Bacaan dan Renungan Senin 05 April 2021

Pada hari Pentakosta, bangkitlah Petrus berdiri bersama kesebelas rasul. Dengan suara nyaring ia berkata kepada orang banyak, ” Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini:

Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan, mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu,
seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh dengan tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan-Nya dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.

Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan. Karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram. Sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburnya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi, dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu Daud telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.


Ref: Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, “Engkaulah Tuhanku, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.”Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, dan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.Pada waktu itu perempuan-perempuan pergi dari kubur, diliputi rasa takut dan sukacita yang besar. Mereka berlari cepat-cepat untuk memberitahukan kepada para murid bahwa Yesus telah bangkit.

Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya, memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Ketika mereka masih di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga makam Yesus ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan, lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata, “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid Yesus datang malam-malam dan mencuri jenazah-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”

Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Cerita mengenai penerbangan pertama manusia ke bulan yang diajarkan di sekolah-sekolah yang dijadikan sebagai simbol kedigdayaan teknologi, perlahan-lahan digugat kebenarannya. Dengan banyak pembuktian dan ivestigasi, peristiwa itu dinyatakan sebagai hoaks/bohong. Namun, orang sudah terlanjur percaya bahwa pendaratan manusia di bulan adalah benar. Dalam beragama pun ternyata kita tidak lolos dari hoaks. Seorang sejarawan mengatakan, sebuah kebohongan yang diceritakan terus menerus bisa menjadi sebuah kebenaran. Tapi pertanyaannya, sampai kapan kebenaran palsu tersebut akan bertahan?

Dalam Injil pada hari ini, kita mendengar sebuah kisah yang tidak elok dari para pemimpin agama Yahudi pada masa Yesus. Mereka bermufakat untuk  menyuap para serdadu agar tutup mulut terhadap kebenaran kebangkitan Yesus, dan menyuruh mereka untuk menyampaikan kebohongan. Hal ini terlihat dari bagaimana para murid merelakan hidu p mereka demi peristiwa itu. “Tak ada upah, tak ada imbalan berupa uang emas atau harta materi serupa yang dijanjikan untuk mewartakan peristiwa kebangkitan. Alih-alih mereka mendapatkan begitu banyak pengalaman menyakitkan. Ada yang dianiaya dengan begitu sadis, mengalami kesulitan dalam perjalanan, dan dibunuh. Peristiwa kebangkitan Yesus adalah peristiwa yang tidak hanya mereka dengar dari satu dua orang, melainkan mereka alami sendiri. Kegembiraan karena mengalami Tuhan bangkit inilah kebenaran yang tidak tergantikan melebihi nyawa mereka sendiri.


Ya Bapa, kami bersyukur melalui peristiwa kebangkitan Yesus, Engkau menyatakan kebesaran-Mu. Semoga kami penuh dengan kegembiraan dan tak pernah berpaling dari-Mu. Amin.


Sumber Renungan: Ziarah Batin 2021



Mat 28:8-15
Katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.