Bacaan dan Renungan Senin 18 Januari 2021

Yesus belajar menjadi taat, sekalipun Ia Anak Allah.

Saudara-saudara, Setiap imam Agung, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Seorang imam agung harus dapat memahami orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Karena itu ia harus mempersembahkan korban pelunas dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri! Sebab setiap imam agung dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. Demikian pula Kristus! Ia tidak mengangkat diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Agung, tetapi diangkat oleh Dia yang bersabda kepada-Nya, “Anak-Kulah Engkau. Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan.” atau di bagian lain dalam Kitab Suci Ia bersabda, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut tata imamat Melkisedek.” Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut; dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Akan tetapi sekalipun Anak, Kristus telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya! Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Agung oleh Allah,
menurut tata imamat Melkisedek.


Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1.2.3.4


Ref: Engkaulah imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek.

Beginilah firman Tuhan kepada tuanku, “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kubuat menjadi tumpuan kakimu!”Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!Engkau meraja di atas gunung yang suci sejak hari kelahiranmu, sejak fajar masa mudamu.Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: “Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.”Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji segala pikiran dan maksud hati.

Waktu itu murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, Pada suatu hari datanglah orang kepada Yesus dan berkata, “Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka “Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya. Demikian juga tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu, sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. Jadi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

Pernah suatu ketika, seorang pastor berceloteh begini: zaman now ini zaman pamer. Doa dipamerkan, marah divideokan lalu di-youtube-kan, amal diposting dan dipamerkan. Bahkan, pengalaman baru puasa pertama kali saja dipamerkan. Lalu, dimana letak sebuah kualitas rohani dan tradisi puasa itu? Hidup keagamaan kok hanya sebuah pertunjukan untuk mengundang decak kagum orang lain.

Yesus tidak mengajarkan tradisi puasa kepada para murid. Menurut Yesus, orang tidak berpuasa saat pesta kawin. Dialah mempelai pria dan umat Allah adalah mempelai wanita. Selama mempelai pria ada di dalam pesta maka yang ada hanya sukacita, bukan puasa. Bila mempelai pria pergi, barulah orang berpuasa. Yesus melengkapi penjelasan-Nya dengan dua perumpamaan, yaitu secarik kain baru dan baju tua serta tentang kantong kulit tua dan anggur baru. Kedua perumpamaan itu berbicara tentang orang Yahudi yang telah lama terjebak dalam ritual agama yang kosong. Mereka memang melakukan semua tuntutan agama, tetapi berdasarkan pemahaman yang keliru. Mereka melakukan itu bukan karena kebutuhan dari dalam diri untuk bertemu Tuhan secara intim. Bahkan, ada yang melakukan karena ingin pamer kesalehan. Parah bukan? Oleh sebab itu, Tuhan ingin menyatakan bahwa ritual agama yang membuat hubungan manusia dengan Tuhan jadi gersang seharusnya tidak digunakan.

Peringatan Yesus kiranya membuat kita bercermin. Adakah kebiasaan ke gereja pada hari Minggu dan doa-doa harian masih menyegarkan kerohanian kita? Atau kita melakukan semua itu karena sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan kita merasa tidak afdol bila tidak melakukannya? Mari kita memberikan kualitas pada doa-doa dan amal baik  kita: bukan karena terdorong untuk pamer, melainkan sungguh-sungguh merupakan kerinduan kita.

Allah yang Mahabenar, ajarlah kami menjadi kantong yang baru dengan Anggur Baru yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, yaitu Yesus Kristus Tuhan kami. Amin


Renungan diambil dari Ziarah Batin 2021



Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.