Bacaan dan Renungan Senin 10 Agustus 2020, Pekan Biasa XIX

Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.


Saudara-saudara, orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit pula. Sebaliknya orang yang menabur banyak akan menuai banyak pula. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau terpaksa. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis, “Ia murah hati, orang miskin diberi-Nya derma, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”


Dia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan,Dia jugalah yang akan menyediakan benih bagi kamu; Dialah yang akan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.



Ref:Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman.

Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan,yang sangat suka akan segala perintah-Nya.Anak cucunya akan perkasa di bumi;keturunan orang benar akan diberkati.Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman,ia melakukan segala urusan dengan semestinya.Orang jujur tidak pernah goyah;ia akan dikenang selama-lamanya.Ia tidak takut pada kabar buruk,hatinya tabah, penuh kepercayaan kepada Tuhan.Hatinya teguh, ia tidak takut,sehingga ia mengalahkan para lawannya.Ia murah hati, orang miskin diberi-Nya derma;kebajikan-Nya tetap untuk selama-lamanya,tanduk-Nya meninggi dalam kemuliaan.

Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan,tetapi mempunyai terang hidup.



Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.


Menjelang akhir hidup-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikuti Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”


Jemaat Korintus pernah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem (2b). Kesiapan mereka malah merangsang orang lain untuk melakukan hal yang sama (2c). Sikap jemaat Korintus membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Namun seiring perjalanan waktu, mereka tidak melaksanakan janji tersebut. Berarti, mereka tidak sepenuh hati ingin membantu jemaat miskin itu. Itu sebabnya Paulus mendesak agar mereka mewujudkan komitmen mereka. Kini Paulus membalik posisi jemaat Korintus, dengan menyebut-nyebut jemaat Makedonia untuk membangkitkan rasa malu mereka (4). Karena itu Paulus meminta Titus dan saudara-saudara yang lain untuk pergi mendahuluinya ke Korintus, dengan harapan agar jemaat Korintus memenuhi janji mereka untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat Yerusalem (5).


Dengan memberikan persembahan secara benar, umat Tuhan belajar prinsip anugerah dan keajaiban pemeliharaan Allah. Pertama, dengan bersikap murah hati dalam memberi, jemaat akan beroleh kemurahan hati Allah (6). Kedua, orang Kristen harus memberi dengan sukarela bukan terpaksa (7). Ketiga, Allah tahu pengorbanan orang yang memberikan persembahan. Ia memelihara mereka (8-11). Keempat, memberi sebagai wujud perhatian dan kasih kepada jemaat yang perlu, dan sebagai ungkapan syukur kepada Allah (12-14).


Di Indonesia kini ada cukup banyak gereja yang mengalami kemiskinan rohani karena kesulitan finansial. Kita perlu peduli terhadap kesulitan mereka. Sebagai tubuh Kristus, satu menderita semua turut menderita. Kita perlu memikirkan dan mengusahakan agar sesama saudara seiman kita juga boleh mendapatkan berbagai sarana yang dapat membantu mereka bertumbuh dalam firman dan berkembang dalam aspek-aspek kehidupan lainnya.


Jika Anda pernah berjanji dan menyatakan kesiapan untuk membantu pendanaan, lakukanlah dengan sepenuh hati.


Mazmur 112 melanjutkan mazmur 111 dengan menyatakan manfaat dan konsekuensi etis bagi mereka yang menjalani hidup takut akan Tuhan (Mzm. 111:10). Takut akan Tuhan akan membuahkan hidup yang benar dan berkenan kepada-Nya.


Inilah berkat yang dialami semua orang yang takut kepada Tuhan dan hidup benar di hadapan-Nya. Hidupnya akan penuh dengan kesukaan menaati firman Tuhan (Mzm. 112:1). Inilah paradoks yang indah: takut yang benar akan Tuhan mendatangkan kesukaan hidup. Bagi sebagian orang menaati peraturan adalah semata-mata kewajiban legalistic sehingga hal itu merupakan suatu keterpaksaan. Namun bagi anak Tuhan, peraturan Tuhan justru menyukakan hati karena itu adalah jati dirinya. Anak Tuhan menyadari bahwa hidup yang ia jalani adalah anugerah Tuhan sehingga setiap peraturan Tuhan ia yakini sebagai hal yang mendatangkan kebaikan semata-mata. Ia tahu bahwa dengan menerapkan firman Tuhan sepenuhnya dalam hidupnya, ia tinggal dalam ruang anugerah Tuhan. Dengan pemahaman seperti itu, hidup seorang anak Tuhan tidak akan pernah goyah apalagi sampai meragukan Tuhan (ayat 6-7) bahkan ketika ia berhadapan dengan para musuhnya (ayat 8). Lebih daripada itu, anak Tuhan dimampukan bukan hanya menerima berkat (ayat 2-3) untuk dinikmati sendiri melainkan juga memberikan berkat untuk memberkati orang lain (ayat 4-5, 9). Salah satu bentuk berkat yang dialami anak Tuhan adalah pelipatgandaan, yaitu berkat keturunan (ayat 2).


