Bacaan dan Renungan Senin 24 Agustus 2020, Pekan Biasa XXI

Aku, Yohanes, mendengar seorang malaikat berkata kepadaku, “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.” Lalu, di dalam roh aku dibawanya ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi, dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah. Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah, dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. Temboknya besar lagi tinggi, pintu gerbangnya dua belas buah. Di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat, dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang, di sebelah utara tiga pintu gerbang, di sebelah selatan tiga pintu gerbang, dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar, dan di atasnya tertulis nama kedua belas rasul Anak Domba.”


Ref:Para kudus-Mu, ya Tuhan,cmemaklumkan Kerajaan-Mu yang semarak mulia.

Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan,dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu,dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.Mereka memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia. Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan.Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya,pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Rabi, Engkau Anak Allah,Engkau Raja orang Israel!

Lihat, inilah seorang Israel sejati,tidak ada kepalsuan di dalamnya.

Sekali peristiwa,Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya,”Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”Melihat Natanael datang kepada-Nya, Yesus berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”Kata Natanael kepada Yesus,”Bagaimana Engkau mengenal aku?”Jawab Yesus kepadanya,”Sebelum Filipus memanggil engkau,Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”Kata Natanael kepada-Nya,”Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”Yesus menjawab, kata-Nya,”Karena Aku berkata kepadamu ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara’,maka engkau percaya? Hal-hal yang lebih besar daripada itu akan engkau lihat!”Lalu kata Yesus kepadanya, “Aku berkata kepadamu,sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka,dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Bila Babel melambangkan manusia-manusia yang terbelenggu dan dimurkai Allah, maka Yerusalem baru adalah manusia umat yang sudah ditebus Kristus, milik Allah sendiri. Perikop terdahulu (21:1-8) menggambarkan lingkungan baru yang menjadi tempat umat Tuhan menikmati kekekalan, maka perikop ini menguraikan seperti apakah kehidupan umat Tuhan dalam langit dan bumi baru kelak.

Pertama, umat Tuhan penuh kemuliaan Allah (21:11-14). “Yerusalem”, temboknya, pintu-pintu gerbangnya, bahkan batu-batu fondasinya memancarkan cahaya kemuliaan Allah yang tidak bisa dibandingkan dengan permata terindah sekalipun. Kedua, umat Tuhan penuh kekudusan Allah (15-21). Kota itu berbentuk kubus, sama seperti ruang maha kudus, tempat Allah bersemayam di bait Allah. Tempat yang dulu, hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar, kini menjadi tempat persekutuan Allah-umat. Ketiga, semua umat tebusan akan masuk dalam jaminan keamanan pemerintahan Allah seperti dilambangkan dengan pengukuran kota Allah (15).

Keempat, ada pada perikop bacaanselanjutnya yaitu, kehadiran Allah nyata pada umat-Nya seperti berhadapan muka dengan muka (22-27), melampaui kemegahan bait suci yang pernah didirikan oleh Salomo. Terang Allah sendiri menerangi dan menjamin penuh segenap milik-Nya (25; 22:5). Hanya mereka yang sudah disucikan Kristus yang bisa masuk di kota suci ini (21:27). Kelima, inilah kehidupan sejati dan kekal yang dilambangkan oleh sungai air kehidupan yang mengalir dalam kota suci ini sehingga menumbuhsuburkan pohon-pohon kehidupan dengan buah dan daun yang berkhasiat (22:1-2). Inilah Taman Eden yang baru (band. Kej. ps. 2). Semua ini bukan impian, namun telah dan boleh kita cicipi lewat berbagai kesempatan beribadah, bersaat teduh, serta melayani Tuhan dan sesama. Kesetiaan kita dalam iman membukakan nikmat surgawi yang mendorong kita semakin rindu berjumpa Tuhan dan mengalami saat Ia datang menjemput kita.

