Bacaan dan Renungan Senin 08 April 2019 – Pekan Prapaskah V

“Sungguh, aku mati, meskipun aku tidak melakukan sesuatu pun dari yang mereka tuduhkan”


13:1 Adalah seorang orang diam di Babel, Yoyakim namanya. 13:2 Ia mengambil seorang isteri yang bernama Susana anak Hilkia. Isterinya itu amat sangat cantik dan takut akan Tuhan. 13:3 Karena orang tuanya benar maka anak mereka dididik menurut Taurat Musa. 13:4 Adapun Yoyakim adalah amat kaya dan dimilikinya sebuah taman yang berdekatan dengan rumahnya. Oleh karena ia paling terhormat di antara sekalian orang maka orang-orang Yahudi biasa berkumpul padanya. 13:5 Nah, dalam tahun itu ada dua orang tua-tua dari antara rakyat ditunjuk menjadi hakim. Tentang mereka itulah Tuhan telah berfirman: “Kefasikan telah datang dari Babel, dari kaum tua-tua, dari para hakim yang berlagak pengemudi rakyat.” 13:6 Orang-orang tua-tua itu sering mengunjungi rumah Yoyakim, tempat setiap orang yang mempunyai suatu perkara datang kepada mereka. 13:7 Apabila menjelang tengah hari rakyat sudah pergi masuklah Susana untuk berjalan-jalan di taman suaminya. 13:8 Kedua orang tua-tua itu setiap hari mengintip Susana, apabila ia masuk dan berjalan-jalan di situ. Maka timbullah nafsu berahi kepada Susana dalam hati kedua orang tua-tua itu. 13:9 Mereka lupa daratan dan membuang muka, sehingga tidak memandang Sorga dan tidak ingat kepada keputusan yang adil. 13:15 Sedang mereka menunggu saat yang baik maka pergilah Susana ke taman itu seperti yang sudah-sudah. Ia hanya disertai dua orang dayang, karena cuaca panas maka ia mau mandi di taman itu. 13:16 Tiada seorangpun ada di sana kecuali kedua orang tua-tua itu yang bersembunyi sambil mengintip Susana. 13:17 Kata Susana kepada dayang-dayangnya: “Ambilkanlah aku minyak dan urap dan tutuplah pintu-pintu taman, maka aku dapat mandi.” 13:19 Segera setelah dayang-dayang itu keluar bangunlah kedua orang tua-tua itu dan bergegas-gegas menuju Susana. 13:20 Berkatalah mereka: “Pintu-pintu taman sudah tertutup dan tidak ada seorangpun melihat kita. Kami sangat cinta berahi kepadamu. Berikanlah hati saja dan tidurlah bersama-sama dengan kami. 13:21 Tetapi kalau engkau tidak mau, pasti kami naik saksi terhadapmu, bahwa seorang pemuda kedapatan padamu dan bahwa oleh karena itulah maka dayang-dayang itu kausuruh pergi.” 13:22 Bernafaslah Susana lalu berkata: “Aku terdesak sekeliling. Sebab jika hal itu kulakukan, niscaya mati menanti aku. Jika tidak kulakukan, maka aku tidak lolos dari tangan kamu. 13:23 Namun demikian lebih baiklah aku jatuh ke dalam tangan kamu dengan tidak berbuat demikian, dari pada berbuat dosa di hadapan Tuhan.” 13:24 Lalu Susana berteriak-teriak dengan suara nyaring. Tetapi kedua orang tua-tua itupun berteriak-teriak pula melawan Susana. 13:25 Yang satu lari membuka pintu taman. 13:26 Demi teriak di taman itu didengar oleh orang-orang yang ada di dalam rumah, bergegas-gegas masuklah mereka lewat pintu samping untuk melihat apa yang terjadi dengan Susana. 13:27 Setelah kedua orang tua-tua itu memberikan keterangan-keterangan maka amat malulah para pelayan, sebab belum pernah hal semacam itu dikatakan tentang Susana. 13:28 Ketika keesokan harinya rakyat berkumpul lagi pada Yoyakim, suami Susana, datang pula kedua orang tua-tua itu penuh dengan angan-angan fasik terhadap Susana untuk membunuh dia. 13:29 Di depan rakyat mereka berkata: “Suruhlah ambil Susana anak Hilkia, isteri Yoyakim!” Maka diambillah ia. 13:30 Datanglah Susana dengan disertai orang tuanya. Anak-anaknya dan kaum kerabatnya. 13:33 Sanak saudara dan semua yang melihat Susana menangis. 13:34 Sementara kedua orang tua-tua itu berdiri di tengah-tengah rakyat dan meletakkan tangan mereka di atas kepala Susana, 13:35 maka Susana sendiri menengadah ke Sorga sambil menangis, sebab hatinya tetap percaya pada Tuhan. 13:36 Kemudian kata kedua orang tua-tua itu: “Sedang kami berdua saja berjalan-jalan di taman, masuklah ia bersama dengan dua sahaya, lalu pintu-pintu taman itu ditutup dan disuruhnya sahaya-sahaya itu pergi. 