Bacaan dan Renungan Selasa 29 September 2020, Pekan Biasa XXVI

Seribu kali beribu-ribu orang melayani Dia.

Aku, Daniel, melihat takhta-takhta dipasang, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya. Pakaian-Nya putih seperti salju, dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba. Tahta-Nya dari nyala api, roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar. Suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya. Beribu-ribu melayani Dia, Beratus-ratus ribu berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab. Aku terus melihat dalam penglihatan itu, tampak dari langit bersama awan-gemawan seorang serupa Anak Manusia. Ia menghadap Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dihantar ke hadapan-Nya. Kepada Dia yang serupa Anak Manusia itu diserahkan kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja. Maka segala bangsa, suku dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya kekal adanya, dan kerajaannya tidak akan binasa.

Hari Biasa, Minggu VI Paskah, Selasa | Info Katolik

Ref:Di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu, ya Tuhan.

Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, sebab Engkau mendengarkan kata-kata mulutku;di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagi-Mu.Aku hendak bersujud ke arah bait-Mu yang kudus.Kau hendak memuji nama-Mu,oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu, sebab Kaubuat nama dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan,sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan Tuhan,sebab besar kemuliaan Tuhan.

Pujilah Tuhan, hai segala tentara-Nya,muliakanlah Dia, hai para hamba yang melakukan kehendak-Nya.

Engkau akan melihat malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.

Pada waktu itu Natanael datang kepada Yesus atas ajakan Filipus.Tatkala melihat Natanael datang, Yesus berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Kata Natanael kepada Yesus, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya, “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.” Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Yesus menjawab, kata-Nya, “Karena Aku berkata kepadamu: ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara’, maka engkau percaya? Hal-hal yang lebih besar daripada itu akan kaulihat.” Lalu kata Yesus kepadanya,”Aku berkata kepadamu,sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka,dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Pada tahun pertama pemerintahan raja Belsyazar, Daniel mendapat penglihatan di tempat tidurnya. Tampak empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain. Empat binatang ini menggambarkan bangsa-bangsa kafir yang akan menentang Yang Mahatinggi. Daniel melihat suatu gambaran tentang ancaman bahaya yang besar bagi umat manusia. Ancaman itu sulit dikalahkan karena memiliki kekuatan yang dahsyat.

Di tengah-tengah ketakutan menghadapi kedahsyatan penguasa dunia, Daniel melihat seorang Yang Lanjut Usianya. Ia adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat. Ia adalah Hakim. Ialah yang memberi batas waktu kekuasaan kepada binatang-binatang tersebut. Kemudian akan datang seorang Anak Manusia yang dibawa ke hadapan Yang Lanjut Usia. Segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa akan mengabdi kepada-Nya. Kekuasaan-Nya kekal, tidak akan lenyap, dan kerajaan-Nya tidak akan musnah.

Renungkan: Begitu banyak bahaya yang terasa begitu dekat dan kuat mengancam hidup. Tetapi ada yang lebih kuat yang kita yakini dan percayai, yang kekuatan dan kekuasaan-Nya melebihi semuanya, yaitu Kristus, Sang Anak Manusia, Allah kita.

Kesempitan dalam pengalaman hidup umat Tuhan dapat menjadi alat di tangan Allah untuk membuat umat lebih menyelami kebesaran kasih setia Allah (1-3), lebih paham tentang arah dunia (4-6) dan lebih yakin akan keamanan dirinya (7-8).

Mazmur ucapan syukur ini mengisahkan pengalaman pemazmur ketika dalam kesempitan diselamatkan oleh Allah. Daud menaikkan doanya kepada Allah, dan ia beroleh daya juang baru (lih. 2Sam. 5:17-21). Doa ini dipanjatkan saat Israel masih dalam tahap awal kerajaan yang sangat lemah. Namun pemazmur menjadi yakin, sampai-sampai ia berani bersaksi dihadapan para penguasa dari bangsa yang lebih digdaya (“para allah” – ay. 1). Artinya pemazmur meninggikan kekuasaan Tuhan di hadapan “para hakim/penguasa” bangsa-bangsa yang lebih berkuasa dari Israel (band. ay. 4).

