Bacaan dan Renungan Senin 24 Februari 2020, Pekan Biasa VII

Jika kalian puas dalam hati, janganlah membanggakan diri.


Saudara-saudara terkasih,Siapakah di antara kalian yang bijak dan berbudi?Baiklah ia dengan menyatakan perbuatannya dengan cara hidup yang baik.Dan lewat hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan.


Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri,janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas,tetapi dari dunia,dari nafsu manusia, dan dari setan-setan.Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.Tetapi hikmat yang dari atas itu pertama-tama murni,selanjutnya pendamai, peramah, penurut,penuh belas kasihan dan buah-buahan yang baik;tidak memihak dan tidak munafik.Dan buah yang terdiri dari kebenaran itu ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.



Ref:Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati.

Taurat Tuhan itu sempurna,menyegarkan jiwa;peraturan Tuhan itu teguh,memberikan hikmat kepada orang bersahaja.Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati;perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.Takut akan Tuhan itu suci,tetap ada untuk selamanya;hukum-hukum Tuhan itu benar,adil selalu.Mudah-mudahan Engkau sudi mendengarkan ucapan mulutku,dan berkenan akan renungan hatiku,ya Tuhan, Gunung Batu dan Penebusku!

Yesus Kristus, Penebus kita, telah membinasakan maut,dan menerangi hidup dengan Injil.



Aku percaya, ya Tuhan! Tolonglah aku yang kurang percaya ini.


Pada suatu hari Yesus bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes,turun dari gunung,lalu kembali pada murid-murid lain.Mereka melihat orang banyak mengerumuni para murid itu,dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.Ketika melihat Yesus,orang banyak itu tercengang-cengang semua dan bergegas menyambut Dia.Yesus lalu bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?”Kata seorang dari orang banyak itu,”Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.Setiap kali roh itu menyerang, anakku dibantingnya ke tanah.Lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan,dan tubuhnya menjadi kejang.Aku sudah minta kepada murid-murid-Mu,supaya mereka mengusir roh itu,tetapi mereka tidak dapat.”


Maka kata Yesus kepada mereka,”Hai kamu angkatan yang tidak percaya,berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?Bawalah anak itu ke mari!”Lalu mereka membawanya kepada Yesus.Dan ketika roh itu melihat Yesus,anak itu segera digoncang-goncangnya,dan anak itu terpelanting di tanah dan terguling-guling,sedang mulutnya berbusa.


Kemudian Yesus bertanya kepada ayah anak itu,”Sudah berapa lama ia mengalami ini?”Jawabnya, “Sejak masa kecilnya!Seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api atau ke dalam air untuk membinasakannya.Sebab itu, jika Engkau dapat berbuat sesuatu,tolonglah kami dan kasihanilah kami.”Jawab Yesus, “Katamu, ‘jika Engkau dapat?’Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”Segera ayah anak itu berteriak.”Aku percaya! Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”Ketika Yesus melihat makin banyak orang yang datang berkerumun,Yesus menegur roh jahat itu dengan keras, kata-Nya,”Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli,Aku memerintahkan engkau:Keluarlah dari anak ini, dan jangan memasukinya lagi!”Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncangkan anak itu dengan hebatnya.Anak itu kelihatannya seperti orang mati,sehingga banyak orang mengatakan, “Ia sudah mati.”Tetapi Yesus memegang tangannya dan membangunkannya,lalu ia bangkit sendiri.


Ketika Yesus sudah di rumah,dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia,bertanyalah mereka,”Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”Jawab Yesus,”Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”


Beberapa tahun yang lalu, terjadi peristiwa pertikaian antar etnis yang mencekam, menimbulkan ketakutan dan kecemasan pertama terjadi di Kalimantan Barat, kemudian peristiwa kembali terjadi di Kalimantan Tengah. Apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya pertikaian antaretnis tersebut? Semuanya berawal dari kesombongan, iri hati, dengki, mementingkan diri sendiri, masing-masing menganggap diri paling benar, dan paling berhak. Bila hal-hal ini telah bermuara dalam hati manusia maka dapat dipastikan bahwa di sana akan terjadi kekacauan dan segala macam perbuatan jahat! Ditambah lagi dengan campur tangan pihak luar yang bertopeng orang berhikmat, bukannya mendamaikan tetapi justru memperkeruh suasana. Kita dapat menilai, hikmat seperti apa yang berlaku di tengah-tengah kekacauan itu.


Dalam perikop ini Yakobus memaparkan tentang dua macam hikmat, (1) hikmat yang berasal dari dunia, dan (2) hikmat yang berasal dari Allah. Melalui pemaparan ini, Yakobus mengingatkan bahwa orang yang berhikmat tidak akan mendatangkan kekacauan apalagi menciptakan perselisihan dan pertikaan di tengah-tengah masyarakat. Mereka hidup dalam kedamaian, jauh dari perselisihan, karena masing-masing menjalankan kehidupan sehari- harinya dengan sikap lemah lembut. Sebaliknya, orang- orang yang menyepelekan hikmat Allah dan berpegang pada hikmat dunia adalah orang-orang yang jiwanya dipenuhi kesombongan, iri hati, dengki, bertindak seolah-olah membela kebenaran, tetapi sebenarnya memanipulasi kebenaran! Tidak hanya itu, mereka juga hidup dalam perselisihan, seluruh hidupnya dipenuhi oleh keinginan- keinginan untuk berbuat jahat. Hikmat Allah menuntun seseorang untuk memiliki kemurnian hati, menyadari akan kebaikan-kebaikan Allah dalam hidupnya, menjadi pelaku firman-Nya, dan menjaga hidupnya benar kehendak-Nya.


