Bacaan dan Renungan Selasa 25 Februari 2020, Pekan Biasa VII

Kalian berdoa, tetapi tidak menerima apa-apa,karena kalian salah berdoa.


Saudara-saudara terkasih,dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kalian?Bukankah dari hawa nafsumu yang saling bergulat dalam dirimu? Kalian menginginkan sesuatu tetapi tidak memperolehnya,lalu kalian membunuh. Kalian iri hati tetapi Kalian tidak sampai ke tujuan,lalu kalian bertengkar dan berkelahi.Kalian tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa.Atau kalian berdoa juga,tetapi tidak menerima apa-apa,karena kalian salah berdoa,sebab yang kalian minta akan kalian gunakan untuk memuaskan hawa nafsu.


Hai kamu, orang-orang yang tidak setia!Tidakkah kalian tahu,bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini,ia menjadikan dirinya musuh Allah.Janganlah kalian menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata,”Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita,diingini-Nya dengan cemburu!”Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan Allah kepada kita,lebih besar dari pada itu.Sebab itu Ia berkata,”Allah menentang orang yang congkak,tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”


Maka dari itu tunduklah kepada Allah!Lawanlah Iblis, maka ia akan lari daripadamu.Dekatilah Allah, maka Allah akan mendekati kalian.Tahirkanlah tanganmu, hai kalian orang-orang berdosa!Sucikanlah hatimu, hai kalian yang mendua hati!Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah!Hendaklah tertawamu kalian ganti dengan ratap,dan sukacitamu dengan dukacita.Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan,dan Ia akan meninggikan kalian.



Ref: Serahkanlah bebanmu kepada Tuhan,maka Ia menopang engkau.

Pikirku, “Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati,aku akan terbang dan mencari tempat tenang;aku akan lari jauh-jauh dan bermalam di padang gurun.Aku akan segera mencari tempat perlindungan terhadap angin ribut dan badai.”
Bingungkanlah mereka, ya Tuhan,kacaukanlah percakapan mereka.Sebab aku melihat kekerasan dan perbantahan di dalam kota!Siang malam mereka mengelilingi kota itu berjalan di atas tembok-temboknya.Serahkanlah bebanmu kepada Tuhan,maka Ia akan menopang engkau!Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Tiada yang kubanggakan, selain salib Tuhan.Karenanya dunia tersalib bagiku dan aku bagi dunia.



Barangsiapa ingin menjadi yang pertama,hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya.


Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya melintasi Galilea.Yesus tidak mau hal itu diketahui orang,sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya.Ia berkata kepada mereka,”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia,dan mereka akan membunuh Dia.Tetapi tiga hari setelah dibunuh, Ia akan bangkit.”Mereka tidak mengerti perkataan itu,namun segan menanyakannya kepada Yesus.Kemudian Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum.Ketika sudah berada di rumah Yesus bertanya kepada para murid itu,”Apa yang kalian perbincangkan tadi di jalan?”Tetapi mereka diam saja,sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka,”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu,hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan semuanya.”


Yesus lalu mengambil seorang anak kecil ke tengah-tengah mereka.Kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka,”Barangsiapa menerima seorang anak seperti ini demi nama-Ku,ia menerima Aku.Dan barangsiapa menerima Aku, sebenarnya bukan Aku yang mereka terima,melainkan Dia yang mengutus Aku.”


Menjadi Kristen bukan berarti segala hawa nafsu dan keinginan kita dimatikan. Justru sebaliknya ketika kita mengambil keputusan menjadi orang Kristen maka kita mendapatkan dua musuh yang kuat dan tangguh: nafsu kedagingan yang semakin menentang iman kekristenan di dalam diri kita (dalam) dan hal-hal dunia yang berusaha mempengaruhi kita (luar).


Seorang yang memberikan kebebasan kepada nafsu kedagingan untuk memutuskan segala sesuatu akan mengakibatkan terjadinya berbagai kejahatan dunia, seperti: pertengkaran, pertikaian, pembunuhan,dan penghancuran (1-2). Bahkan lebih lagi, doa yang seharusnya menjadi sarana komunikasi kepada Allah dapat disalahgunakan demi kepuasan nafsu (3). Beberapa contoh berikut merupakan gambaran bagi kita: semula ingin minta uang, tetapi karena tidak terpenuhi akhirnya mata gelap kemudian membunuh; semula hanya ingin berkenalan, tetapi karena tidak ditanggapi, merasa dilecehkan, maka terjadilah perkosaan; dan masih banyak lagi contoh- contoh lainnya. Inilah dampak mengerikan yang terjadi di sekitar kita bila manusia tidak dapat mengendalikan keinginan-keinginannya. Dari sini kita mendapatkan peringatan bahwa segala keinginan yang didasari nafsu akan berakibat negatif, merugikan dan menghancurkan orang lain dan diri sendiri.