13:37 Lalu datanglah seorang pemuda yang bersembunyi di situ kepadanya dan berbaring sertanya. 13:38 Ketika kami yang ada di sudut taman melihat kefasikan itu maka berlari-larilah kami kepada mereka. 13:39 Walaupun kami melihat mereka tidur bersama-sama di sana, namun kami tidak dapat menangkap pemuda itu karena ia lebih kuat dari kami. Ia membuka pintu lalu melarikan diri. 13:40 Tetapi dia ini kami pegang dan kami menanyakan siapa pemuda itu. 13:41 Ia tidak mau memberitahu kami. Inilah kesaksian kami.” Himpunan rakyat percaya akan mereka, oleh karena mereka adalah orang tua-tua di antara rakyat dan hakim. Lalu hukuman mati dijatuhkannya kepada Susana. 13:42 Maka berserulah Susana dengan suara nyaring: “Allah yang kekal yang mengetahui apa yang tersembunyi dan yang mengenal sesuatu sebelum terjadi, 13:43 Engkaupun tahu pula bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku. Sungguh, aku mati meskipun tidak kulakukan sesuatupun dari apa yang mereka bohongi aku.” 13:44 Maka Tuhan mendengarkan suaranya. 13:45 Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya, maka Allah membangkitkan roh suci dari seorang anak muda, Daniel namanya. 13:46 Berserulah ia dengan suara nyaring: “Aku ini tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!” 13:47 Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya: “Apakah maksudnya yang kaukatakan itu?” 13:48 Danielpun lalu berdiri di tengah-tengah mereka, katanya: “Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel? Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti? 13:49 Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini!” 13:50 Bergegas-gegas kembalilah rakyat lalu orang-orang tua itu berkata kepada Daniel: “Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami. Sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua.” 13:51 Lalu kata Daniel kepada orang-orang yang ada di situ: “Pisahkanlah mereka berdua itu jauh-jauh, maka mereka akan kuperiksa.” 13:52 Setelah mereka dipisahkan satu sama lain maka Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya: “Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kauperbuat 13:53 dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum orang yang tidak bersalah dan melepaskan orang yang bersalah, meskipun Tuhan telah berfirman: Orang yang tak bersalah dan orang benar janganlah kaubunuh. 13:54 Oleh sebab itu, jika engkau sungguh-sungguh melihat dia, katakanlah: Di bawah pohon apakah telah kaulihat mereka bercampur?” Sahut orang tua-tua itu: “Di bawah pohon mesui.” 13:55 Kembali Daniel berkata: “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri! Sebab malaikat Allah sudah menerima firman dari Allah untuk membelah engkau!” 13:56 Setelah orang itu disuruh pergi Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya. Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu: “Hai keturunan Kanaan dan bukan keturunan Yehuda, kecantikan telah menyesatkan engkau dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu. 13:57 Kamu sudah biasa berbuat begitu dengan puteri-puteri Israel dan merekapun terpaksa menuruti kehendakmu karena takut. Tetapi puteri Yehuda ini tidak mau mendukung kefasikanmu! 13:58 Oleh sebab itu, katakanlah kepadaku: Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?” Sahut orang tua-tua itu: “Di bawah pohon berangan.” 13:59 Kembali Daniel berkata: “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya membinasakan kamu!” 13:60 Maka berseru-serulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring. Mereka memuji Allah yang menyelamatkan siapa saja yang berharap kepada-Nya. 13:61 Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu, sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu. Lalu mereka diperlakukan sebagaimana mereka sendiri mau mencelakakan sesamanya. 13:62 Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah.



Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: ‘ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. ‘Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.Sekalipun aku harus berjalan berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.Kau siapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku, Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi, mengiringi langkahku selalu, sepanjang umur hidupku, aku akan diam di rumah Tuhan, sekarang dan senantiasa.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.



Ayat. Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannyalah Aku berkenan, supaya ia hidup.



“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”


8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. 8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” 8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”


Orang-orang Yahudi tentunya sudah membaca Kitab Daniel dan sudah mengetahui faktanya. Mereka tahu bahwa raja Antiokhus telah membuat kegemparan yang sangat dibenci rakyat Yahudi, yaitu mendirikan sebuah altar untuk memuja dewa Zeus di Bait Allah. Orang-orang Yahudi juga mengetahui bahwa raja Antiokhus ini telah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang wakil Allah di atas muka bumi, dan ia pun menganiaya dan membunuh banyak orang Yahudi.


Orang-orang Yahudi juga mengetahui bahwa mereka membutuhkan contoh-contoh yang memberi inspirasi, cerita-cerita yang dapat menolong mereka mempertahankan iman-kepercayaan mereka dalam masa penuh pencobaan. Melalui inspirasi Roh Kudus, cerita tentang Susana – sejalan dengan cerita-cerita lain dalam Kitab Daniel – memenuhi kebutuhan tersebut dengan menampilkan “tokoh-tokoh” atau “pribadi-pribadi” yang menolak untuk menyangkal Allah yang mereka sembah, walaupun dalam situasi yang penuh bahaya dan terancam kematian. Cerita-cerita itu juga menunjukkan kuat-kuasa Allah yang sungguh luarbiasa untuk membebaskan orang-orang yang setia kepada-Nya. Cerita-cerita ini mengingatkan orang-orang Yahudi akan sesuatu yang tidak diungkapkan oleh situasi-kondisi yang mereka hadapi dan alami: bahwa mereka masih dapat bergantung pada Allah, apa pun yang terjadi.


Cerita diatas juga dialami oleh para martir Kristus. Mungkin anda berpikiran bahwa seandainya menjadi pengikut Yesus pada waktu itu, gampang disaat Yesus menjadi manusia, akan diberi mukjizat dan berkat langsung dari Yesus seperti yang tertulis dalam Injil. Namun ternyata menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah. Para martir pada zaman dahulu tidak bisa terang-terangan seperti kita sekarang yang menyembah Kristus dan bahkan membuat tanda salib sebelum berdoa ditempat umum yang menandakan bahwa kita adalah seorang pengikut Kristus, kita seorang Katolik. Namun para martir zaman dahulu tidak bisa terang-terangan seperti kita sekarang. Jika mereka diketahui adalah pengikut Kristus, mereka akan dihadapkan oleh kedua pilihan: 1) mereka memilih menyangkal Yesus dan menyembah dewa-dewa kafir atau 2) mereka tetap menyembah Kristus dan dijatuhi hukuman mati.


Banyak para martir Kristus dijatuhi hukuman mati dengan disalib, dibakar, dilempari ketengah-tengah binatang buas yang lapar, dan dengan cara yang keji lainnya. Namun cobaan itu tidak mengingkari iman dan cinta mereka kepada Kristus Yesus, bagi mereka mati dibunuh sebagai pengikut Kristus adalah jalan terbaik agar mereka cepat sampai kepada harta abadi menunggu di sorga yang disediakan Allah Bapa melalui Putera-Nya Tuhan kita Yesus Kristus.


Marilah kita juga menjadi Susana, atau para martir Kristus lainnya. Bukan berarti kita akan mati dengan disalib, dibakar, dan dibunuh secara keji. Namun menjadi pengikut Kristus berarti kita menyangkal diri dan memanggul salib setiap hari agar dengan menyalibkan dosa-dosa kita, kita mati bersama-sama dengan Dia, dan memperoleh hidup baru bersama-sama dengan Dia. Apakah kita (anda dan saya) sudah menjadi surat-surat Kristus yang terbuka ditengah-tengah sesama kita?


