Bacaan dan Renungan Selasa 28 Januari 2020, Pekan Biasa III, PW St. Tomas dari Aquino, Imam dan Pujangga Gereja

“Daud dan segenap orang Israel mengarak tabut perjanjian dengan sorak-sorai.”


6:12b Pada waktu itu Daud pergi mengangkut tabut Allah dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. 6:13 Setiap kali para pengangkat-pengangkat tabut Tuhan itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. 6:14 Dan Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. 6:15 Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut Tuhan itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.
6:17 Tabut Tuhan itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan Tuhan. 6:18 Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama Tuhan semesta alam. 6:19 Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya.



Refren: Siapakah itu raja kemuliaan? Tuhanlah raja kemuliaan.

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan yang perkasa dalam peperangan!Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!

Terpujilah Engkau, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana



Barangsiapa melaksanakan kehendak Allah, dialah saudara-Ku.


3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. 3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” 3:33 Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” 3:34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 3:35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”


Imanuel Allah beserta kita. Allah hadir dan berkarya di tengah kehidupan ini. Ia dekat dan mengenal umat-Nya. Ia tahu dan memberikan apa yang diperlukan umat-Nya. Allah telah menciptakan manusia dengan satu kebutuhan hakiki, yaitu bersekutu dengan-Nya, menyembah Dia, dan mengalami hadirat-Nya. Dalam Perjanjian Lama Allah hadir di tengah umat-Nya dalam berbagai lambang berarti. Di antaranya melalui tabut perjanjian. Apa yang hanya berupa lambang itu sudah cukup untuk menjadi alasan bagi Daud dan rakyat mensyukuri Allah dengan kesukaan tak terkatakan. Lebih lagi sesudah Tuhan Yesus datang. Dalam Tuhan Yesus, yang melayani, mengajar, melakukan mukjizat, mati dan bangkit, Allah hadir untuk menyelamatkan kita. Hati yang terbuka untuk bertumbuh dalam iman kepada Kristus adalah langkah awal untuk menerima kehadiran Allah.


Menerima kehadiran-Nya. Di dalam hukum Taurat, Allah telah menetapkan bahwa orang yang diuntukkan bagi tugas mengangkat tabut harus menguduskan diri terlebih dahulu. Tugas tersebut adalah kehormatan yang hanya dipercayakan pada anggota suku Lewi. Karena aturan tersebut diabaikan. proses pemindahan tabut itu kemudian terhenti. Bahkan lebih buruk lagi, Uza yang telah berlaku teledor meski dengan tujuan baik, harus mati.


Allah adalah Allah yang kudus. Menerima kehadiran-Nya tidak dapat dilakukan tanpa sikap kesungguhan atau sembarangan (ayat 7) Jika kita berharap Tuhan hadir memberkati hidup ini, selayaknya kita menyelaraskan segenap hidup seturut kehendak-Nya. Ia tidak berkenan jika kita hanya memberi-Nya tempat dalam hati, sementara dosa merajalela dalam pikiran dan perbuatan kita.
Semakin penting dan mulia sesuatu, bukankah wajar bila kita semakin berhati-hati pula?


Sejarah Israel penuh dengan kesaksian akan keperkasaan Tuhan dalam mengalahkan musuh-musuh umat-Nya. Baik pada periode kisah Keluaran, saat menaklukkan tanah Kanaan, maupun ketika dirongrong oleh berbagai bangsa di sekitar wilayah mereka, Tuhan membuktikan bahwa diri-Nya adalah Raja mereka. Bahkan lebih dari itu, Tuhan adalah Raja atas seluruh bumi dan isinya, karena Dialah pencipta dan pemilik semua itu (ayat 1-2).