Unsur-unsur kepemimpinan dunia ini biasanya didominasi dengan kekuatan dan keperkasaan militer, kecerdikan dan kekuatan diplomasi, dan sering kali pemaksaan serta penggunaan kekerasan. Para pemimpin atau penguasa adalah sosok yang ditakuti dan dijauhi. Bahkan tidak jarang, diam-diam dimusuhi dan dikutuki oleh rakyatnya sendiri karena penyalahgunaan kuasa.
Namun ke-Raja-an Allah berbeda sama sekali dari cara pemimpin dan penguasa dunia ini memerintah. Ke-Raja-an Allah yang berdaulat sepanjang zaman dan tak lekang oleh waktu (11-13), justru ditopang bukan oleh kekuatan militer, atau kekuatan diplomasi politis. Kekuasaan dan pemerintahan Allah ditopang oleh karakter mulia Allah yang merupakan bentuk kasih dan kepedulian-Nya terhadap umat-Nya. Kasih dan setia, kebaikan dan rahmat (8-9) memancar dari takhta Allah yang mulia. Dari singgasana Sang Raja diraja, karakter mulia itu mewujud dalam bentuk pertolongan-Nya kepada semua orang yang membutuhkannya (14-16).

Di sisi lain, karakter keadilan dari Raja diraja memberi rasa aman dan pengharapan atas rakyat-Nya. Hal ini tentu membangkitkan sikap takut dan cinta umat kepada-Nya. Dalam keadilan-Nya, Raja diraja akan membela umat-Nya atas semua ancaman dari pihak musuh dengan cara membongkar muslihat dan memporak-porandakan segala rencana kejahatan musuh. Tidak ada yang dapat bertahan menghadapi kedaulatan dan kekuasaan Raja diraja yang adil.

Maka pujian yang keluar dari mulut pemazmur adalah pujian yang lahir dari rasa aman dan syukur karena pengalaman dikasihi, dipelihara, dan dilindungi oleh Rajanya. Betapa damai dan berpengharapannya hidup ini kalau kita menyadari Allah kita adalah Raja yang berdaulat, penuh kuasa, dan sangat peduli atas hidup kita.


Ingat dan hitunglah berbagai bentuk kebaikan dan rahmat Tuhan kepada Anda! Adakah melodi syukur mengumandang dalam hidup Anda sehari-hari?

Pertemuan Yesus dengan para murid-Nya terjadi dengan tak disangka-sangka. Andreas, hanya dengan mendengar ucapan: “Lihatlah Anak Domba Allah”. Simon Petrus, dihampiri-Nya; dan dinamakan “Kefas” (=batu karang). Filipus diajak-Nya: “Ikutlah Aku!” Natanael, hanya dengan dilihat oleh-Nya saat berdiri di bawah pohon ara mengakui-Nya sebagai Raja orang Israel. Tahap-tahap pemilihan para murid dalam bacaan ini membuktikan bahwa setiap orang yang datang kepada-Nya karena Allah telah terlebih dahulu berinisiatif memanggil, membuka jalan dan kesempatan.

Kesaksian sebagai alat Allah. Kesaksian kebenaran firman Tuhan merupakan cara Allah membawa orang mengenal Yesus Kristus. Mulai dari kesaksian hidup-Nya, karakter, sikap tindak-tanduk dan kepribadian-Nya yang istimewa sampai kepada pengajaran-pengajaran-Nya. Dari sinilah Allah berkenan memanggil manusia untuk menjadi murid-Nya melalui cara di luar mimbar formal, dan metode-metode tertentu. Pelajaran penting dari inisiatif Allah ini adalah bahwa pengenalan kita kepada Kristus akan mendorong kita untuk bersaksi tentang Dia dan karya-Nya.

Renungkan: Bukan manusia yang mulai mencari Allah, tetapi Allah yang menjumpai manusia dan membangkitkan kerinduan rohani untuk berjumpa dengan Dia.


DOA: Bapa surgawi, biarlah Roh-Mu membuka telingaku agar dapat mendengar sabda-Mu dan perkenankanlah Dia untuk membuka pikiranku agar dapat memahami jalan/cara-Mu. Amin.



Yoh 1:45-51
Lihat, inilah seorang Israel sejati,
tidak ada kepalsuan di dalamnya.


Baca artikel dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.