Kisah Susana ini disusun dari berbagai unsur karakter dan pelaku yang terlibat, dengan alur ceritera penuh ketegangan, sehingga menghasilkan bacaan yang menarik. Dalam ceritera ini ditampilkan tokoh-tokoh yang menjadi  “model” bagi umat Allah. Kisah ini disusun dalam periode Makabe (pada masa orang-orang Yahudi menderita di bawah penganiayaan dibawa penguasa Yunani, Anthiokus Epifanes IV), Kisah ini mengajarkan dua pelajaran: Iman akan berkemenangan atas kemalangan, dan bahkan orang yang tidak percaya pun dapat belajar tentang kuat-kuasa Allah dan otoritas-Nya.


Menurut cerita ini, Susana – anak Hilkia dan istri Yoyakim – adalah seorang perempuan muda yang takwa kepada Allah, hidup di Babel pada masa pembuangan. Orang tuanya mengajarnya untuk takut akan Allah dan mentaati Hukum Musa (Dan 13:2-3). Di lain pihak para antagonis dalam cerita ini adalah dua orang tua-tua yang memiliki pikiran bengkok (Dan 13:9) dan dipenuhi dengan “hasrat penuh nafsu” (Dan 13:11). Kedua orang tua-tua itu lupa daratan dan tidak memandang surga (Dan 13:9) sedangkan Susana sendiri menengadah ke surga sambil menangis (Dan 13:35). Akibatnya: Susana yang percaya pada Allah, dibebaskan; sedangkan kedua orang tua-tua yang memalingkan pandangan mereka dari Allah kemudian dihukum.


Pentinglah bagi kita untuk mengingat bahwa Susana tidak mengetahui apakah dirinya akan dihukum atas tuduhan perzinahan. Keprihatinan Susana hanyalah bahwa kebenaran Allah tidak akan ternoda. Inilah sebagian dari doa Susana: “Namun demikian lebih baiklah aku jatuh ke dalam tangan kamu dengan tidak berbuat demikian, dari pada berbuat dosa di hadapan Tuhan” (Dan 13:23). Ancaman kematian tidak berhasil menggoyang imannya. Oleh karena itu Tuhan menghargai kesetiaannya dan membangkitkan Daniel untuk membantu dirinya.


Bacaan ini menjadi salah satu bacaan masa Prapaskah karena bacaan ini tidak hanya merupakan sebuah “model” bagi kita, tetapi juga menunjuk kepada Yesus yang tidak pernah menyangkal Bapa-Nya atau berupaya untuk melindungi diri-Nya sendiri dengan menghindarkan diri dari rasa sakit dan penderitaan. Yesus mengasihi bahkan mereka yang memusuhi dan melawan diri-Nya (Ibr 12:3). Cinta kasih Yesus tak dapat kita lukiskan dengan kata-kata – cintakasih setia dan penuh ketaatan, sampai mati di kayu salib (Flp 2:5-8). Semoga hal yang sama juga benar bagi diri kita masing-masing!


Menggunakan gambaran domba yang dipelihara oleh gembala (1-4) dan tamu di hadapan tuan rumah yang sangat baik hati (5-6), Daud menggambarkan betapa indahnya hidup dalam pemeliharaan Allah. Mengapa?


Domba adalah binatang yang tidak dapat hidup lepas dari sang gembala sebab ia tidak dapat mencari makan dan minum sendiri atau pun melindungi dirinya sendiri dari serangan binatang buas. Demikian pula Daud sebagai domba dalam menjalani hidup di dunia, ia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Ia bukan hanya tidak akan kekurangan namun materi yang ia dapatkan akan menyehatkan dan menyegarkan dirinya, bukannya membuatnya sakit (2), sebab gembalanya akan membimbingnya untuk mendapatkan materi secara benar dan sehat (3). Gambaran ini mengandung kebenaran yang dalam yaitu materi untuk memenuhi kebutuhan fisik yang kita dapatkan tanpa bimbingan Tuhan justru akan menghancurkan kita sebab materi itu mungkin rumput yang beracun atau air yang di dasarnya terdapat pusaran arus yang deras sehingga akan menenggelamkan kita. Daud juga menyadari bahwa ia bukan hidup di surga namun di dunia yang telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Karena itu ia tidak heran jika suatu saat harus mengalami penindasan dan ketidakadilan yang akan membawanya kepada kematian. Ia tidak takut sebab ia tahu bahwa Allah yang menyertai adalah Allah yang berkuasa menjaga dan melindunginya (4).