Pemazmur memuji nama Allah karena kasih setia dan kesetiaan Allah kepada janji-Nya (2, 4). Pemazmur sangat sadar bahwa pertolongan yang Allah berikan kepadanya semata-mata hanya karena keberadaan diri Allah. Selain itu juga karena Allah setia kepada janji-Nya. Pemazmur yang menyadari siapa dirinya, tentu saja sangat berterima kasih karena Allah yang “tinggi” bersedia melihat dan menolong dia yang “hina” (6). Suatu hal yang sangat luar biasa bahwa kemegahan Allah diimbangi dengan anugerah yang berlimpah. Tidak mengherankan pemazmur begitu bersemangat memproklamirkan nama dan kesetiaan Allah dan yakin bahwa nantinya semua raja di bumi akan bersyukur kepada Allah (4-5).

Melalui mazmur ini, kita belajar bahwa orang percaya tidak perlu sempit hati pada waktu mengalami kesempitan hidup, demikian juga dengan Gereja Tuhan. Pujilah Allah, bersyukurlah atas kesetiaan-Nya, dan ingatlah bahwa segala kejadian berada di bawah sorotan kuasa dan pemerintahan-Nya; maka Tuhan akan mengubah kesempitan menjadi kesempatan menyelami kasih dan kuasa-Nya secara baru.

Kecenderungan manusia adalah melibatkan diri di dalam kegiatan yang menguntungkan dirinya. Seseorang memilih sekolah bagi pendidikannya, dokter bagi kesehatannya, dan gereja bagi pertumbuhan rohaninya. Ketika Yesus memanggil murid-murid-Nya yang pertama, Ia diperkenalkan penulis Injil Yohanes bukan sebagai pemimpin besar yang sukses melainkan sebagai Anak Domba Allah. Istilah Anak Domba berkaitan dengan kurban. Itu sebabnya, pertama, menjadi murid Yesus bukanlah menjadi pengikut pemimpin “besar” yang sukses. Mengikut Yesus adalah mengikuti orang yang tujuan hidupnya menjadi kurban. Murid Yesus harus siap menderita bahkan sampai mati. Meskipun ada sukacita di dalamnya, namun kerelaan untuk menderita seperti Yesus adalah kualifikasi utama menjadi murid-Nya. Kedua, dalam interaksi dengan para murid-Nya, Yesus adalah guru yang baik. Andreas (ayat 40), Filipus (ayat 45), dan Natanael (ayat 49) mengatakan bahwa mereka telah menemukan Mesias yang dinubuatkan PL. Murid-murid itu mengenali identitas gurunya. Yesus bukan hanya mengajar, namun secara mengejutkan Ia mengajak murid-murid itu tinggal bersama-Nya untuk menyaksikan seluruh kehidupan-Nya (ayat 39). Dalam pemuridan, pengetahuan tentang iman penting, tetapi tanpa keteladanan berarti sia-sia. Ketiga, Yesus aktif mencari murid (ayat 43). Yesus mengamati dan memperhatikan sebelum Ia memilih (ayat 48). Keempat, pemuridan yang sukses terjadi jika ada pelipatgandaan. Yesus memuridkan Andreas, lalu Andreas membawa Simon dan Filipus membawa Natanael. Pemuridan melatih orang memuridkan orang lain, bukan menjadikannya pengikut pasif.

Kita telah menjadi murid Tuhan karena para pendahulu kita menerapkan prinsip pemuridan. Sekarang obor tugas pemuridan itu berada di tangan kita untuk disampaikan kepada penerus kita.

Renungkan: Sudahkah Anda menjadi murid Yesus yang memuridkan orang lain?

DOA: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah semesta alam. Dengan penuh ketakjuban dan hormat, kami semua sujud menyembah Engkau dalam kemuliaan-Mu. Perkenankanlah suara kami bergabung dengan paduan suara surgawi para malaikat dalam memuji-muji kemuliaan-Mu. Amin.

Baca sumber renungan harian Katolik disini

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.