Peristiwa apa saja yang memperlihatkan bahwa Tuhan adalah Raja atas Israel? Pertama, saat Allah, dengan kuasa-Nya, membuat Israel menyeberangi laut Teberau dengan selamat. Musuh mereka, yaitu Firaun serta pasukan Mesir, Tuhan tenggelamkan di laut itu (Kel. 14). Maka pujian dikumandangkan (Kel. 15:1-18) dan Tuhan dimuliakan sebagai Raja pemenang yang memerintah selama-lamanya (ayat 18). Namun saat itu Israel belum tinggal di tanah Perjanjian. Kedua, saat Israel telah menikmati kemerdekaan secara penuh di bawah kepemimpinan Daud. Bagi Daud, Tuhan adalah sumber kemenangannya. Dengan memindahkan Tabut Perjanjian, yang melambangkan takhta Allah, ke ibu kota Israel, Daud menyatakan bahwa Tuhanlah Raja Israel (ayat 2Sam. 6). Prosesi melewati pintu gerbang kota suci inilah yang kemiudian hari dirayakan dengan mengumandangkan Mazmur 24. Tentu, hanya mereka yang sungguh-sungguh tulus hati, yang layak menyembah Dia dan diperkenan oleh-Nya (ayat 3-6).


Berbagai perayaan gerejani, termasuk Kenaikan Tuhan Yesus bisa menjadi peristiwa penting untuk mengingat dan menyatakan Kristus sebagai Raja Gereja dan dunia serta segala isinya. Dialah yang sudah datang untuk bertakhta di hati orang percaya, untuk memerintah umat-Nya, dan untuk menyatakan kedaulatan dan keperkasaan atas para musuh-Nya. Dengan hidup dalam ketulusan hati serta kejujuran dan keadilan perilaku, umat Tuhan merajakan Kristus Yesus dalam hidup mereka dan menjadi kesaksian bagi orang yang belum percaya.


Orang Yahudi menjunjung tinggi nilai sebuah keluarga, yakni hubungan yang terbentuk karena adanya ikatan/pertalian darah di dalamnya. Kita pun, yang dibesarkan dalam budaya timur, memiliki pandangan demikian. Hubungan darah dianggap lebih kental dibanding hubungan lain.
Namun dalam bacaan hari ini, Yesus seolah merendahkan nilai hubungan keluarga (ayat 32-33). Benarkah? Tak sepenuhnya. Yang Yesus maksud, meski hubungan keluarga penting, tetapi tidak membuat orang secara otomatis mengenal Yesus. Kita perhatikan bahwa keluarga-Nya menganggap Dia tidak waras (Mrk. 2:31). Maka menurut Yesus, hubungan di antara orang-orang yang melakukan kehendak Allah bersifat abadi (ayat 35). Hubungan ini terdapat di antara orang-orang yang berorientasi pada Allah. Yaitu orang yang mengikut Dia, mendengar ajaran-Nya, dan mementingkan kehendak-Nya. Inilah basis fundamental keluarga Allah. Orang yang memiliki prioritas seperti itulah, yang disebut Yesus sebagai saudara-Nya laki-laki, saudara-Nya perempuan, dan ibu-Nya (ayat 35).


Tekanan utama terletak pada kata “melakukan” kehendak Allah. Jadi bukan hanya orang yang menyebut diri sebagai murid, yang secara otomatis akan menjadi anggota keluarga Allah. Yang benar-benar pas disebut murid ialah mereka yang konsekuen mengikut Dia dan sungguh-sungguh menjadi pelaku kehendak Allah.


Kita, yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus, harus bercermin dan introspeksi diri: sudahkah kita memprioritaskan kehendak Allah dalam hidup kita. Karena menjadi Kristen/Katolik bukan sekadar menunjukkan identitas dengan pergi ke gereja setiap minggu dan hidup sebagai orang baik-baik. Menjadi Kristen berarti membiarkan Tuhan menduduki tempat pertama dalam hidup kita. Juga berarti memprioritaskan kehendak-Nya. Bahkan jika itu harus mengorbankan segala hasrat dan cita-cita kita. Memang tidak mudah. Namun Roh Kudus akan memberi kita kekuatan. Dan saat itulah kita akan menunjukkan kesejatian kita sebagai anggota keluarga Allah.


DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau membawa kepadaku iman kepada Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus, perdalamlah imanku. Ajarlah aku lebih dan lebih lagi tentang Ysus sehingga dengan demikian aku dapat mengasihi-Nya dengan lebih lagi. Terpujilah Engkau, ya Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin. (Lucas Margono)


28 Jan 2020


View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.