Mampukah Anda menikmati makanan lezat di sebuah perjamuan jika Anda tahu musuh-musuh sedang menanti untuk menghancurkan Anda? Daud mampu. Ia yakin bahwa dirinya adalah tamu Allah. Di zaman Timur Tengah purba, tamu adalah raja dan kebutuhannya harus dipenuhi sang tuan rumah. Selain itu seorang tuan rumah bertanggungjawab atas keselamatan tamunya. Ini membuat dirinya tetap tenang dalam segala situasi dan tetap dapat menikmati setiap berkat yang disediakan Allah walaupun sedang menembus badai krisis (5-6).


Pemimpin-pemimpin agama tetap menolak untuk percaya kepada Yesus. Tetapi, mereka tidak punya alasan yang kuat untuk menyingkirkan Yesus. Ketika mereka menangkap basah pasangan yang berzinah, mereka segera membawa perempuannya. Tidak dapat dipastikan apakah perempuan ini sudah bersuami atau belum. Kita juga tidak diberi tahu mengapa mereka tidak membawa laki-lakinya. Tetapi, dari ayat 6, jelas sekali bahwa tujuan pemimpin-pemimpin agama bukanlah untuk menghukum pasangan yang berzinah ini, melainkan untuk menjebak Tuhan Yesus.


Mengapa? Jika Yesus menolak untuk melempari perempuan ini dengan batu, maka pemimpin agama dapat menuduh Yesus menentang hukum Musa. Dengan demikian, mereka dapat membawa Yesus ke pengadilan agama Yahudi. Sebaliknya jika Yesus setuju agar perempuan ini dilempari dengan batu hingga mati, maka mereka akan membawanya ke hadapan pemerintah Romawi. Bangsa Yahudi sebagai jajahan Romawi tidak berhak menghukum mati manusia. Hak ini hanya ada pada pemerintah Romawi. Jebakan seperti ini mirip dengan yang dicatat dalam Markus 12:13-17. Bagaimana Tuhan Yesus harus menjawab mereka? Ia mengatakan perempuan ini boleh dilempari batu oleh orang-orang yang tidak berdosa (ayat 7). Tuhan Yesus tidak bermaksud bahwa hakim-hakim yang mengadili di pengadilan harus tanpa dosa. Bila prinsip ini diterapkan maka tidak ada yang dapat menjadi hakim. Tuhan Yesus mengatakan pernyataan yang keras ini karena Ia menuntut agar mereka yang hendak melempari perempuan ini dengan batu jangan pernah terlibat dalam dosa seksual. Mendengar tuntutan ini, mereka yang menuduh perempuan itu pulang meninggalkan perempuan tersebut sebagai tertuduh.


Dalam narasi ini kita mendapatkan dua pelajaran penting. Pertama, semua manusia berdosa, tidak terkecuali bangsa Yahudi yang menganggap diri sebagai umat pilihan Allah. Kedua, Yesus sama sekali tidak berdosa. Ia tidak meremehkan dosa perempuan itu, melainkan Ia memberikan kesempatan kedua kepada perempuan itu. Yesus yang tanpa dosa menampakkan diri sebagai orang yang penuh rahmat dan anugerah.


Renungkan: Jangan sia-siakan jika Tuhan Yesus memberikan kesempatan kedua bagi kita. Segeralah bertobat.


DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memanggil kami untuk mengenal dan menerima kasih-Mu. Bukalah hati kami bagi hal itu, dengan demikian – seperti Yesus – kita tidak akan pernah menjadi lelah atau putus-asa. Melalui kuata kuasa Roh Kudus-Mu, semoga kami tetap teguh dalam beriman dan memiliki keyakinan akan kemenangan-Mu. Amin. (Lucas Margono)


Yohanes 8:1-11 “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”

Yohanes 8:1-11 “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”

Tuhan Yesus, bantulah aku menjadi nabi kecil seperti Engkau sendiri dan Daniel untuk berani menegakkan kebenaran dan keadilan,terutama yang menindas kaum lemah. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Cerita seks di dapur
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: