menolak semua kapasitas dan cara pendekatan wajar dan manusiawi. Isu intinya di sini bukan soal memakai atau tidak memakai, tetapi bergantung pada apa atau siapa kita dalam pelayanan. Kita harus sadar bahwa semua kapasitas manusia selalu ada segi baiknya, tetapi juga membawa kecemaran dan “kebengkokan” sifat dosa. Maka kita tidak harus memusuhi juga tak boleh mengandalkannya. Kita harus mengandalkan kuasa Roh dan kuasa yang terdapat dalam Injil Kristus. Semua kapasitas manusia adalah sarana yang harus dikuduskan dan ditopang oleh kuasa-Nya. Bukan sebaliknya!
Bukan Paulus sendiri yang berpendirian seperti itu. Coba renungkan para hamba Allah dalam PL: Nuh, Musa, Yeremia, Daniel, dlsb. Juga mengapa ketika mengutus para murid Yesus melarang mereka membawa bekal lebih. Bukan saja agar ketergantungan kita tidak ke arah yang salah, juga agar potensi manusia yang tercemar dosa tidak mengacaukan isi pelayanan Roh kepada sesama kita. Dan tentunya, agar bukan diri kita yang dimuliakan, tetapi Dia saja yang layak dipuji! Jadi doa, karunia Roh, kuasa Injil, itulah yang harus jadi hakikat pelayanan kita!

Perikop ini memuat tema utama Injil Lukas, yakni misi pelayanan Yesus untuk “menyampaikan kabar baik kepada orang miskin” sebagai penggenapan dari Yes. 61:1-2 (18-21). Tema utama ini melandasi seluruh tindakan dan ajaran Yesus yang Lukas tuturkan di dalam Injilnya.
Yesus adalah Mesias, yang diurapi dan diutus Allah untuk melaksanakan misi penyelamatan Allah. Dengan tegas Ia memproklamirkan diri ketika menyatakan bahwa, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku.” Tugas “menyampaikan kabar baik” terdiri atas empat kegiatan (18-19), yang sekaligus menjelaskan siapa yang dimaksud dengan “orang miskin”, yakni mereka yang “tertawan, buta, dan tertindas”. Dalam masyarakat zaman itu, yang termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang tersisih, terkucil, tanpa status sosial, dan tanpa kuasa.
Yesus memberitakan “pembebasan” kepada yang tertawan dan tertindas, (19 a, c). Dalam konteks Injil Lukas pembebasan selain arti rohani (pengampunan dari dosa), juga bermakna sosial. Ia menghadirkan “tahun rahmat Tuhan” (19 d). Ungkapan ini sering dipakai untuk tahun Yobel (Im. 25:10), yakni tahun pembebasan bagi kaum miskin yang ditindas oleh sebab utang-utang mereka. Kepada yang buta, Yesus membawa penyembuhan (19 b), baik dari kebutaan fisik (bdk. Luk. 18:35-43) maupun kebutaan rohani. Mereka yang buta rohani akan melihat “terang keselamatan dari Tuhan” di dalam Yesus (Luk. 1:78-79; 2:29-32; 3:6). Yesus membawa kabar baik Kerajaan Allah, tidak terbatas untuk orang Yahudi saja, tetapi juga untuk orang bukan Yahudi, seperti yang telah dirintis oleh nabi Elia dan Elisa (25-27). Hidup dan tindakan Yesus adalah kepedulian dan campur tangan Allah menyelesaikan masalah-masalah manusia.

Renungkan: Yesus, Sang Juruselamat, menganugerahkan pengampunan dosa dan kesembuhan bagi semua orang.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku telinga yang mau dan mampu mendengar dan hati yang mau dan mampu mendengarkan sabda-Mu dalam Kitab Suci, sabda kasih-Mu dan sabda-Mu yang menyemangatiku. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan ajarlah aku. Amin.


Luk 4:16-30
Aku diutus menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. 
Tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya

 


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.