Bacaan dan Renungan Senin 28 Desember 2020 Hari ke-4 Oktaf Natal Pesta Kanak-kanak Suci

Darah Yesus Kristus menyucikan kita dari segala dosa.

Saudara-saudara terkasih, inilah berita yang telah kami dengar dari Yesus Kristus, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang, dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta, dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa. Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri, dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Allah adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Allah menjadi pendusta, dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa; namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil. Dialah pendamaian untuk segala dosa kita; malahan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.


Ref: Jiwa kita terluput seperti burung terlepas dari jerat penangkap.

Jika bukan Tuhan yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita.Maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir menembus kita; telah mengalir melanda kita air yang meluap-luap itu.Jerat itu telah putus, dan kita pun terluput! Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.

Herodes menyuruh agar semua anak laki-laki di Betlehem dan sekitarnya dibunuh.

Setelah orang-orang majus yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem itu pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi. Malaikat itu berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya! Larilah ke Mesir, dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena raja Herodes akan mencari Anak itu untuk dibunuh.” Maka Yusuf pun bangunlah. Malam itu juga diambilnya Anak itu serta ibu-Nya, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi-Nya, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”

Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, sangat marahlah ia. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat memilukan; Rahel menangisi anak-anaknya, dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.

Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Inilah kabar sukacita yang disampaikan oleh Rasul Yohanes. Kegelapan dunia akibat dosa manusia telah diterangi oleh Allah melalui kehadiran Yesus Kristus. Sebab kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, tetapi hanya bisa dilakukan oleh terang. Menyadari dan mengakui bahwa kita adalah orang berdosa merupakan langkah awal menuju Sang Terang. Kita semua adalah orang berdosa yang membutuhkan pengampunan. Yesus mengajarkan agar kita hidup dalam terang, yaitu hidup dalam kasih. Kasih adalah sikap yang sangat mendasar dalam kehidupan setiap manusia. Kasih itu bukan hanya sekedar menolong atau berbagai, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur atas iman kita.

Kekejaman Herodes membunuh anak-anak karena takut kehilangan kekuasaannya sebagai raja menggambarkan kegelapan menguasai hidupnya. Ia sangat berambisi dan menentang apa yang telah dinubuatkan oleh Allah. Kekuasaan yang dimiliki Herodes ternyata tidak mampu mencegah karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan manusia itu terbatas dan tidak akan pernah mampu melampaui kekuasaan Allah. Oleh karena itu, keselamatan tidak bisa kita alami jika mengandalkan kekuatan diri sendiri. Pengalaman orang Majus menjadi bukti campur tangan Allah dan menemukan keselamatan. Mereka mampu mendengarkan suara Allah, sehingga mereka tidak kembali lagi ke Herodes. Semoga kanak-kanak suci yang menjadi korban kekerasan Herodes menyadarkan kita supaya tidak menggunakan kekerasan dalam hal apapun.


Ya Allah, sukacita Natal mengingatkan kami supaya tidak mengorbankan orang lain untuk kepentingan kami sendiri. Semoga kami menjadi terang bagi sesama. Amin


Renungan diambil dari Ziarah Batin 2020



Mat 2:13-18
Herodes menyuruh agar semua anak laki-laki di Betlehem dan sekitarnya dibunuh.


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.