Kebahagiaan anak Tuhan bukan ditentukan dari dan oleh ukuran dunia ini yang serba permisif dan melawan Allah karena dunia ini ada di bawah penghukuman Allah. Hanya saat anak Tuhan hidup seturut firman-Nya, ia mengalami pemeliharaan Allah dan sukacita yang tidak dapat dipadamkan oleh tentangan dan hujatan dunia ini.


Injil hari ini, “Aku berkata kepadamu, kalian yang telah aku beritahukan tentang kematian dan penderitaan-Ku: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh, bukan hanya di atas, melainkan sampai masuk ke dalam tanah dan mati, lalu terkubur dan lenyap, ia tetap satu biji saja, dan kamu tidak akan melihatnya lagi. Tetapi jika ia mati sesuai dengan hukum alam (jika tidak demikian, maka hal itu merupakan suatu mujizat), ia akan menghasilkan banyak buah, sebab Allah mengaruniakan sebuah tubuh bagi masing-masing benih.” Kristus adalah Biji Gandum itu, benih yang paling berharga dan bermanfaat. Nah, di sini terdapat,


1. Penegasan tentang keharusan Kristus untuk menanggung banyak penghinaan. Dia tidak akan menjadi akar dan kepala yang menghidupkan dan menggerakkankan gereja-Nya jika Dia tidak menunaikan penebusan kita dengan cara turun dari sorga ke atas bumi yang terkutuk ini, lalu naik dari bumi ini ke atas kayu salib yang terkutuk itu. Dia harus menyerahkan nyawa-Nya kepada maut, sebab kalau tidak begitu, kepada-Nya tidak akan dibagikan orang-orang besar sebagai rampasan (Yes. 53:12). Kepada-Nya akan diberikan sebuah benih, tetapi Ia harus terlebih dahulu mencurahkan darah-Nya untuk membeli dan menyucikan mereka, harus memenangkan mereka dan kemudian membawa mereka. Demikian pula, sebagai prasyarat untuk memperoleh kemuliaan yang akan didapat-Nya, harus ada pertambahan jumlah orang yang bergabung dalam Gereja-Nya. Jika Dia tidak dijadikan penebus dosa melalui penderitaan-Nya, dan dengan demikian membawa serta kebenaran yang kekal, Dia tidak akan layak menjadi penghiburan bagi orang-orang yang akan datang kepada-Nya, dan akan tetap seorang diri saja


2. Kebaikan yang diperoleh melalui penghinaan yang diterima oleh Kristus digambarkan di sini. Melalui penjelmaan-Nya menjadi seorang manusia, Ia jatuh ke tanah, kemudian tampak terkubur hidup-hidup di dalam bumi ini sehingga kemuliaan-Nya menjadi begitu terhalang. Bukan hanya itu, Dia juga mati. Benih yang kekal ini harus tunduk terhadap hukum kematian. Dia terbaring dalam kubur seperti sebuah benih yang terkubur di dalam tanah. Namun, sebagaimana benih itu kemudian muncul lagi dalam keadaan hijau, segar, berkembang dan tumbuh pesat, begitu pula seorang Kristus yang mati mengumpulkan kepada-Nya ribuan orang-orang Kristen yang hidup, dan Ia pun menjadi akar mereka. Dengan demikian, keselamatan jiwa-jiwa dari mulai saat itu sampai akhir zaman nanti berutang pada kematian Benih Gandum ini. Dengan demikian, Bapa dan Anak dipermuliakan, gereja bertumbuh, dan kesatuan tubuh rohani terpelihara, dan pada akhirnya nanti akan disempurnakan. Lalu, saat waktu sudah berhenti, setelah berhasil membawa banyak putra ke dalam kemuliaan melalui kematian-Nya dan disempurnakan melalui penderitaan-Nya, Sang Pemimpin keselamatan kita itu pun akan diagung-agungkan untuk selamanya melalui puji-pujian dari para orang kudus dan malaikat yang memuja-Nya (Ibr. 2:10, 13).


10 Agustus 2020

Yoh 12:24-26
Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa

Baca artikel dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.