Kedua musuh di atas harus ditaklukkan. Bagaimana caranya? Pertama, kita harus menyadari bahwa nafsu kedagingan dan hal-hal dunia bertentangan dengan Allah (4). Mencintai dan memuaskan keinginan duniawi berarti menentang Allah. Kedua, Roh-Nya telah dianugerahkan-Nya di dalam diri kita untuk membekali kita menghadapi musuh (5). Dengan demikian bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi musuh-musuh kita, baik dari dalam maupun dari luar?



Renungkan: Sejak kapan pun dan sampai kapan pun, dunia adalah musuh Allah yang tidak mungkin dikompromikan. Kedekatan kita kepada salah satunya menjadikan kita musuh bagi yang lainnya. Kitalah penentu pilihan tersebut dan kita pulalah yang menanggung risiko dari keputusan kita. Sikap manakah yang Anda pilih: cinta dunia dengan segala kenikmatan yang ditawarkan ataukah sikap tegas pada Iblis tanpa kompromi. Sikap kedualah sikap seorang sahabat Allah!


Hidup ini sarat dengan berbagai masalah. Di bagian awal, Pemazmur mengungkapkan bahwa ada fakta yang tak dapat manusia sangkal, yaitu manusia tidak berdaya menghadapi dan mengatasi sendiri berbagai masalah dalam hidup ini Iayat 2-9). Dalam kehidupan iman ada tempat untuk mengungkapkan tawa dan tangis, tabah dan takut, kasih dan kecewa. Tuhan menciptakan manusia dengan perasaan. Itulah sebabnya Tuhan bersedia mengerti berbagai perasaan manusia yang timbul dalam beragam perjalanan pengalaman hidup.


Keputusan Allah. Dalam ayat 10-16, tampak bahwa Daud memohon agar Tuhan membalas musuh-musuhnya. Apa alasan Daud menaikkan permohonan tersebut dalam doanya? Kemarahan dan keinginan Daud untuk menegakkan kebenaran! Dalam ayat selanjutnya menjadi jelas, bahwa Daud tidak memaksakan kehendaknya tetapi menyerahkan masalahnya kepada Tuhan (ayat 23). Pada langkah ini, kita sering berbeda dari Daud. Kita harus meneladani sikap doa Daud, berdoa bukan atas dasar keinginan menghakimi sendiri tetapi mempercayakan setiap masalah dan pergumulan hidup kepada Hakim yang berhak menghakimi dan adil.


Malu bertanya, sesat di jalan. Itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus. Walau tidak mengerti perkataan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, mereka enggan bertanya (ayat 32). Akibatnya mereka sesat. Ini tampak dari topik pembicaraan mereka kemudian, yaitu tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Ironis bukan? Mereka mengira bahwa Yesus akan menjadi raja besar. Dan orang yang terbesar dari antara para murid, tentu akan diberi jabatan terbesar dalam kerajaan yang akan didirikan Sang Guru. Maka Yesus mengajar mereka bahwa kebesaran dalam kerajaan-Nya tergantung dari kesediaan orang untuk melayani orang lain. Bahkan meski yang dilayani itu adalah seorang anak (ayat 36). Dalam budaya Yahudi, anak tidak dianggap penting.


Pandangan Yesus berbeda dari pandangan dunia yang menganggap bahwa kebesaran ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melayani kita. Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas, dan kekayaan. Ambisi dunia adalah menerima perhatian dan penghargaan. Lalu salahkah berambisi menjadi orang besar? Bukan demikian. Yesus ingin meluruskan pandangan bahwa kebesaran adalah menjadi orang pertama, sementara orang lain menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya. Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya kita dimuliakan. Kebesaran adalah menempatkan diri kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Misalnya seorang dokter. Ia dianggap besar bukan karena ia seorang spesialis yang bekerja di rumah sakit mahal. Atau karena ia sering menjadi pembicara di seminar-seminar kesehatan. Ia dianggap besar bila ia juga menyediakan waktunya untuk menangani orang miskin.


Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus. Apa solusinya? Milikilah hati seorang hamba. Bersiaplah mengutamakan orang lain dan merendahkan diri sendiri. Ingatlah bahwa Yesus rela dianggap tak berarti dan memikul salib bagi kita.


DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Bentuklah hatiku agar aku menemukan sukacita dalam melayani orang-orang lain, seperti juga Engkau sangat bersukacita dalam memperhatikan diriku. Amin. (Lucas Margono)


25 FEB 2020


View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.