Renungkan: Mintalah dan milikilah hikmat yang berasal dari Allah. Hikmat-Nya bersifat murni, pendamai, peramah, penurut, dan penuh belaskasihan. Hikmat ini pula yang akan menuntun kita untuk memiliki cara hidup yang baik dan dapat menyatakan perbuatan hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Dengan demikian kita dimampukan menjadi seorang juru damai pembawa kebenaran di dalam lingkungan keluarga, kantor, kampus, dan dimana pun kita berada.


Allah telah menyatakan kemuliaan dan pekerjaan tangan- Nya melalui ciptaan-Nya (2-7). Melalui alam semesta ini manusia sebetulnya dapat mengenal hikmat, kekuatan, serta kebaikan Allah. Walaupun alam semesta tidak dikaruniai kemampuan untuk berbicara (4), kebisuan mereka mampu menceritakan kemuliaan Allah sehingga didengar oleh siapa pun, dimana pun, serta kapan pun.


Penyataan Allah tidak berhenti sampai di sini sebab penyataan umum melalui alam semesta tidak mungkin memampukan manusia bertahan dalam kehidupan ini dan memiliki hidup yang berkenan kepada-Nya (15). Karena itu penyataan umum ini diperkaya dengan penyataan khusus Allah yaitu firman-Nya (8-11). Melaluinya Allah menjalin hubungan dengan manusia secara langsung dan menyentuh keberadaan manusia hingga ke pusat kehendaknya yaitu mulai dari akal budi, hati, hingga jiwa. Sentuhan yang dilakukan oleh firman-Nya adalah sentuhan secara pribadi dan bekerja di dalam diri manusia. Manusia yang tersentuh oleh firman-Nya menjadi manusia yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi di sekitarnya. Apa pun yang terjadi jiwanya tetap segar dan hatinya tetap bersuka. Kesegaran dan kesukaan itu akan memancar keluar dari matanya sehingga orang lain dapat menyaksikannya (9). Ia akan menyadari dosa- dosanya, dan mengerti bagaimana seharusnya ia hidup (12), serta ketidakmampuannya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya (13). Daud menyadari semuanya ini dan dituntun untuk memohon kepada Allah agar dianugerahi kemampuan dan kesempatan untuk hidup berkenan kepada- Nya (14-15).


Jika alam semesta bekerja dalam kebisuannya, firman itu akan bekerja dalam intereaksinya dengan manusia. Karena itu manusia harus mempelajari dan memegang teguh firman-Nya seperti yang diteladankan oleh Daud (12-13).



Renungkan: Betapa indah, sempurna, teguh, tepat, murni, benar dan lebih bernilainya firman Allah dari segala kemuliaan harta dunia, (11). Karena itu jangan biarkan firman itu diam dalam kebisuan karena keengganan kita untuk berintereaksi dengannya. Keindahan dan kekuatannya akan bekerja dalam diri kita jika kita mau menyediakan waktu secara khusus untuk berintereaksi dengannya.


Pengalaman hidup kerohanian kita, doktrin yang kita miliki, prestasi yang telah kita capai kadang membuat kita tidak peka lagi terhadap kerohanian yang sesungguhnya. Kehidupan rutin keagamaan sering kali menumpulkan kita, dan kita terhanyut oleh rutinitas yang hampa, namun berjubah mengkilap.


Para murid mengalami keadaan seperti ini. Mereka bingung karena gagal mengusir setan dari seorang yang kelihatannya diserang ayan, tetapi akibat kerasukan. Mereka merasa bahwa otoritas dan kuasa ada dalam genggaman mereka, sama dengan sang pengutus, dalam hal ini Kristus. Tetapi, yang terjadi adalah mereka dipermalukan — mereka gagal, dan akibatnya otoritas dan kuasa Yesus pun dipertanyakan oleh banyak orang.


Apa yang keliru di sini? Yang keliru adalah bahwa para murid hanya bersandarkan kekuatan diri mereka sendiri. Mereka mengingat kejadian-kejadian lampau ketika mereka berhasil mengusir setan, dan merasa bahwa mereka bisa melakukannya lagi. Namun, tentu saja mereka tidak begitu pasti dengan apa yang mereka lakukan. Maka, di sana terdapat keraguan juga — dan para murid tidak berdoa kepada Allah untuk mendapatkan kekuatan. Mereka bergantung kepada diri mereka sendiri.


Reaksi para murid sangat kontras dengan apa yang dikatakan oleh ayah sang anak (ayat 24). Ia menyatakan dengan jujur bahwa ia ingin percaya kepada Yesus, dan ia menyerahkan ketidakpercayaannya kepada Yesus. Iman yang seperti ini merupakan iman yang hidup, iman yang peka, iman yang jujur kepada diri sendiri, kepada orang lain, dan kepada Tuhan. Inilah permulaan dari spiritualitas yang sejati: suatu pemilahan yang jelas akan kemurnian hubungan kita dengan Tuhan.



Renungkan: Periksalah hubungan Anda dengan Tuhan. Apakah suatu kebergantungan mutlak atau sekadar memori yang indah.


DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mencicipi kepenuhan kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat percaya kepada-Mu secara lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri di atas iman yang matang dan mampu untuk memberi kesaksian tentang kenyataan kehadiran-Mu di tengah-tengah kami. Amin. (Lucas Margono)


24 FEB 2020


View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.