Bacaan dan Renungan Senin 17 Februari 2020, Pekan Biasa VI

Ujian terhadap imanmu menghasilkan ketekunan,agar kamu menjadi sempurna dan utuh.


Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus,kepada kedua belas suku di perantauan.Saudara-saudaraku,anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,sebab kamu tahu,bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat,hendaklah ia memintanya kepada Allah,yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit;maka hal itu akan diberikan kepadanya.Hendaklah ia memintanya dalam iman,dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut,yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.Orang yang demikian janganlah berharap,bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.


Bila seorang saudara berada dalam keadaan yang rendah baiklah ia bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah
sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput;Matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya:Di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.



Ref:Seomga rahmat-Mu sampai kepadaku, ya Tuhan,supaya aku hidup.

Sebelum aku tertindas, aku menyimpang,tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.Engkau baik dan murah hati,ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.Memang baik, bahwa aku tertindas,supaya aku belajar memahami ketetapan-ketetapan-Mu.Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku,lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak.Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil,dan memang tepat bahwa Engkau telah menyiksa aku.Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku,sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.

Aku ini jalan, kebenaran dan kehidupan. Sabda Tuhan.Tiada orang dapat sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku.



Mengapa angkatan ini meminta tanda?


Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus.Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari surga.Maka mengeluhlah Yesus dalam hati dan berkata,”Mengapa angkatan ini meminta tanda?Aku berkata kepadamu,Sungguh,kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”Lalu Yesus meninggalkan mereka.Ia naik ke perahu dan bertolak ke seberang.


Injil hari ini, Orang-orang Farisi muncul lagi sebagai kontras (ayat 11-13). Mereka ingin meminta tanda, baru mau percaya bahwa Yesus mempunyai otoritas kenabian. Sebaliknya, orang-orang percaya dulu, baru melihat mukjizat. Tanda yang diminta orang-orang Farisi kemungkinan bukan mukjizat, tetapi suatu nubuat yang perlu digenapi dalam waktu dekat.


Mengapa Yesus keberatan memberikan tanda yang diminta orang-orang Farisi, padahal Ia sering melakukan mukjizat? Orang-orang Farisi memang bukan meminta Yesus melakukan mukjizat, seperti yang pernah Dia lakukan sebelumnya. Mereka meminta Dia melakukan suatu tanda yang dramatis, sesuatu yang mungkin terlihat langsung turun dari langit. Meski demikian, permintaan ini tidak memperlihatkan keinginan mereka untuk beriman pada Yesus. Apalagi sebelumnya mereka pernah menyatakan bahwa kuasa Yesus datang dari setan (Mrk. 3:22). Ini merupakan penolakan terhadap kemesiasan Yesus. Jadi apapun yang Yesus lakukan tidak akan membuat mereka mau percaya.


Yesus menolak melakukan tanda yang diminta orang Farisi karena tujuan-Nya melakukan mukjizat bukan untuk meyakinkan orang yang memang keras hati dan menolak percaya. Yesus melakukan mukjizat untuk menyatakan kuasa dan kasih karunia Allah. Itulah sebabnya Yesus kemudian memperingatkan para murid untuk tidak bersikap seperti orang Farisi. Dalam peringatan itu, Yesus menggunakan kata ragi. Terkadang orang Yahudi memakai kata ragi untuk menggambarkan dosa atau kecenderungan hati yang jahat. Kecenderungan hati yang jahat sinonim dengan kedegilan hati (ayat 17). Hati yang degil adalah penyakit orang-orang yang merasa diri religius atau saleh. Namun para murid salah mengerti. Mereka mengira bahwa Yesus berbicara tentang makanan. Ternyata para murid pun mirip orang yang belum kenal Tuhan, meski mereka telah belajar banyak hal dari Yesus.


Memang tidak mudah memahami pelajaran-pelajaran mengenai Kerajaan Sorga. Kita masih memiliki keterbatasan dalam banyak hal, keterbatasan dalam mengimani dan menghendaki Yesus. Di sisi lain, ini menolong kita untuk memahami dan bersikap sabar terhadap orang-orang yang baru mau belajar menjadi Kristen sejati. Kita harus bisa menerima saat mereka lemah iman atau lambat mengerti. Ingatlah bahwa Tuhan sendiri telah sabar terhadap kita.


Ini bisa kita simpulkan karena mereka tetap meminta tanda setelah melihat Yesus melakukan mukjizat pengusiran setan. Sayang, bagi mereka, tidak ada tanda!



Renungkan: Keingintahuan adalah sesuatu yang baik. Namun, hidup ini memiliki sisi misteri. Di sanalah iman kita melompat ke dalam terang-Nya yang mahabaik (Ibr. 11:1).


DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata kami agar dapat melihat Gereja-Mu seperti Engkau melihatnya. Kumpulkan semua pengikut-Mu dari mana-mana di bawah bendera Kasih Ilahi. Anugerahilah kami dengan kemauan kuat untuk menyebar-luaskan kasih-Mu kepada setiap orang yang kami temui. Amin. (Lucas Margono)


17 FEB 2020


View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.