Bacaan dan Renungan Senin 30 Desember 2019, Masa Natal, St.Sabinus

“Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”2:12 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. 2:13 Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat. 2:14 Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat. 2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Refren: Biarlah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai.

Mazmur:

Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya.Bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya, sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai seluruh bumi!Katakanlah di antara bangsa-bangsa, “Tuhan itu raja! Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”

“Hana berbicara tentang Kanak-Kanak Yesus.”

2:36 Ketika Kanak-Kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah, ada di Yerusalem seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 2:37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 2:38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 2:39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Yohanes memberi peringatan kepada orang Kristen tentang adanya ancaman yang dapat merusak persekutuan dengan Allah, yaitu cinta kepada dunia. Yohanes memberi dua alasan. Pertama, bahwa kasih pada dunia tidak berasal dari Allah (ayat 16). Dunia yang dimaksud bukanlah bumi yang kita huni, juga bukan manusia yang tinggal di bumi. Dunia menurut Yohanes adalah semua hal yang melawan Allah. Kedua, bahwa dunia yang dikasihi manusia tidak bersifat kekal (ayat 17). Sungguh merupakan kebodohan jika kita mengasihi hal-hal yang tidak kekal. Akan tetapi manusia tidak menyadarinya. Manusia lebih mencintai hal yang kelihatan yang bersifat sementara.

Bagaimana karakteristik cinta dunia? Yohanes menyebutkan tiga ciri khas cinta dunia:

Keinginan daging. Perlu dipahami bahwa wajar dan manusiawi jika manusia memiliki keinginan. Masalah timbul jika keinginan bercampur dengan daging membentuk keinginan daging. Istilah daging dalam ayat 16 menunjuk pada semua hal yang menentang Allah. Misalnya, keinginan seksual. Keinginan tersebut tidaklah keliru, yang keliru adalah jika perwujudan keinginan tersebut bertentangan dengan kehendak Allah. Keinginan seksual hanya boleh dilakukan dalam koridor perkawinan;Keinginan mata. Misalnya, mata melihat milik orang lain dan menginginkannya. Mata membangkitkan nafsu rakus. Jika nafsu berahi dan nafsu rakus bersatu akan mengarah pada dosa perselingkuhan;Keangkuhan hidup. Hidup adalah karunia Tuhan, tetapi ketika hidup disandingkan dengan keangkuhan ia menjadi dosa. Keangkuhan hidup merupakan pernyataan penolakan kehadiran Allah. Manusia angkuh melihat benda, properti, uang, karir cemerlang yang dimilikinya adalah prestasi bukan berkat Allah. Manusia angkuh merasa tidak perlu bergantung pada Allah dalam hidupnya.

Jika kasih pada Allah sudah mulai dingin, maka ini menjadi tanda bahwa kita sudah mengasihi dunia ini.

Kewajiban Manusia untuk Memuji Tuhan. Hai suku-suku bangsa. Sejalan dengan misi universal Israel, semua bangsa dipanggil untuk memuji Allah. Mereka diajak memberikan puji-pujian yang pantas, membawa persembahan, memasuki tempat kudus-Nya, dan menyembah Allah. Perhatikan bahwa mereka harus menyembah dengan pakaian yang pantas – berhiaskan kekudusan, dan sikap yang patut – gemetar atau penuh hormat.
Pemerintahan Adil Allah. Tuhan itu Raja. Terjemahan harfiah frasa ini adalah: Yahweh adalah Raja atau menjadi Raja. Barangkali ini mengacu pada upacara penobatan yang mungkin telah menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru. Akan tetapi, penekanan pokok adalah hal-hal mengenai zaman akhir (eskatologis); Allah digambarkan sebagai Raja semua bangsa dan Hakim atas bumi.

Maka Mazmur ini juga disebut sebagai nyanyian pujian yang berakhir dengan nada eskatologis. Universalisme mencolok di sepanjang mazmur ini memperlihatkan pemandangan yang diperluas mengenai orang-orang buangan ketika mereka kembali dari pengasingan. Septuaginta (LXX) mengidentifikasi kejadian itu sebagai waktu “rumah Tuhan dibangun kembali sesudah pembuangan.” Seringnya mazmur-mazmur lain dikutip (9, 29, 33, 40, 48, 95, 98, 105), universalisme, dan konsep “kehampaan” dari allah-allah, semuanya cenderung memperkuat spesifikasi LXX tentang peristiwa itu.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan dihindari banyak orang. Bahkan untuk menunggu jawaban doa pun, banyak orang yang tidak sabar. Padahal dalam menunggu, kita dilatih setia dan memiliki pengharapan.

Sudah begitu lama Simeon menantikan kedatangan Mesias yang akan membawa kelepasan bagi bangsanya. Ia percaya pada penyataan Roh Kudus bahwa ia akan melihat Mesias sebelum kematiannya. Terbukti bahwa penantian dan imannya tidak sia-sia. Di bawah pimpinan Roh Kudus, ia bertemu bayi Yesus. Dengan demikian, harapan akan datangnya kelepasan dari Allah dapat terwujud. Maka puji-pujian pun mengalir dari bibirnya karena penantiannya berakhir. Ia telah melihat terang yang akan mengusir kegelapan dosa dan menyinari bangsa-bangsa, bukan hanya bangsa Israel. Namun demikian, tidak semua orang akan percaya pada Yesus. Akan ada orang yang menerima Dia dengan sukacita, walaupun ada juga yang akan menolak.

Selain Simeon, ada Hana yang bersukacita atas kehadiran Yesus. Dia adalah seorang nabiah yang telah lanjut usia. Ia setia bekerja bagi Allah. Ia berdoa serta berpuasa dengan tekun. Ia juga bersyukur melihat kedatangan Yesus yang akan menggenapi janji Allah. Simeon dan Hana adalah orang-orang yang setia. Mereka tidak kehilangan pengharapan bertemu Mesias, meskipun penantian mereka sudah begitu lama. Mereka tetap setia dalam iman sehingga dengan pimpinan Roh Kudus, mereka memberikan kesaksian tentang Kristus.

Akankah iman dan kesetiaan kita bisa seperti Simeon dan Hana?

DOA: Bapa surgawi, dengan ini aku mempersembahkan keluargaku kepada-Mu dan mohon dari-Mu agar memberkati rumah-tanggaku. Aku percaya akan kasih-Mu bagi semua anggota keluargaku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku kuasa dan hikmat-kebijaksanaan, dan bimbinglah aku dalam mengasihi mereka yang paling dekat dengan diriku. Amin. (Lucas Margono)

Luk 2:36-40 Hana berbicara tentang kanak-kanak Yesus.

Luk 2:36-40 Hana berbicara tentang kanak-kanak Yesus

View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.